
"Bagaimana Roy? Apakah sudah ada perkembangan?." Tanya Lily yang sudah di ruang kerjanya bersama Roy.
"Untuk saat ini belum ada Nona, tapi ada berita baru" Jawab Roy sambil menyerahkan kertas pada Lily.
"Apa ini Roy?" Tanya Lily sambil mengambilnya.
"Informasi terbaru tentang Wiliam."
"Kakak Emira?" Tanyanya lagi.
"Iya Nona, menurut informasi yang didapat. Ia salah satu orang penting dalam penipuan yang terjadi belakangan ini". Terangnya.
"Jadi ia ikut di dalamnya?".
"Iya Nona".
"Kalau begitu cepat bereskan hal ini, bawa orang-orang yang yang berandil besar, baik mati ataupun hidup bawa ke hadapanku". Kata Lily sambil meremas kertas.
"Baik Nona, laksanakan". Jawab Roy.
"Kalau begitu kau boleh pulang Roy, besok Ravi akan kembali ke Kota ini untuk membantu".
"Baik Nona, kalau begitu saya permisi dulu". Kata Roy sambil membungkuk keluar ruangan.
"William, ternyata kau salah satu dalang penipuan, tak akan aku biarkan kamu lolos. Walaupun adikmu ada di genggamanku". Kata Lily yang melangkah ke kamarnya.
Orang-orang yang sudah menganggu ketenangan atau mengusik Lily akan menanggung akibatnya, apalagi ini tidak hanya Perusahaannya saja yang merugi banyak Perusahaan lain yang merasakannya. Maka Lily tak segan-segan akan memberi pelajaran pada mereka yang melakukan kejahatan.
Malam telah berganti pagi, kicau burungpun mulai terdengar, matahari mulai menampakkan senyumnya yang menawan. Lily bergegas ke kamar mandi setelah cahaya pagi menyapanya dengan hangat. Mandi dengan berendam mungkin akan membuat tubuhnya segar. Setelah bersiap-siap selama tiga puluh menit, segera ia pergi ke Perusahaannya karena Roy sudah menunggunya, ia memilih membawa dan memakan sarapannya di mobil. Di dalam mobilpun Lily masih menyempatkan membuka dan meneliti perkembangan penjualan produknya saat ini.
"Silahkan Nona, sudah sampai." Kata Roy sambil membuka pintu untuk Lily.
"Ah iya Roy, terima kasih." Kata Lily yang melangkah keluar, perjalanan yang singkat atau ia yang terlalu fokus dengan tabletnya.
Segera saja Lily masuk dalam Perusahaan, masuk ke dalam lift dan menuju ruangannya.
Ting! Pintu lift terbuka, Lily segera saja masuk dalam ruangannya. Roy mengikutinya dari belakang.
"Jadwal hari ini ada pertemuan dengan pada direksi, lalu ada meeting bulanan dengan setiap divisi, sore hari ada meeting di Hotel." Terang Roy pada Lily.
"Oke Roy, terima kasih. Oh ya, Ravi akan sampai nanti siang di Bandara. Suruh Arjun untuk menjemputnya." Perintah Lily pada Roy.
"Baik Nona, akan saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Roy sembari membungkuk kembali ke ruangannya.
Kegiatan seharian ini sudah Lily lewati mulai dari pertemuan, meeting divisi, serta meeting di Hotelnya. Setelah kegiatannya selesai semua, ia pergi ke markas, karena Ravi sudah sampai.
"Selamat datang Nona, Sekertaris Roy." Hormat penjaga sambil membungkuk.
"Terima kasih, ayo Roy kita masuk." Ajak Lily.
"Baik Nona, silahkan." Kata Roy sambil membukakan pintu mobil.
"Hallo Lily." Sapa seseorang dari arah tangga.
"Aww, sakit." Imbuhnya lagi sambil memegang kepalanya.
"Yang sopan, seenaknya saja manggil Lily." Kata Arjun dari belakang yang tadi memukul kepala Ravi.
"Hehehehehe, maaf." Jawab Ravi sambil cengengesan.
"Sekali lagi aku dengar kamu memanggil dengan nama saja, akan aku masukkan kau ke kandang jaguar untuk berolahraga." Ancam Arjun
"Oh tidak, jangan lakukan itu." Ravi memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.
berolahraga dengan jaguar, yang benar saja. lebih baik aku mengerjakan skripsi dengan beribu lembar daripada masuk ke kandang itu. batin Ravi.
