Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 31



"Kita mau kemana Tuan?" Tanya Marvel pada Rama


"Perusahaan Lily." Jawabnya yang masih fokus pada gadgetnya


"Hari ini tidak ada agenda apa-apa kan Tuan." Tanyanya yang masih bingung


"Aku hanya ingin berkunjung saja kesana, nanti beli bunga mawar di depan sana." Imbuhnya


"Baik, Tuan." Marvel melanjutkan mobilnya menyusuri jalan raya yang masih padat dengan lalu lalang kendaraan. Setengah perjalanan, Marvel segera membeli buket mawar sesuai perintah Rama. Mereka segera melaju ke Perusahaan Lily.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Sekertaris Lily


"Aku ingin bertemu dengan Nona Lily." Jawab Rama


"Tunggu sebentar, saya akan menelfon terlebih dahulu. Silahkan Tuan untuk menunggu." Kata Sekertaris yang segera menelfon keruangan Lily.


"Silahkan masuk Tuan, Nona Lily menunggu di dalam." Kata Sekertaris sambil membukakan pintu ruangan. Lily yang sedang memeriksa laporan segera berdiri menyambut tamunya.


"Selamat datang Tuan Rama. Silahkan duduk." Lily mempersilahkan Rama duduk di sofa. "Tumben sekali Tuan datang kemari, apakah berhubungan dengan kerja sama kita?" Tanya Lily yang heran Rama datang ke Perusahaanya, padahal tidak ada agenda meeting atau apapun.


"Aku hanya mampir saja. Ah iya, ini aku membawa buket mawar untukmu. Aku harap kau menyukainya." Kata Rama sambil menyerahkan buket mawar ke Lily.


"Terima kasih Tuan, tak perlu repot-repot membawa bunga segala." Kata Lily menerima buket bunga itu dan menyerahkan ke Roy untuk ditaruh dimeja belakang kursi Lily.


"Kalau begitu aku pamit dulu. Ayo Marvel ke Perusahaan." Ajak Rama


"Baik, Tuan." Jawab Marvel


"Terima kasih Tuan sudah berkunjung kemari. Lebih baik berkunjung kemari jika ada meeting atau hal yang berhubungan dengan kerja sama." Lily mengantar Rama dan Marvel ke depan.


"Hahaha, tak apa. Aku senang kemari karena bisa bertemu denganmu." Jawab Rama sambil tertawa.


"Hati-hati dijalan Tuan."


"Oke. Terima kasih."


Lily kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda. Sebelum ia masuk ke ruangan, ia berpesan pada Sekertarisnya untuk mengatakan Lily sedang sibuk bekerja dan tidak bisa diganggu kalau Rama datang kembali, kalau ia mau menunggu ya terserah dia mampu bertahan berapa lama. Lily tak ingin terlalu mencampuri urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Ia masih enggan untuk membuka hatinya untuk siapapun.


"Sepertinya Tuan Rama menyukai Nona Lily, semoga ia tulus menyukai dan tidak membuatnya terluka" doa Roy dalam hati.


"Roy, apa kau sudah mendapatkan info dari Arjun tentang gerakan musuh?" Tanya Lily saat perjalanan pulang ke mansion.


"Belum ada Nona." Jawab Roy


"Ayo kita ke markas dulu." Ajak Lily. Roy segera memutar arah mobil untuk pergi ke markas. Setelah perjalanan yang cukup lama, mereka sampai di markas dan segera masuk kedalam. Disana sudah banyak anak buahnya yang sedang duduk ditempatnya masing-masing, melihat kedatangan Lily mereka segera berdiri dan memberi hormat padanya.


"Dimana Arjun?" Tanya Lily yang sudah duduk dan mencari dimana Arjun berada.


"Pasti sedang molor tuh anak. Panggil dia untuk turun kebawah, kalau dia tak mau bangun seret saja kesini." Perintah Lily


"Baik, Nona." Tono segera naik keatas untuk membangungnnya Arjun. Si tukang molor yang tidak tau tempat dan waktu. Kadang ia harus disiram air atau teriak di telingannya agar ia bangun dengan segera. Tono masuk kedalam kamar dan ya benar saja, Arjun masih terlelap di tidurnya, segera saja ia membangunkan Arjun untuk turun kebawah.


