
"Pagi Ma, pagi Pa" Kata Lily yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Pagi juga sayang" Jawab mereka.
"Oh ya, dimana Kak No? Tumben dia belum ada". Kata Lily sambil menoleh ke segala arah mencari Kakaknya.
"Dia sedang sakit, sepertinya dia telalu kecapean dengan pekerjaan di Kantornya" Kata Mama
"Ternyata bisa sakit juga dia" Kata Lily sambil mengambil roti dan mengolesnya dengan selai cokelat.
"Dia juga manusia Li, bukan robot. Makanya bisa sakit" Kata Papa
"Ya sudah, selesai sarapan aku akan ke kamarnya" Lily segera menghabiskan sarapannya dan pergi ke kamar kakaknya. Dia membuka pintunya karena tidak dikunci, melihat kakaknya lemas berbaring di kasur ia segera menelfon seseorang untuk datang ke masion.
"Cepat kesini, aku beri waktu sepuluh menit" Kata Lily menutup telfon sebelum ada jawaban dari seberang sana.
"I'm coming. Siapa yang sakit?" Tanya Rio yang langsung masuk ke kamar dengan nafas terengah-engah.
"Bisa tidak, kalau masuk ketuk pintuk dulu. Kak No yang sakit" Kata Lily.
"Hahaha, maaf. Katanya sepuluh menit harus sampai disini" Bela Rio yang mendekat ke ranjang.
"Sepertinya demam, tapi aku tak tau pasti" Lily bangkit dari ranjang mempersilahkan Rio untuk memeriksanya.
"Oke, aku akan memeriksanya" Rio segera membuka tas praktiknya dan mengeluarkan stetoskop mulai memeriksa Jeno. Dahinya berkerut ketika ia memeriksa kondisi Jeno. Lily yang melihat raut mukanya sontak bertanya "Apa ada yang salah?"
"Aku ingin mengambil sampel darahnya, untuk diagnosa lebih lanjut lagi" Segera ia mengambil sampel darah Jeno dan memasukkannya di tabung.
"Aku tunggu segera infonya" Kata Lily
"Beri dia segelas air kelapa" Kata Rio yang segera bergegas pergi dari kamar Jeno
"Baik. Apakah serius?" Tanya Lily lagi.
"Aku belum tau pasti, nanti akan aku beri tau. Kalau begitu aku pamit dulu" Kata Roy membungkuk dan pergi ke Rumah Sakit untuk meneliti darah Jeno.
"Oke, hati-hati". Lily segera pergi ke dapur untuk meminta segelas air kelapa pada Bibi. Ia sendiri yang membawanya kesana dan membantu Kakaknya untuk meminumnya. Setelah minum Jeno kembali tertidur. Untuk urusan Kantor Lily sudah meminta bantuan pada Arman yang menghandelnya saat Jeno masih sakit. Karena Kakaknya sakit, Lily juga tidak pergi ke Perusahaannya, ia menyuruh Roy untuk mengurus dan menghandel Perusahaan.
Tring! Notifikasi pesan masuk di handphone Lily.
^^^Rio :^^^
^^^Hasilnya sudah aku kirim ke emailmu.^^^
Lily segera membuka email dari Rio, Lily membacanya menyeluruh dengan mata melotot. Mengepalkan tangannya dan segera menelfon Rio.
"Apa maksudmu?" Tanya Lily setelah nada sambung terhubung
"Sesuai yang aku perkirakan tadi, ada yang memberi racun pada tubuh kakakmu"
"Apa berbahaya? Dan apa obatnya? Aku akan membawanya ke Rumah Sakit" Kata Lily menahan amarah
"Untung racun yang masuk tidak terlalu banyak, tadi aku sudah menyuntikkan penawarnya, dan kau sudah memberinya air kelapa kan?"
"Ya aku sudah memberikannya"
"Nanti aku akan kesana lagi untuk memberi penawar. Aku harap racunnya segera hilang"
"Oke, aku tunggu" Lily mematikan sambungan telfonnya.
"Lima belas menit lagi aku akan kesana" Kata Lily bergegas keluar dari kamar Jeno dan pergi ke markas. Sesuai yang ia katakan, lima belas menit ia sudah sampai di markas, semua berkumpul seperti biasa, menunggu sang Nona duduk.
