Lily Blossom

Lily Blossom
Episode 19



Burung-Burung mulai berkicau, cahaya matahari mulai menampakkan diri, daun-daun berguguran seiring angin yang menyapa. Malam telah berganti pagi manusia mulai meninggalkan kenyamanannya untuk segera bangun memulai aktifitasnya. Bekerja, sekolah, berdagang, semua memiliki kesibukannya masing-masing, begitupun Lily yang masih sibuk membangunkan Kakaknya Jeno yang enggan untuk membuka matanya. Justru semakin menarik selimutnya menutup kepalanya, suara bising Lily tak membuatnya untuk bangun. Mungkin suaranya seperti alunan musik yang merdu, membuatnya semakin terlelap dalam mimpi tidurnya.


"Dasar kebo, bangun Kak, ini udah siang" kata Lily sambil menggoyangkan tubuh Jeno


Jeno semakin mengeratkan selimutnya menutupi semua tubuhnya. Lily tak kehilangan akal untuk membangungan kakaknya ini. Mulai menggelitikinya, memukul lengannya, bahkan mencubit pipinya.


"Astaga, bayi saja yang doyan tidur kalau dibangunin denger suara yang keras bakalan bangun ini kok enggak sih?"


"Kalau kakak gak bangun aku akan siram pake air" Lily pun masuk dalam kamar mandi dan membawa air dengan gelas untuk membangunkan Kakaknya.


"Aku itung sampai tiga ya kalau Kakak gak bangun maka air ini aku siram ke muka. Satu, dua, dua setengah, dua seperempat, duaaaa sarimi isi dua yah kenapa aku jadi nyanyi sih. Kakak ayo bangun"


Blushhh air itu tepat sasaran ke muka Jeno yang saat itu membuka selimutnya untuk bangun. Langsung saja dia kaget karena dinginnya air itu, Lily yang melihatnya langsung menaruh gelasnya ke atas meja dan segera kabur keluar kamar Kakaknya, misi untuk membangunkan Kakaknya sudah berhasil. Sebelum Jeno memarahinya lebih baik dia kabur dari situ.


"Lilyyyyyyyyy" teriak Jeno dengan suara tinggi


"Maaf kak, sana mandi. Kan udah kena air tuh mukanya" jawab Lily yang sudah diambang pintu


"Kau ini yaa benar-benar. Ganggu orang tidur aja"


"Sana mandi. Ditunggu Mama dan Papa sarapan" kata Lily sambil membanting pintu kamar Jeno


"Dasar anak setan" Jenopun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah setengah jam bersiap-siap iapun turun kebawah sarapan bersama seperti biasanya.


"Eh anak setan sudah bangun" kata Papa


"Siapa yang anak setan?" tanya Lily


"Tuh yang barusan datang" kata Papa menunjuk Jeno


"Kalau aku anak setan berarti Papa adalah Papa setan dong, hahahaha" jawab Jeno sambil tertawa


"Mama gak mau ya disebut Mama setan" kata Mama menimpali


"Hahahaha bercanda Mama cantik"


"Kalian ini sama saja, kamu mau sarapan apa?" tanya Mama pada Jeno sambil memberikan roti cokelat pada suaminya


"Aku mau pancake saja Ma" jawab Jeno sambil mencari Lily yang tak ada di meja makan. Akhirnya pun Jeno bertanya "Dimana Lily Ma? Apa dia udah berangkat ke kantor?"


"Iya dia sudah berangkat pagi tadi, katanya ada sedikit problem disana" jawab Mama


"Problem apa? Apa Papa tau?"


"Belum, tadi saat Roy datang ia langsung pergi begitu saja"


"Semoga tidak ada masalah yang besar. Doakan saja untuk adikmu" kata Mama


"Iya Ma, mungkin nanti saat makan siang aku akan kesana untuk mengetahuinya"


"Itu lebih bagus. Sudah habiskan sarapanku dan pergi ke kantor. Sepertinya Arman sudah menjemputmu"


"Baik Ma"


Setelah sarapan Jeno berangkat ke kantor untuk mendatangani beberapa berkasnya dan melakukan meeting internal. Di Perusahaan lain, Lily sedang menahan emosinya, menahan amarah, dan juga menahan tangannya untuk tidak melakukan kekerasan pada orang.


"Bagaimana bisa hah? Kita membayar ganti rugi kerja sama padahal kita tidak melakukan kerja sama dengan Perusahaan itu?" kata Lily dengan emosi


"Maaf Nona, kami kurang teliti"


"Apa maaf? Kau pikir uang dua milyar itu sedikit apa?"


