Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 18



"Nona, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Roy dengan sedikit ragu pada Lily


"Boleh saja" jawab Lily sambil merebahkan tubuhnya di sofa abu-abu


"Apakah Nona tidak merasa lelah dengan semua ini?"


"Maksudmu?"


"Tentang orang-orang yang masuk dalam rumah sakit itu atau ruang bawah tanah atau juga yang masuk dalam kandang jagur" tanya Roy


"Hahahahahaha,,, ya aku sangat lelah dengan semua ini. Tapi mereka yang mendapatkan hukuman adalah orang-orang yang membuat kesalahan dan tak tau terima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk berubah. Dan juga yang sudah mengganggu Keluarga Lee" jawab Lily sambil memejamkan matanya, dalam hatinya ia juga sudah merasa muak dengan semuanya tapi rasa dendamnya lebih besar dari itu semua. Iapun berujar "Biarkan semuanya seperti ini dulu Roy, akan ada waktunya aku akan berhenti"


"Iya Nona, semoga waktunya tak lama lagi"


semoga Nona segera menemukan kebahagiaan dan menemukan pasangan untuk hidup bersama. saya akan sangat senang jika Nona bisa mendapatkannya. do'a Roy dalam hati


"Oh ya bagaimana perkembangan kakak Emira?" tanya Lily


"Informasi terakhir yang saya dapat ia pindah ke luar negeri Nona untuk lebih tepatnya kami sedang menghubungi orang-orang disana untuk membantunya mencari" jawab Roy


"Baiklah semoga secepatnya. Oh ya Roy aku sedang ingin makan onigiri, bisakah kau membelikannya? Oh dan juga aku ingin sandwich tuna, minumannya susu pisang" kata Lily


"Baik Nona" jawab Roy sambil membungkuk hormat


"Belikan juga untuk yang lain"


"Baik Nona, kalau begitu saya permisi" Roy segera keluar dari markas dan melajukan mobilnya untuk pergi ke market yang menjual makanan tersebut.


"Memang ya makanan itu penyelamat mood seseorang. Walaupun Nona badannya kecil tapi makannya tetap banyak" kata Roy sambil terus melajukan mobilnya dengan cepat.


Setelah perjalanan tiga puluh menit Roy sampai di market, ia pun segera mengambil pesanan Nonanya dan juga membelikan untuk orang-orang disana. Keranjang trolinya sudah penuh dengan makanan dan minuman saatnya untuk pergi ke kasir dan membayarnya. Namun ketika ia ingin membayarnya ada tangan yang menahannya


"Sekalian denganku saja" kata pria tersebut


Roy segera menoleh ke arah pria tersebut. Ia merasa tak asing dengan mukanya tapi dia lupa terakhir dimana ia bertemu


"Maaf Tuan, saya bisa membayarnya sendiri" jawab Roy


"Tak apa jangan sungkan. Kamu Sekertaris Nona Lily kan"


"Iya benar. Maaf Tuan siapa ya?"


"Aku Rama. Kita pernah bertemu saat peresmian dan juga jamuan makan siang Mr.Sakha" jawabnya pada Roy agar ia tau


"Baik. Terima kasih. Untuk selanjutnya tidak perlu lagi. Kalau begitu sayaa permisi" jawab Roy memberi hormat dan segera pergi meninggalkan market


"Tidak Sekertaris tidak Nonanya ketus semua. Tapi tak apa. Masih banyak waktuku untuk mendekatinya. Marvel ayo pulang" ajak Rama. Namun karena yang dipanggil tidak memberi respon, Ramapun segera mencari dimana Sekertarisnya berada.


"Marvel kau sedang apa hah?" tanya Rama yang sedang melihat Marvel sibuk memilih donat dan kopi


"Eh Bos, maaf lama. Ini soalnya bingung mau pilih mana. Cokelat apa keju, kopi susu atau gula aren" jawab Marvel tak bersalah


"Kenapa kau bingung hah? Kau kan bisa beli semuanya" kata Rama menahan emosi


"Satu saja bos"


"Beli semuanya dan bayar pakai ini. Aku tunggu dimobil. Jika kamu masih sibuk memilih aku tinggal disini dan gajimu aku potong lima puluh persen" jawab Rama sambil memberikan kartunya dan pergi keluar market


"Baik Tuan" Marvel segera mengambilnya dan membawa ke kasir, membayarnya lalu menuju ke mobil.