"Iya iya, ini bangun. Ayo turun." Kata Arjun sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Dengan langkah gontai ia turun kebawah untuk menemui Lily.


"Lily, kenapa kau mengganggu waktu tidurku sih." Kata Arjun yang masih menguap


"Dasar kebo. Ini bukan waktunya tidur. Apa yang kau lakukan semalam ha? Jam segini masih molor." Tanya Lily


"Aku semalam memantau dengan Ezron. Makanya aku ngantuk." Bela Arjun


"Apa yang kau liat?" Tanya Lily


"Sepertinya mereka sedang mempersiapkan senjata baru. Anak buahnya juga melakukan latihan beda diri. Apa kita serang sekarang saja?" Tanya Arjun


"Ehm, sepertinya mereka sedang menambah kekuatan. Latih semua anak buahmu yang sudah ahli. Lengkapi senjata yang kau miliki. Jika waktunya menyerang aku akan memberitahumu." Kata Lily


"Oke Li, tapi sebelum berlatih dan siap menyerang. Boleh kali traktir bakso." Kata Arjun sambil tertawa


"Selalu saja makanan nomor satu. Roy bawa gerobak bakso kesini."


"Baik,Nona."


Mereka segera makan semangkok bakso yang panas dan menggoda sebelum berlatih. Kalau urusan makanan si Arjun tak boleh ketinggalan, selain tukang tidur tentunya. Setelah bakso Lily habis, ia segera pulang ke masion karena sudah malam dan besok ada kunjungan ke hotelnya. Arjun segera memilih anak buah kepercayaannya untuk berlatih dengan senjata yang baru.


"Roy, besok kita he Hotel baru ke markas lagi. Besok tidak perlu ke Perusahaan. Biarkan si Daniar untuk menghandle semua kerjaan." Kata Lily sebelum masuk ke masion


"Baik, Nona. Selamat beristirahat." Roy masuk kemobil dan segera melaju ke Apartementnya untuk beristirahat.


"Apakah Nona akan kembali turun sendiri atau hanya memantaunya?" Kata Roy sebelum masuk ke kamarnya. Ia tau kemampuan Nonanya bagus, bahkan lebih dari Roy, tapi tetap saja ia harus melindungi Lily apapun yang terjadi nanti jika Lily ikut bertarung. Karena bagi Roy keselamatan Lily tetap prioritas utamanya.


"Sudah pulang Li?" Tanya Jeno dari arah ruang makan sambil membawa nasi goreng


"Iya Kak, tumben Kak No makan nasi goreng malam-malam." Tanya Lily yang melihat sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi


"Hehehehe, laper." Jawab Jeno yang melihatkan barisan gigi rapinya


"Dasar. Kalau begitu aku mau istirahat dulu." Kata Lily meninggalkan Jeno untuk membersihkan diri dan beristirahat dengan nyenyak.


"Apakah aku akan kembali bertarung lagi?" gumam Lily saat berendam di bathupnya yang menenangkan dengan aroma terapi lavender.


Esok pagi, Lily dan Roy pergi ke Hotel yang sudah lama tak dikunjungi. Lily merasa senang dengan banyaknya pengunjung yang memilih Hotel Lily untuk menginap dan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Setelah berkeliling dan bercakap dengan Manager, Lily dan Roy segera pergi ke markas. Perjalanan mereka sempat terhenti agak lama karena macet. Selain karena hujan ternyata ada kecelakaan didepan. Setalah berjuang dengan kemacetan yang cukup lama, mereka sampai di markas. Lily ingin melihat latihan yang diajarkan Arjun pada anak buahnya, untuk bertarung Arjun memang jago. Tapi untuk strategi sangat buruk, karena ia langsung bertindak begitu saja tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi nantinya. Ceroboh dan sesuka hati begitu saja.