
"Selamat datang Tuan Jeno."
"Terima kasih, maaf jika sudah menunggu lama."
" Tidak apa-apa, saya juga baru saja sampai, silahkan duduk." Kata pria berkemeja bludru berwarna navy, dengan jam tangan merk terkenal, rambut klimis yang menawan, dan tak lupa celana hitam, dipadukan dengan sepatu fantovel yang mengkilap menambah kesan mewah seperti pangeran kerajaan. Dia, Direktur Roni Hendrawan CEO perusahaan IT yang tidak perlu diragukan lagi kecanggihan teknologi dan terbesar di kota ini. Keluarga Hendrawan juga tak kalah kaya dengan Keluarga Lee meskipun dengan bisnis yang berbeda. Keluarga Hendrawan bergerak pada bidang Teknologi masa kini sedangkan Keluarga Lee bergerak pada Properti.
Melakukan kerja sama bisnis sangat menguntungkan bagi keduanya. Menambah pundi-pundi kekayaan dan menambah keakraban tentunya.
"Terima kasih, Tuan Roni atas kehadirannya dan memberi saya kesempatan untuk kerja sama ini." Kata Jeno.
"Sama-sama Tuan, saya juga berterima kasih. Suatu kebanggaan bagi perusahaan saya untuk bekerja sama dengan perusahaan Jeno's Lee"
"Anda terlalu berlebihan Tuan, justru saya yang merasa bangga bisa bekerja sama dengan perusahaan IT yang ditakuti banyak orang." Jawab Jeno asal
"Man, berikan proposal kerja samanya untuk Tuan Roni." Imbuh Jeno memberi perintah pada sekertarisnya.
"Baik Tuan, ini Tuan proposalnya dan silahkan untuk diteliti terlebih dahulu." Kata Sekertaris Arman sambil memberikan proposalnya diatas meja.
"Leo coba kau teliti berkas itu, jika sesuai dengan persyaratan maka terima kerja sama itu, dan segera ajukan perjanjian milik kita." Kata Reno pada sekertarisnya.
"Baik Tuan, segera saya laksanakan." Jawab Leo segera meraih map tersebut dan segera membacanya.
"Semoga kerja sama ini menguntungkan bagi kita, dan terima kasih untuk jamuanya Tuan." Kata Roni sambil berjabat tangan dengan Jeno.
Dengan senyum yang menawan dan jabatan tangan Jeno menjawabnya
"Sama-sama terima kasih untuk kesempatan yang diberikan, saya akan mengusahakan yang terbaik untuk kerja sama ini."
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit undur diri. Ayo Leo kita pulang." Kata Roni sambil melangkah keluar dari ruang VIP Resto diikuti Leo sang sekertaris.
"Akhirnya kerja sama ini berjalan dengan baik Man, semoga kedepannya kita bisa bekerja sama lagi dengan perusahaan Roni."
"Iya Tuan, semoga saja." Jawab Arman sambil membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
"Kenapa kau membukakan pintu untukku? Aku kan bisa membuka pintu sendiri." Jawab Jeno ketus
"kenapa lagi Tuhan dengan orang ini, apa dia belum minum juga? atau dia makan makanan yang salah hari ini?" batin Arman.
"Maaf Tuan." Jawab Arman dengan singkat agar tak menjadi panjang urusannya. Kalau dia jawab panjang nanti jadinya panjang x lebar sama dengan keliling.
"Pulang ke rumah Man sudah sore, dan sepertinya tidak ada lagi kerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat."
"Baik Tuan."
Mobil itu melaju meninggalkan parkiran dan segera menuju massion Keluarga Lee. Melewati jalan yang ramai lalu lintas, kendaraan yang lalu lalang yang padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor. Dimana jam-jam tersebut orang berlomba-lomba untuk segera sampai rumah, melepaskan penat setelah bekerja seharian. Ketika mobil berhenti pada lampu merah, Jeno tidak sengaja melihat anak laki-laki yang sedang berjualan tahu sumedang. Anak laki-laki dengan sendal jepit warna merah, memakai topi untuk menghalangi sinar matahari yang terik, tak lupa tentengan bungkusan tahu di kanan dan kiri tangannya.