"Gara-gara kau lama kita tidak bisa mengikuti mobil sekertaris itu"


"Maaf Tuan"


"Kau bisanya minta maaf"


"Maaf Tuan, saya janji tidak akan mengulangi lagi"


"Pulang ke masion Tuan?"


"Yaiyalah pulang ke masion emang kemana lagi? kuburan?" jawab Rama yang rasanya ingin memukul kepala Marvel agar otaknya encer


"Ah iya Tuan, maaf maaf"


"Astaga, semakin hari sepertinya aku bisa gila. Apa kau tidak minum obat ha?"


"Kan saya tidak sakit Tuan makanya tidak minum obat"


"Yang bilang kau sakit siapa?"


"Tadi kan Tuan sendiri yang bertanya saya sudah minum obat apa belum?"


"Taulah gelap"


"Kan masih terang Tuan belum gelap" jawab Marvel sambil melihat ke arah luar


"Lebih baik kau diam saja"


"Baik Tuan"


Setelah perjalanan empat puluh menit Rama dan Marvelpun sudah sampai ke masion. Rama segera masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih sebelum makan malam bersama, Marvel segera pulang ke apartemnnya. Roy yang sudah sampai di markaspun segera membawa makanan yang dipesan oleh Lily dan membagikannya untuk yang lain.


"Silahkan Nona" Roy menyerahkan bungkusannya pada Lily


"Terima kasih Roy. Sudah tak sabar aku memakanmu" kata Lily sambil membukannya.


"Kau sudah membagikannya pada yang lain kan?" tanya Lily sambil menggigit onigiri


"Iya sudah Nona, semua sudah mengambilnya" jawab Roy sambil menikmati odeng


"Kau bayar pake apa?" tanya Lily karena ia tak mendapatkan notifikasi di handphonenya


Roy yang kaget akhirny tersedak dan segera minum untuk mengurangi


"Maaf Nona, saat saya berada di kasir tadi ada Direktur Rama" kata Roy


"Jadi dia yang membayar ini semua?" tanya Lily untuk meyakinkan


"Iya Nona" jawab Roy sedikit takut kalau Nonanya akan marah


"Ya sudah kalau begitu.Nanti kita bisa balikin uangnya ke perusahaannya atau lewat sekertarisnya. Yang penting makan dulu" lanjut Lily yang masih mengunyah onigiri dan odengnya


"Baik Nona" Roy merasa lega karena Nonanya tidak marah


untung tidak mengamuk, kalau iya bisa berabe. bisa-bisa nanti olahraga dengan jaguar. batin Roy sambil bergidik ngeri.


Setelah makanan di depannya abis Lily pun mengajak Roy untuk pulang ke masion, karena sudah hampir malam dan keluarganya pasti akan menunggu untuk makan malam. Dia bisa saja tak ikut makan malam Mama dan Papanya pasti tau kalau ia sibuk bekerja, tapi beda lagi dengan Jeno yang suka seperti wartawan yang akan memberikan seribu satu pertanyaan pada Lily yang membuatnya kualahan. Akhirnya setelah perjalanan yang cukup jauh, matahari yang sudah tenggelam digantikan munculnya rembulan, cerah tergantikan gelapnya malam, Lily segera masuk ke dalam. Ia juga mengajak Roy untuk masuk untuk membantu menjawab pertanyaan yang tak terduga dari kakaknya.


"Anak kodok darimana?" tanya Jeno dari arah tangga


"Siapa anak kodok " tanya Lily tengok kanan kiri


"Siapa lagi kalau bukan kamu" jawab Jeno sambil menunjuk ke arah Lily


"Kalau aku anak kodok, kamu kakaknya kodok dong. Hahahha" kata Lily sambil tertawa


"Mana ada kakak kodok ganteng sepertiku" elak Jeno


"Sudahlah aku tidak ingin berdebat. Aku ingin mandi. Awas" kata Lily yang segera berlari menuju ke kamarnya, berdebat dengan kakaknya tak cukup sejam.


"Dasar kau ini" kata Jeno yang segera melangkah ke ruang makan