
Para penipu tersebut tewas ditangan anak buah Lily, uang yang mereka hasil menipu sudah mereka kembalikan pada Perusahaan lain meskipun tidak utuh. Untuk William, ia sedang dirawat di Rumah Sakit. Lily tak membunuhnya karena dia tau Emira masih menyayanginya, makanya ia membiarkan William untuk hidup. Untuk selanjutnya ia serahkan pada Emira, mau ia bunuh atau tidak biar ia yang mengurusnya. Emira sangat telaten merawat William, rasa benci dan marahnya masih tertutup rasa sayangnya pada Kakaknya. William menyesal dengan apa yang ia perbuat dulu, membunuh keluarga yang merawatnya hanya karena harta, tidak bertanggung jawab dan membiarkan Emira hidup sendiri, serta ikut menipu orang-orang untuk mendapatkan harta yang berlimpah.
Lily tak ingin ikut campur dalam urusan keluarga mereka, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri karena sudah sama-sama dewasa. Ia akan bertindak kalau William melakukan kesalahan lagi pada Emira, mati langsung atau perlahan. Setelah beberapa hari semenjak kejadian itu Lily semakin sibuk dengan kerjaannya di Perusahaan, setelah melaunching parfum baru, ia ingin melaunching produk baru yang lain. Perhiasaan berlian, ya ia ingin melaunching perhiasaan karena sedang trend saat ini. Iapun mulai mencari investor atau Perusahaan yang ingin diajak bekerja sama. Lily suka mencoba hal baru, keluar dari zona nyamannya, untung rugi itu nanti urusan belakang yang penting ia sudah mencobanya. Prinsip Lily untung ia akan memberikan bonus pada karyawan, kalau rugi minta ganti ke Kakaknya.
enak bener ya hidup Lily tinggal minta uang ke Kakaknya. La si Jeno gak tau apa-apa dimintai duit mulu kayaknya.
Persiapan pelaunchingan sudah hampir selesai, mulai dari desain, perhiasan yang akan ditampilkan hingga konsep letak dan panggungnya. Tinggal mencari investor yang ingin bekerja sama. Lily sudah melakukan kontak pada Perusahaan lain yang minat untuk bergabung.
"Ayo Marvel ke Perusahaan Lily" Ajak Rama.
"Anda akan bekerja sama dengannya, Tuan?" Tanya Marvel mengikuti dari belakang
"Tentu saja, setiap hari aku bisa melihatnya. Bukankah itu ide yang bagus?"
"Iya Tuan, itu ide bagus"
"Ayo cepat, aku ingin segera bertemu dengannya" Kata Rama dengan semangat.
"Baik Tuan, silahkan".
Merekapun segera meluncur ke Perusahaan Lily, Rama yang sudah tidak sabar ingin bertemu dan Marvel yang harus mengikuti keiinginan Tuannya yang sedang kasmaran.
kadang orang yang jatuh cinta suka senyum-senyum sendiri seperti orang gila. gumam Marvel dalam hati yang melihat Tuannya yang senyum sendiri dari tadi.
"Kenapa mobil ini lambat sekali, besok ganti yang baru" Kata Rama ditengah perjalanan
"Ini sudah cepat Tuan" Kata Marvel yang menambah kecepatan.
"Tambah lagi, ini masih lambat"
"Baik Tuan" Marvel menambah kecepatan mobilnya seperti yang Tuannya perintahkan.
Ciittt!!! Tiba-tiba mobil berhenti mendadak.
"Apa kau ingin mati hah?" Bentak Rama
"Maaf Tuan, tadi ada anak kecil yang tiba-tiba menyebrang"
"Makanya pake mobil jangan ngebut, liat kan akibatnya" Kata Rama yang membenarkan dasi dan kemejanya
"Baik Tuan, maafkan saya"
"Ya sudah, ayo jalan lagi" Perintah Rama
siapa tadi yang menyuruhnya cepat-cepat, sekarang mengomel lagi. memang Tuan selalu benar. batin Marvel
"Tak perlu mengumpatku, jalan saja terus" Kata Rama
"Baik Tuan". Mobilpun kembali jalan, tak cepat seperti tadi, dan tak lambat juga. Setelah perjalanan yang cukup panjang nan penuh drama, akhirnya mereka sampai di Perusahaan Lily. Mereka dipersilahkan masuk karena sudah membuat janji temu dengan Lily. Sekertaris mengantarkan mereka ke ruangan untuk bertemu Lily.
"Silahlan Tuan, Nona Lily sudah ada di dalam" Kata Sekertaris mempersilahkan masuk dengan sopan.
