Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 28



"Udah mendingan?" Tanya Lily pada Jeno yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Ya, aku sudah lebih baik. Untuk apa aku berlama-lama di kasur, membuatku bosan". Kata Jeno melanjutkan sarapan.


Keluarga itu menikmati sarapam dengan tenang, mungkin Jeno belum ada tenaga banyak untuk sekedar meledek, atau menjahili Lily. Setelah selesai, Lily dan Jeno berangkat ke Kantornya masing-masing, Roy dan Arman ternyata sudah menunggu mereka di depan.


"Jaga dia untukku" Kata Lily pada Sekertaris Arman


"Baik, Nona" Jawab Sekertaris Arman yang segera masuk ke mobil dan mulai pergi meninggalkan pekarangan masion.


"Apa sudah ada info dari Arjun?" Tanya Lily di sela perjalanan.


"Mereka sedang mencarinya Nona, saya harap tidak butuh waktu lama" Jawab Roy yang segera menepikan mobil di depan Kantor.


"Silahkan Nona" Roy membuka pintu mobil dan mempersilahkan Lily untuk masuk ke dalam.


"Terima kasih Roy, ayo segera ke ruang meeting" Ajak Lily menuju ruang meeting bersama Roy, untuk membahas pelaunchingan berlian yang dinanti, bersama para setiap divisi dan tak lupa Rama sebagai investor tertinggi dalam kerja sama. Selain Rama ingin melebarkan eksistensi dengan Perusahaan lain, tentunya juga untuk mendekati Lily. Sekali dayung dua pulau terlampaui, memang otaknya cerdas ya wak masalah cewek.


"Selamat pagi semua" Kata Roy memulai meeting. "Oke, mari kita mulai saja untuk meeting hari ini yang akan dipimpin langsung oleh Nona Lily sendiri, silahkan Nona" Imbuhnya sambil memberikan tempat dan waktu untuk Lily memimpin meeting hari ini.


"Terima kasih Roy, oke semuanya saya akan memulai meeting hari ini. Selamat bergabung pada para investor yang berkenan dalam kerja sama ini. Semoga hasilnya memuaskan bagi kita semua".


Lily menjabarkan beberapa model berlian yang akan ia produksi dan jual, semuanya limited edition, memiliki model yang unik dengan filosofinya masing-masing. Bukan semata untuk perhiasaan saja, ia juga ingin berliannya ini membuat orang yang membeli merasa bangga dan mempunyai sifat memiliki dengan apa yang ia punya. Satu jam setengah Lily menjabarkan semuanya, dan tak lupa setiap ketua divisi menambahkan beberapa hal yang lebih mendetail untuk meyakinkan para investor yang hadir. Para investor merasa kagum dengan penjabaran Lily, seperti Rama yang tak melepaskan pandangannya dari Lily.


"kenapa dia cantik sekali. tak bosan aku memandanginya" batin Rama dengan senyum merekah.


"Sekian presentasi dari saya hari ini, terima kasih atas waktu Tuan dan Nyonya berkenan hadir. Semoga kerja sama ini dapat berjalan dengan baik" Lily mengakhiri presentasinya dengan membungkuk, orang yang hadir terkesima dengan presentasi Lily dan bertepuk tangan. Setelah selesai, semua kembali ke aktifitasnya masing-masing. Tak terkecuali Rama yang masih nyaman di kursinya kini.


"Astaga Bos, kenapa dia masih duduk saja. Ayolah Bos bangun" batin Marvel yang bingung melihat bosnya masih diam di kursinya.


"Mari Tuan" Ajak Marvel pada Rama.


Rama beranjak dari kursinya, Marvel pikir ia akan keluar dari ruangan itu, ternyata Rama mendekat ke arah Lily.


"Astaga Tuan, dia mau apalagi?" batin Marvel tak habis pikir dengan Rama.