"Oy dek!" Kata Jeno dengan suara keras
manggil orang kaya manggil ngajak ribut ya wak
Anak laki-laki itu hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, menunjukkan raut muka yang bingung
"tuan Jeno manggil pedagang kaya rentenir nagih utang. jelas saja anak itu tak mendekat." Batin Arman
"Hay adik ganteng, mendekatlah kemari. Aku ingin membelinya." Kata Jeno dengan melambaikan tangan pada penjual tahu
"Ah iya tuan sebentar".
"Kenapa tadi kau tidak langsung mendekat?" Tanya Jeno pada anak itu
"Ma-maaf tuan saya tidak mendengarnya." Jawab anak itu sambil menunduk
" Padahal aku sudah memanggilmu dengan suara keras, ya kan Man?"
"bukan suara keras lagi tuan, tapi lebih mirip suara singa." batin Arman. "Iya Tuan, tadi sudah memanggilnya dengan suara tinggi, mungkin suara bising kendaraan jadi anak itu tidak mendengarnya." Kata Arman memberi jawaban
"Ah iyaa kamu benar Man, berapa semua tahu ini?"
Tanya Jeno pada anak penjual tahu
"Semuanya enam puluh lima ribu Tuan, tinggal empat belas bungkus. satu bungkusnya lima ribu" Jawab penjual tahu dengan sopan
"Kalau begitu aku beli semuanya, enam puluh saja ya. Tidak perlu lima ribu lagi." Kata Jeno
"pakai mobil mewah baju bagus jam tangan bagus tapi minta diskon goceng bonus sebungkus lagi." gumam anak itu
"Baik Tuan tidak apa-apa, sudah sore juga." Kata penjual tahu itu sambil memasukkan bungkusan tahu kedalam tas kresek hitam dan menyerahkannya pada Jeno.
"Ini tuan tahunya."
Jeno menerima bungkusan tahu itu dan mengeluarkan lima lembar pecahan seratus dan memberikannya pada penjual tahu.
"Ini untukmu. Semangat berjualan tapi jangan lupa untuk belajar dengan giat ya, supaya pintar dan menjadi orang sukses. Ayo jalan Arman lampunya sudah hijau."
"Baik Tuan."
Belum juga penjual tahu menjawabnya mobil Jeno sudah melesat jauh kedepan.
"Terima kasih orang baik, aku kira kamu tidak punya uang receh untuk membeli tahuku. Ternyata salah. Alhamdulillah, Ayah Ibu ada rezeki untuk kalian. Terima kasih Ya Allah." Kata anak itu sambil mengucap syukur.
"tidak aku duga ternyata tuan memberinya uang lebih. aku kira dia akan pelit." batin Arman.
Jeno yang merasa ada yang memperhatikannya langsung menanyakannya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? aku tau kalau tampan, kau tidak perlu meilhatku seperti itu dan perlu kamu ingat aku masih normal jadi buang jauh-jauh kalau kau ingin memiliku." kata Jeno dengan penekanan
"Tidak tuan, saya hanya melihat bungkusan tahu itu saja." Jawab Arman dengan tegas
"Oh ini?" Tanya Jeno sambil mengangkat bungkusan tahu itu "Makanlah kalau kau mau, nanti bagi pada orang rumah, jangan kau habiskan untukmu sendiri".
"Baik Tuan."
Tenyata Jeno baik juga ya walaupun sedikit narsis orangnya. Tingkat percaya dirinya terlalu tinggi wak. Jadi biarkan saja.
"Silahkan Tuan."
"Terima kasih Man, ini tahunya makanlah dan bagi juga untuk orang rumah, aku mau keatas." Kata Jeno sambil memberikan tahu dan segera masuk.
"Baik Tuan, terima kasih. Selamat beristirahat." jawab Jeno sambil membungkuk
Jeno tak menjawabnya hanya mengangkat tangganya dan langsung menuju kekamarnya.