"Aku ingin kalian, menyelidiki siapa yang memberi racun pada Kakakku" Lily dengan nada tegas
"Baik Nona, laksanakan" Jawab mereka serempak.
"Periksa CCTV Perusahaan, dan bawa dalangnya kemari. Secepatnya" Kembali Lily menegaskan
"Baik Nona" Mereka segera bergerak sesuai perintah Lily, hasil cepat dan tepat itu yang Lily minta.
"Siapa yang berani mengusik keluargamu?" Tanya Arjun
"Aku tidak tau, kalau sudah dapat aku akan memberi pelajaran" Jawab Lily bergegas meninggalkan markas.
"Tenang Li, ada aku yang akan membantumu" Jawab enteng Arjun
"Ya, aku percaya padamu" Lily segera melajukan mobilnya menuju masion untuk melihat keadaan Kakaknya. Setelah sampai di masion, ternyata Rio sudah menunggunya disana.
"Ayo naik" Ajak Lily ke kamar kakaknya.
"Ayo, aku sudah membawa penawarnya. Aku harap segera pulih dan Kakakmu segera sembuh".
"Semoga saja" Harap Lily. Mereka segera masuk ke dalam, Jeno masih terlelap dalam tidurnya.
"Apa ia masih bernafas?" Tanya Lily
"Kau ini, dia masih bernafas. Ia hanya tidur" Kata Rio sambil memberikan obat penawar padanya.
"Mungkin beberapa jam kedepan ia akan berkeringat, itu efek dari penawarnya. Aku harap kamu tidak panik. Malam nanti aku akan mengecek kembali kondisinya" Jawab Rio sambil membereskan tas kerjanya.
"Oke, terima kasih. Kau boleh pergi" Jawab Lily duduk di sofa dekat ranjang Jeno
"Kenapa kau tak menawariku minum?" Tanya Rio
"Kalau kau haus ambil di dapur, kalau kau ingin beli minum ambil kartu ini" Lily melempar kartunya di atas meja.
"Kau ini ya, selalu begitu"
"Kalau tak mau, aku akan mengambilnya lagi" Lily ingin mengambil kartunya ditahan oleh Rio yang lebih dulu mengambilnya
"Tidak, aku akan memakainya. Terima kasih banyak" Rio segera keluar dari Kamar Jeno sebelum Lily marah, Rio masuk ke mobil dan melajukan kembali ke Rumah Sakit, sebelumnya ia singgah dulu ke kedai minuman untuk membeli minuman untuk dirinya dan juniornya di sana. Hdl yang biasa dilakukan Rio walaupun tak memakai uangnya sendiri.
Tring! bunyi notifikasi di handphone Lily
"Dasar anak itu, selalu memanfaatkan kartuku" Lily menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Permisi Nona, ada Sekertaris Roy dibawah" Kata Bibi pelayan
"Baik Bi, katakan padanya untuk menunggu di ruang kerja" Kata Lily merapikan selimut Jeno dan pergi keluar.
Roy sudah menunggunya di ruang kerja Lily, ia memberikan beberapa dokumen penting yang harus ditanda tangani. Ia juga mampir sebentar ke Perusahaan Jeno untuk melihat perkembangan penyelidikan kasus Jeno. Sudah ada titik temu tentang orang yang memberi racun pada minuman Jeno, sekarang dalam pengejaran anak buah Arjun. Lily merasa lega dengan apa yang Roy katakan. Yang penting sekarang kesembuhan Kakaknya lebih utama. Mama dan Papa sudah diberi tau oleh Lily dan meminta mereka untuk tidak terlalu khawatir, biarkan Lily yang menanganinya. Malam harinya Rio datang untuk mengecek keadaan Jeno, benar sesuai apa yang ia katakan, Jeno berkeringat setelah penawarnya diberikan sore tadi. Sekarang kondisinya mulai stabil dan membaik. Rio pamit pulang setelah memberi penawar terakhirnya. Jeno akan segera pulih dan besok sudah bisa beraktifitas dengan normal.
"Nona, dalangnya sudah ada di markas" Kata Erzon setelah sambungan telefon Lily terhubung.
"Baik, aku akan segera kesana" Lily segera menelfon Roy untuk pergi ke markas
Di dalam markas...