"Lebih baik kita masuk ke dalam daripada kalian ribut saja." Ajak Lily
"Baik Nona, mari." Roy mengikutinya bersama Ravi dan Arjun.
"Apa kau sudah menemukan dalang itu?." Tanya Lily
"Belum." Jawab Arjun.
"Arjun belum menceritakan padamu?" Tanya Lily
"Belum." Jawab Ravi
"Astaga aku lupa." Kata Arjun sambil menepuk jidatnya sendiri yang lupa.
Arjun mulai menceritakan apa yang terjadi dan mengapa Ravi diminta untuk datang ke Kota ini meskipun sedang sibuk dengan kuliahnya.
"Oh aku mengerti, apa Erzon sudah tau?"
"Ya dia sudah tau, tapi pergerakan mereka sangat cepat. Jadi susah melacaknya"
"Oke, nanti aku akan datang ke Erzon".
"Ah ya Lily, aku ada informasi penting untukmu". Kata Arjun.
"Apa?"
"William dan Erika bukan saudara kandung" Terangnya
"Bukan saudara kandung? Emira atau William?" Tanya Lily yang tampak kaget.
"Aku belum tau siapa yang bukan anak kandung Tuan Benedict, nanti aku akan mencari tau lebih detailnya lagi".
Saat mereka tengah membicarakan tentang itu, tak sengaja Emira mendengarnya dibalik tembok setelah mengantar minuman dan makanan pada mereka.
ternyata benar kata kak Wil, aku bukan adik kandungnya. batin Emira.
"Emira, apa kamu menangis nak?" Tanya Bibi
"Tidak Bi, tadi kemasukan debu jadi mata Mira gatal" Jawab bohong Emira pada Bibi
"Ya sudah kalau begitu, Bibi mau ke pasar dulu"
"Aku ikut Bi, sekali-kali ya" Pinta Emira pada Bibi dengan muka imutnya
"Ayo kalau mau ikut" Ajak Bibi
"Ye, ayo Bi, kita berangkat" Ermira merasa senang karena bisa ikut ke pasar.
nanti ak**u akan kabur dan mencari Kak Wil dimana, maafkan aku Nona Lily dan Bibi. gumam Emira
Setelah perjalanan sekitar tiga puluh menit mereka sampai di pasar untuk membeli perlengkapan dapur, Emirapun mendapatkan bagian untuk membeli daging, sedangkan Bibi membeli yang lain.
Saat itulah, Emira mengendap-ngendap keluar dari pasar dan naik angkutan umum untuk mencari Kakaknya, tidak ada penjaga yang ikut hanya supir yang menunggu diparkiran. Bibi yang sudah selesai berbelanja memutuskan untuk menunggu di parkiran, namun sampai lima belas menit Emira tak muncul juga. Ia meminta supir untuk masuk ke dalam dan mencarinya takut kalau dia nyasar. Tapi supirpun tak menemukannya didalam.
"Bagaimana ini?" Bibi yang mulai khawatir.
"Lebih baik kitaa pulang dulu, nanti baru bilang pada Nona." Kata supir
"Baik kalau begitu, ayo kita pulang dulu".
Merekapun memutuskan pulang dan menceritakan pada Lily.
"Kenapa bisa kabur Bi?" Tanya Arjun
"Bibi juga tidak tau, tadi dia pergi ke tempat daging, tapi sampai Bibi selesai dia tak kembali lagi" Jawab Bibi yang mulai terisak
"Bibi sudah, jangan menangis ok. Arjun kerahkan anak buah untuk mencari Emira dimana" Perintah Lily
"Baik Nona" Arjun segera mengajak anak buah untuk mencari Emira
"Ayo Bi, lebih baik Bibi tenang saja. Urusan Emira biar Arjun yang menangani" Ajak Lily masuk ke dalam dan memberikannya air putih.
"Kemana Ravi?" Tanya Lily yang tak melihatnya
"Ravi ikut Arjun Nona" Jawab Roy
"Dasar anak itu baru juga kembali, sudah ingin keliling saja" Kata Lily menggelengkan kepalanya.