"Terima kasih" Kata Rama segera masuk ke ruangan diikuti Marvel. Setelah masuk dan bertemu, merekapun mulai mendiskusikan dan mendatangani beberapa dokumen untuk kerja sama ini. Satu jam sudah berlalu, pertemuanpun berakhir, Rama kembali ke Perusahaan dan Lily ingin pergi ke markas.
"Terima kasih Tuan, berkenan untuk melakukan kerja sama ini" Kata Lily yang mengajak jabat tangan Rama
"Sama-sama Nona, semoga kerja sama ini berjalan dengan baik" Jawab Rama sambil menerima jabatan tangan Lily.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nona. Ayo Marvel"
"Silahkan Tuan, hati-hati dijalan" Lily mengantar Rama sampai ke depan.
Karena tidak ada jawaban dari Roy, Lily mengulanginya dengan nada tinggi.
"Roy ayo, kenapa kau diam saja disitu. Mau aku potong gajimu? atau kau ingin berolahraga"
"Tidak Nona, ayo kita pergi"Kata Roy yang sudah khawatir dengan ucapan barusan.
lebih baik gajiku dipotong, daripada olahraga dengan jaguar. sepertinya Tuan Rama menyukai Nona Lily, tapi aku tak ingin ikut campur dengan urusan mereka. batin Roy yang segera melajukan mobil ke markas. Sesampainya disana, Lily pergi ke kamar atas dimana William sedang dirawat. Ia tak membawanya ke Rumah Sakit, karena ia tau William dan kelompoknya menjadi buronan Polisi. Tapi untuk perawatan medis Lily mendatangankan suster dan dokter dari Rumah Sakitnya. Lukanya sudah membaik meskipun ia sempat kritis dan koma, tapi sudah terlewati. Emira merawatnya dengan baik, sehingga kesehatannya stabil.
"Nona, apakah setelah William sembuh akan membawanya ke kantor polisi?" Tanya Roy
"Biarkan itu menjadi urusan Emira, kita cukup membantunya saja. Aku tak ingin ikut campur" Jawab Lily sambil berlalu dari kamar William
"Benar Nona, itu pilihan yang baik" Kata Roy
"Ayo kita ke bawah, aku yakin Arjun dan Ravi sedang disana" Ajak Lily
"Baik Nona" Kata Roy
Mereka menuju ke ruang bawah untuk bertemu Arjun dan Ravi. Ternyata semua orang sedang berkumpul disana.
"Tumben kalian, berkumpul disini" Kata Lily yang duduk ditempat Arjun sebelumnya. Arjun berpindah tempat duduk disebelah Erzon.
"Ada hal yang ingin kami sampaikan pada Nona" Kata Erzon
"Tentang apa itu?" Tanya Lily dengan menaikkan sebelah alisnya
"Arjun yang akan memberi tahu" Imbuh Erzon
Arjun yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke Erzon "Kenapa aku? Harusnya kan kau saja"
"Kan kau Ketuanya, gimana sih?" Kata Ravi
"Yang lebih tau kan si Erzon bukan aku" Jawab Arjun
Brakkk!! bunyi gebrakan meja semuanya menoleh ke arah Lily dengan wajah yang takut. Semua kembali diam dan tak ada yang berbicara.
"Jangan ribut lagi, atau aku akan mematahkan tangan kalian. Erzon coba kamu ceritakan" Kata Lily sambil menopang mukanya dengan keuda tangannya di meja.
"Jadi begini Nona" Erzon mulai menceritakan informasi baru dari anak buahnya barusan. Jadi ia menceritakan informasi tersebut secara mendetail agar Lily paham dan mengambil keputusan dengan tepat.
"Jadi itu, baiklah. Biarkan dulu mereka, sejauh mana kemampuan mereka untuk melakukannya. Cukup awasi pergerakannya dan laporkan padaku" Kata Lily sambil bangkit dari kursi dan naik ke tangga.
"Baik Nona, laksanakan" Jawab semua.
"Jangan lengah, dan beri tau yang lain agar waspada" Imbuh Lily. Roy mengikutinya dan mengantarnya pulang ke masion.
"Kenapa tak langsung maju berperang saja?" Tanya Arjun
Pletak!! Ravi menyentil kening Arjun hingga memerah.
"Kalau punya otak dipake, kalau langsung menyerang yang ada kita kalah dan banyak yang mati" Kata Ravi
"Oh iya ya, aku lupa. Kau cerdas juga ternyata" Kata Arjun sambil cengengesan.
"Memang aku cerdas, makanya aku kuliah di luar negeri" Kata Ravi dengan sombong
"Lebih baik ayo kita ke atas, aku yakin Bibi sudah selesai memasak. Aku lapar" Ajak Erzon diikuti semuanya untuk ke ruang makan.