Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 1



"Apa kamu tidak punya mata hah?, liat bajuku menjadi basah karena keteledoranmu, baju ini sangat mahal aku yakin kamu tidak mampu untuk menggantinya." Hardik seorang wanita yang mengenakan gaun merah selutut tanpa lengan dengan rambut digulung dan make up yang flawless.


"Maafkan saya nona saya tidak sengaja." Jawab pelayan dengan tangan bergetar takut kalau ia akan dipecat oleh bosnya.


"Oh Tuhan jangan pecat aku hari ini, cicilan hpku belum lunas apalagi cicilan panciku. yaa kenapa jadi panci segala". batin pelayan itu.


"Apa? maaf katamu, ini sangat mahal. Bahkan gajimu setahun disini tak kan mampu untuk menggantinya".


"Maaf sekali lagi nona, saya tidak sengaja. Tapi sepertinya saya pernah liat gaun ini di butik sebelah dan harganya tidak terlalu mahal, apa saya boleh menggantinya?" tanya pelayan.


"Apa katamu? gaun ini limited edition. Kenapa bisa kamu samakan dengan gaun murahan itu?"


"Tidak nona saya pernah melihatnya di butik itu, saya bersungguh-sungguh." Sambil mengangkat dua jari ke atas dengan muka bersungguh-sungguh.


Wanita bergaun merah tersebut merasa murka karena gaunnya disamakan dengan gaun murahan yang ada di butik sebelah dan ingin menampar muka pelayan tersebut.


Plak! Plak! Plak!


Bunyi tamparan tangan bukan untuk menampar muka pelayan itu tapi menampar nyamuk, banyak nyamuk di sini. Hihihi.


Ketika tangan wanita bergaun merah itu ingin menampar muka pelayan, ada tangan yang menahannya. Seketika itu ia langsung menoleh


"Kenapa kau menahanku? jangan ikut campur urusanku."


Orang yang menahan tangan tersebut tak menjawab hanya memasang wajah datar. Sedangkan wanita bergaun merah menahan sakit karena cengkraman tangan itu semakin lama semakin kuat dan membuatnya meringis kesakitan.


"Auw sakit, lepaskan tanganku. Nanti tanganku yang mulus dan putih ini ada bekas tanganmu". Dikira porselin kali ya putih mulus bersih kinclong. Hihihi


Orang itu justru semakin kuat mencengkram tangannya.


"Sakit, lepaskan. Aku tak akan menamparnya" Janjinya


Orang itu langsung melepaskanya dan pergi meninggalkan resto tersebut diikuti dengan asisten pribadinya. Moodnya sudah tak berselera untuk makan di resto ini.


"Terima kasih orang baik karena telah menolongku".batin pelayan resto.


Wanita itu menatap dengan dingin orang yang menahannya dan mengusap tangannya yang memerah.


" Siapa orang itu? berani-beraninya menyentuh tanganku ini"


"Iya siapa dia? sepertinya aku belum pernah melihatnya." Tanya teman gaun merah.


" Ya aku juga belum pernah melihatnya. Tapi dari sorot matanya sepertinya dia orang yang menakutkan". Tiba-tiba tubuhnya merasa merinding ketika mengingat sorotan matanya tadi.


"Maaf sekali lagi nona untuk kesalahan saya." Kata pelayan tersebut dengan pelan.


"Ya ya ya, aku memaafkanmu. Ayo Sher lebih baik kita pulang saja". Ajak wanita gaun merah kepada temannya.


"Let's go." Jawab Sherly.


Kedua wanita itu keluar dari resto dan masuk ke mobil. Pergi untuk pulang ke rumah. Tapi sepertinya tidak karena mereka berdua justru belok ke kiri dari yang seharusnya tetap lurus untuk menuju rumahnya. Yah mereka pergi ke club untuk sekedar mencari hiburan atau minum melepas amarahnya tadi yang tak jadi menampar pelayan tersebut.


"Selamat datang nona-nona manis silahkan masuk." Penjaga club itu sambil membungkuk memberi hormat untuk mereka.


"Ok thanks sekalian parkirkan mobilku." kata Moana sambil melempar kunci mobil ke salah satu penjaga.