"Maaf sekali lagi Nona, karena kami takut Nona akan marah makanya kami kirim"


"Harusnya kau cari dulu dan kau tanyakan padaku, Bukan tinggal transfer begitu saja"


"Maaf Nona" jawab lelaki paruh baya yang sudah duduk bersujud untuk meminta maaf pada Lily.


"Kalian kembalilah ketempat masing-masing"


"Baik Nona, sekali lagi kami minta maaf" kata mereka sambil memohon maaf


"Cepat pergilah sebelum aku berubah pikiran" kata Lily


"Baik Nona" merekapun segera keluar ruangan Lily dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


"Roy cari tau Perusahaan itu, sepertinya aku tidak asing dengan namanya. Cari juga siapa pemiliknya. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Kalau perlu bawa dia kehadapanmu mati ataupun hidup" kata Lily


"Baik Nona akan saya laksanakan. Kalau begitu saya permisi dulu" kata Roy memberi hormat dan segera keluar dari ruangan Lily.


Roy segera masuk dalam mobil dan melajukannya meninggalkan perusahaan Lily untuk ke markas untuk meminta bantuan Erzon dan anak buahnya yang spesialis mencari informasi tertentu. Sesuai janjinya saat sarapan tadi Jeno dan Marvel pergi ke Perusahaan Lily.


"Apa Lily ada didalam?"


"Ah iya Nona Lily ada didalam. Silahkan masuk saja Tuan" kata Sekertaris itu mempersilahkan masuk karena ia sudah hapal dengan Jeno sang Kakak bosnya


"Baik terima kasih"


"Sama-sama Tuan"


Jeno dan Arman segera masuk ke dalam ruangan Lily.


"Ada masalah apa Li?" tanya Jeno


"Kak No, tumben kesini" jawab Lily


"Harusnya disuruh duduk dulu tamunya" kata Jeno


"Astaga orang sensi amat ya, ya sudah. Silahkan duduk Tuan-Tuan mau minum apa ya?" kata Lily mempersilahkan kakaknya untuk duduk


"Es jeruk juga boleh. Man kau mau minum apa?"


"Es jeruk juga boleh Tuan"


"Es jeruknya dua ya Bi" kata Jeno pada Lily


"Tamu pada ngelunjak banget yak. Bentar aku minta tolong Pak Wan untuk membawakannya" kata Lily yang segera menelfon bagian pantry untuk membawakan minuman dan sedikit cemilan ke ruangannya. Setelah menelfon Lilypun duduk berhadapan dengan Jeno dan Arman. Iapun segera bercerita tentang apa yang perusahaannya alami sekarang karena keteledoran karyawannya. Jeno yang mendengar cerita itu langsung melihat ke seluruh penjuru ruangan Lily. Merasa kakaknya ini mencari sesuatu Lilypun bertanya


"Kak No mencari apa?"


"Tidak ada vas bunga atau gelas pecah. Kau tak mengamuk kan?" tanya Jeno


"Hahahaha untuk apa aku mengamuk? Kalau kehilangan dua milyar aku tinggal memintanya pada Kakak. Beres kan" kata Lily yang melipat tangannya kedada


"Ini Man yang aku tidak suka kalau berkunjung kesini. Kita dapat es jeruk dan roti tapi minta bayarannya selangit"


"Iya Tuan" jawab Arman dengan sedikit kikuk takut jawabannya salah.


"Dasar kalian ini. Kan gak masalah minta ke Kakak sendiri. Hahhaha"


"Tapi Roy sudah mengurusnya kan?"


"Iya ia sedang mengurusnya" kata Lily


"Syukurlah, semoga ketemu. Oh ya kalau pemiliknya ketemu mau kau apakan?" tanya Jeno penasaran pada Lily, karena ia tau kalau ada yang mencari masalah padanya pilihannya mati atau hidup tapi sengsara


"Mati atau mati secara perlahan" jawab Lily dengan enteng


Glekkk.! Arman dan Jeno sama-sama menelan salivanya dengan berat. Benar sesuai dengan pikiran Jeno tentang adiknya ini.


"Terserah kau sajalah Li" kata Jeno


"Kalau kakak mau juga gak masalah" kata Lily menawarkan


"Tak perlu, Arman ayo kita pulang" ajak Jeno pada Arman


"Baik Tuan"


"Aku pulang dulu"


"Baik Kak, hati-hati ya kalian"


"Hm"


"Permisi Nona" kata Arman memberi hormat


"Hati-hati ya" kata Lily mengantar Kakaknya sampai ke depan.