"Selamat Nona Lily, saya harap kerja sama ini berlangsung dengan baik dan mendapatkan keuntungan bagi kita". Kata Rama mengajak Lily berjabat tangan.


"Terima kasih Tuan, saya harap juga begitu. Terima kasih sudah berkenan untuk kerja sama ini. Saya kira Tuan tidak tertarik dengan perhiasan" Kata Lily menerima tangan Rama


"Kalau begitu saya permisi dulu, mari" Kata Rama meninggalkan ruangan tersebut. Marvel segera mengikuti Rama dari belakang yang sebelumnya memberi hormat pada Lily.


Prok Prok Prok. Suara tepuk tangan dari arah tangga, semua menoleh ke sumber suara.


"Akhirnya kau datang juga" Kata Lily duduk di kursi kebesarannya.


Pria itu tak menjawabnya, hanya rasa benci yang ia rasakan. Laura dan Deo berdiri di sampingnya, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba meyelimuti ruangan


"Sepertinya akan ada sesuatu disini, membuatku merinding" batin Deo. Laura hanya bersikap biasa saja.


"Sesuai yang kau perintahkan, aku membawa bajingan ini padamu" Kata Laura


"Ya, aku tau. Tapi ada satu hal lagi yang harus kai kerjakan" Kata Lily memberi kode pada Arjun dengan menaikkan jarinya. Arjun yang tau segera mengambil pistol dan menyerahkan pada Lily.


"Bunuh dia, aku tak mau mengotori tanganku untuk bedebah seperti dia" Lily bangkit dari kursi dan memberikan pistol pada Laura. Deo bergidik ngeri saat Laura menerima pistol itu. Ia tak bisa membayangkan kalau Laura akan membunuh seseorang.


"Baik, akan aku lakukan. Untuk kematian adikku, penghianatan, dan salah paham selama ini" Laura menarik pelatuk pistol tersebut mengarahkan ke kepala pria itu.


"Laura, kenapa kau ingin membunuhku? Bukankah kau mencintaiku? Aku tau kalau kau masih mencintaiku". Kata pria itu dengan percaya diri.


"Hahaha, cinta? Itu dulu. Dan aku tidak menyangka akan jatuh cinta pada sampah sepertimu. Kau harus mati, kau yang membuat adikku bunuh diri, kau harus menerima akibatnya" Laura segera menembak ke pria itu


Dorr Dorr Dorr!! timah panas menembus ke kepala,dada dan juga kaki pria itu. Bau anyir darah segera tercium di ruangan itu, Laura yang belum puas, menambah tembakan sekali lagi ke arah jantung pria itu. Tewas seketika, tentu saja karena mengenai jantung pria itu. Laura merasa puas dengan apa yang ia lakukan, meskipun harus membunuh orang, setidaknya itu setimpal dengan apa yang dilakukan pria itu.


"Urus mayat ini, dan bersihkan ruangan ini. Aku harap tidak ada salah paham lagi diantara kita. Satu lagi aku harap kita tak bertemu lagi untuk kesekian kalinya, kalian boleh pergi" Kata Lily meninggalkan ruangan itu.


"Maaf untuk semuanya Ly, aku akan pergi jauh darimu. Terima kasih untuk semuanya" Kata Laura pergi dari markas dengan Deo.


"ternyata Laura hebat juga menggunakan pistol, jadi ngeri kalau ia menembakku" gumam Deo yang seketika bulu romanya berdiri, bergidik ngeri kalau itu benar terjadi.


"Akhirnya selesai juga masalah ini" Lily merasa lega karena permasalahannya selesai


"Iya Nona, saya harap tidak ada masalah lagi dikemudian hari" Kata Roy membukakan pintu untuk Lily.


"Ayo pulang Roy, aku ingin segera berendam" Ajak Lily


"Baik Nona, mari" Roy segera menjalankan mobil menuju masion.


Acara pelaunchingan berlian milik Lily