
"Lily" kata pria itu dengan muka heran karena bertemu Lily, ia duduk didekat wanita yang disandera diruang bawah tanah. Posisinya sama kaki dan tangan yang terikat di kursi. Wajahnya sedikit lebam karena mungkin Arjun yang memberi pukulan padanya dan untuk wanita itu sama saja lebam disekitar wajahnya.
"Apa hukuman yang ku berikan padamu belum cukup Andrean?" tanya Lily sambil duduk menyilangkan kakinya
"Ti,,tidak Lily. Sudah sangat cukup sangat sangat cukup sekali" katanya memelas
"Kalau sudah kenapa kau lakukan lagi? apa jangan-jangan kau bersengkongkol ya dengan wanita itu" katanya sambil menunjuk ke arah wanita
"Tidak Lily" katanya tegas
"Roy"
"Baik Nona" Roy segera mengambil pistol didalam lemari dan memberikannya pada Lily
"Kau ingin jujur atau peluru akan bersarang pada kepalamu?" tanya Lily
"Jangan Lily aku mohon, aku ingin hidup. Aku mohon ampuni aku" katanya sambil terisak
"Kalau begitu jawab dengan jujur"
"Baik-baik aku akan berkata jujur denganmu, iyw aku bekerja sama dengannya. Karena dia yang mengajakku dan akupun mengikutinya" katamya
"Kenapa kau bilang begitu?" kata Ketryn wanita itu
"Kan memang seperti itu, kau mengajakku dan berjanji akan mengajak liburan makanya aku mau"
"Astaga kau ini ya benar-benar, kau juga yang memberi ide gila itu" kata Ketryn tidak terima
"Tapi kau juga terima saja dan setuju berarti kau yang lebih salah bukan aku"
"Ya kaulah yang salah bukan aku" katanya emosi
Doorrrrr!!!
Bunyi peluru memecah guci dibelakang mereka, suaranya terdengar nyaring seiring pecahnya guci yang berserakan. Mereka berduapun langsung diam sambil merasa ketakutan dengan apa yang mereka liat, mereka hanya menundukkan kepalanya dan tak berani untuk berbicara lagi.
"Diam, kalian berdua sama-sama salah, aku harus memberi kalian hukuman apalagi? Agar kalian jera hah?" tanya Lily sambil berdiri dan menghampiri mereka
"Buang saja ke kandang jaguar" kata seseorang dari arah tangga
Merekapun menoleh ke arah itu dan melihat Arjun membawa burger ditangan kanan dan cola ditangan kirinya, turun kebawah menuju kemereka
"Jangan jangan Lily aku mohon jangan lakukan itu" Ketryn dengan muka memohon
"Iya Lily aku mohon padamu, jangan lakukan itu oke" Andrean dengan muka yang sama memohon pada Lily untuk tidak membuangnya ke kandang jaguar.
"Aku sudah muak dengan kalian, aku memberi kalian kesempatan untuk berubah lebih baik tapi apa buktinya? justru semakin gila, aku tidak percaya lagi pada kalian" kata Lily penuh emosi
"Kami janji tidak akan seperti itu lagi" kata Ketryn
"Maafkan aku Lily, tolong ampuni aku" Ketryn memohon sambil terisak menangis
"Tak ada gunanya kau meminta maaf, Nona sudah memberikanmu kesempatan untuk berubah tapi kau malah lebih gila" kata Arjun membawa mereka keluar dari sana
"Aku menyesal sangat menyesal"
Yah penyeselan selalu dibelakang bukan di depan, kalau didepan namanya pendaftaran yaa kan.
Andrean hanya menunduk lesu, percuma juga kalau dia berontak tenaganya sudah tidak ada dan para pengawal yang membawanya lebih kekar darinya.
andai saja aku tidak termakan rayuannya pasti aku bisa hidup tenang, andai saja aku mendengarkanmu aku pasti tidak akan begini, maafkan aku. mungkin ini balasanku karena sudah menyakitimu. batin Andrean.
aku bodoh, kenapa aku bisa berurusan dengan Lily lagi. padahal dia sudah memberiku kesempatan. andai aku tidak tergiur dengan uangnya, pasti aku hidup tenang sekarang. batin Ketryn.
Mereka berdua menyesali perbuatan yang telah dilakukan, menyesali kebodohannya padahal Lily sudah memberi kesempatan kedua, tapi tidak digunakan dengan baik. Sekarang mereka harus menerima konsekuensinya. Mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan. Harusnya mereka bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan bukan malah menyalah gunakan kesempatan yang mereka dapatkan. Penyesalan kini tinggal penyesalan, air mata tidak akan merubah apapun.
Lily kini sedang duduk di balkon kamar atas, menikmati udara malam yang dingin, melihat bintang yang bertaburan, bulan yang terang, serta daun-daun yang berguguran.
"Silahkan diminum Nona cokelat hangatnya, keburu dingin" kata Roy sambil membawa nampan yang berisi cokelat panas dan kopi untuknya.
"Terima kasih Roy, ayo duduk jangan berdiri seperi itu" ajaknya
"Baik Nona, terima kasih" jawab Roy duduk di kursi sebelah sambil mengambil gelas kopi untuknya
"Apa yang aku lakukan apakah salah Roy" tanya Lily membuka percakapan sambil menatap lurus kedepan
"Tidak Nona, hukuman itu sepertinya pantas untuk mereka, justru saya mengira Nona akan membuangnya ke kandang jaguar" jawab Roy sambil menyesap kopi
"Aku tak pernah tau apa yang aku lakukan ini untuk apa, tapi rasa benci dan dendamku pada seorang pelakor dan yang membantunya sangat-sangat membuatku muak, lebih jahat dari sekedar merampok atau menodong" jawab Lily dengan muka menahan amarah
"Saya tau itu Nona, butuh waktu yang panjang untuk melupakan dendam itu setidaknya sekarang Nona sudah bisa mengontrol amarah dan emosi yang Nona miliki"
"Ya aku tau Roy, tapi aku ingin suatu saat nanti aku bisa melupakan dendamku berdamai dengan keadaan dan tidak merasakan trauma lagi" kata Lily sambil menghabiskan cokelat panasnya
"Iya Nona, semoga akan datang waktunya. Saya percaya itu"
"Ya sudah, ayo kita kembali ke Hotel saja dan tidur disana, aku takut nanti keluargaku mencariku jika aku tidak ada disana" ajak Lily sambil bangkit dari kursi dan segera turun kebawah
"Baik Nona, mari" Roy mengikutinya dari belakang dan segera membawa gelasnya ke dapur
saya harap nona segera sembuh dari trauma, melupakan dendam, dan menemukan kebahagiaan. nona bahagia saya juga aka bahagia. semoga saja. batin Roy.
Merekapun segera menuju ke Hotel untuk beristirahat, sebenarnya mereka tidur di markaspun tak masalah. Tapi mereka malas untuk menjawab pertanyaan Jeno yang mulutnya seperti wartawan yang akan menanyakan banyak hal, kalau dia merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan ia akan meminta jawaban yang memuaskan lagi.
Pagi hari