Moana - wanita gaun merah yang tadi merasa kesal karena gaunnya terkena air akibat kecerobohan pelayan resto yang bodoh. Dia adalah selebritis yang terkenal, dikagumi banyak orang, bahkan penggemarnya pun banyak. Prestasinya yang banyak, serta bagus, menjadikan dia salah satu selebritis papan atas.Tapi itu dulu sebelum skandal keluarganya muncul dan menghancurkan semua reputasinya.


"Lo mau minum apa?" Tanya Sherly.


Sherly adalah teman terbaik yang Moana punya, dia tidak pernah meninggalkannya dan selalu berada disisinya. Tidak seperti teman-temannya yang lain pergi ketika reputasinya hancur dan palah menghinanya.


"Ehm aku tidak ingin minum lebih baik ayo pulang saja." Ajak Moana.


"Baru juga nyampe udah pergi aja."


Moana tak menjawabnya dan langsung pergi meninggalkan Sherly begitu saja.


"Kenapa anak itu moodnya selalu berubah-ubah setiap saat. Tadi semangat sekali mengajakku kesini untuk menghilangkan stres, sekarang seperti itu. Menyebalkan sekali." Tungkas Sherly.


"Sherly ayo cepat sebelum aku tinggal disini". Moana yang sudah diluar dan sedang menunggu mobilnya berteriak dengan kencang.


"Oke oke gue kesitu nyonya." Jawabnya sambil sedikit berlari.


Ketika mobilnya sudah datang mereka langsung masuk dan meninggalkan club menuju rumah. Melewati jalan yang sepi, malam yang semakin dingin mobil itu melaju dengan cepat agar sampai rumah. Mereka tinggal berdua di rumah peninggalan orang tua Sherly yang meninggal karena kecelakaan dan meninggalkan usaha roti turun-temurun keluarga. Moana enggan pulang kerumah orang tuanya karena skandal yang mereka buat. Dia juga pergi meninggalkan dan menjual apartemennya, ia lebih memilih tinggal dengan Sherly.


Sedangkan suasana didalam club, suara tawa seorang wanita cantik terdengar renyah. Kaya kerupuk dong ya renyah :).


"Puas sekali melihat raut muka si Moana, tapi ini baru permulaan sayang. Tunggu selanjutnya." batin wanita itu.


Ya wanita itu adalah salah satu teman Moana saat dia masih menjadi selebritis, walaupun namanya tidak melambung tinggi seperti Moana tapi dia cukup dikenal oleh orang-orang. Wajahnya yang cantik, rambut panjang, dan tubuhnya yang semampai tidak sulit baginya untuk masuk dalam dunia entertainment. Dia memiliki dendam tersendiri pada Moana sehingga ia ingin Moana selalu menderita.


"Kenapa kamu tersenyum?." Tanya pria didekatnya.


"Ah aku tersenyum karena kamu menerima tawaranku untuk datang kesini." Jawabnya sambil tersenyum hangat.


"Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Lebih baik ayo segera pulang karena sepertinya sudah terlalu lama kita disini."


"Baik, sebentar lagi kita akan pulang".


Pria itu adalah orang yang disukai Moana tapi ia tidak berani untuk mengatakannya. Karena dulu ia masih fokus meniti karir dan enggan untuk berpacaran. Temannya tau kalau Moana menyukainya maka dari itu ia ingin membuatnya cemburu dan sakit hati.


Di sisi lain...


"Untung kamu tadi tidak dipecat oleh Bos."


"Iya, aku bersyukur kerena Bos tidak memecatku gara-gara kecerrobohanku, aku akan lebih hati-hati lagi kedepannya."


"Bagus. Lebih baik ayo bereskan ini semua dan pulang sebelum semakin malam".


"Baik komandan, laksanakan." Jawab pelayan itu sambil melakulan hormat pada seniornya itu. Mereka melakukan bersih-bersih dengan semangat sebelum semakin malam dan ingin segera pulang dan bertemu kasur yang sudah dirindukannya.


"Ayo pulang semuanya, terima kasih untuk kerja kalian hari ini. Semoga besok kita bertemu lagi dalam keadaan sehat dan resto ini ramai pengunjung." Kata penanggung jawab resto.


"Baik, Quenby. Semangat." Jawab para pelayan resto dengan kompak.


"Mari pulang, semuanya." Katanya sambil melambaikan tangan untuk pulang.