
Prok Prok Prok !!! Suara tepuk tangan menggema di ruangan, semua orang merasa puas dengan pelaunchingan berlian Lily. Semua berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Tidak ada halangan dan hambatan apapun, semuanya sempurna. Dalam beberapa jam saja, penjualan berlian langsung habis terjual, hingga harus menambah stock untuk sistem PO selanjutnya. Mereka segera berbenah dan melanjutkan pekerjaan masing-masing. Lily merasa puas dengan kerja keras timnya, iapun memberikan kartu pada Pak Joan yang ditunjuk sebagi penanggung jawab, untuk mentraktir semua orang di restoran.
Selesai acara, Lily pulang ke masion dan tentu saja dia membawa satu set berlian untuk Mama tercinta. Lily dan Roy segera pergi ke masion.
"Bagaimana kabar William?" Tanya Lily
"Sudah membaik Nona, walaupun masih berbaring di ranjang." Jawab Roy
"Datangkan Dokter terbaik agar cepat pulih." Kata Lily
"Baik, Nona. Nanti saya akan meminta Rio untuk mengaturnya." Kata Roy yang segera memberi pesan pada Rio. Tak berselang lama mereka sampai di masion. Mama sudah menunggu antusias kepulangan Lily, lebih tepatnya satu set berlian Lily. Apalagi Mamanya suka mengoleksi perhiasaan, pasti merasa senang dengan yang dibawa Lily. Setelah menerima berlian, Mama segera masuk ke kamar dan mencobanya. Lily hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Mamanya yang langsung masuk ke kamar tanpa berterima kasih pada anaknya.
"Dasar Mama, matanya langsung biru kalau melihat perhiasan." Kata Lily yang segera berlalu ke ruang kerja, Roy hanya tersenyum dan mengikuti Lily di belakang. Mereka mulai membahas pekerjaan yang sempat menumpuk saat Jeno sakit, dan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani oleh Lily.
"Apa ada perkembangan tentang pergerakannya?" Tanya Lily saat mendatangani dokumen.
"Belum Nona, anak buah kita belum melaporkan apapun saat ini." Jawab Roy yang merapikan dokumen.
"Awasi pergerakan mereka, jangan lengah. Aku pikir mereka akan segera bertindak." Perintah Lily sambil mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Baik, Nona. Laksanakan sesuai perintah." Kata Roy.
"Suruh Erzon untuk menambah anak buahnya dibeberapa titik, dan suruh Arjun lebih waspada pada anak buahnya." Kata Lily dengan muka seriusnya.
"Baik Nona. Kalau begitu saya permisi dulu ke markas." Roy pergi keluar seraya membungkukkan badan.
"Hm." Lily hanya berdehem dan segera melanjutkan memeriksa pekerjannya.
Sejujurnya Lily sudah malas berhubungan dengan musuhnya ini, terlalu bertele-tele dan membuatnya muak. Harusnya dulu ia menghabisi saja semuanya, agar tak ada yang tersisa. Tapi sayang sahabatnya dulu melarangnya untuk membunuh, karena Lily tau orang yang akan dibunuhnya adalah mantan kekasihnya. Lily tak tega melihat sahabatnya memohon padanyaa untuk membunuhnya, tapi apa yang Lily dapat? justru sahabatnya mati ditangan kekasihnya karena melihat perselingkuhannya dengan wanita lain. Lily berusaha untuk menolong sahabatnya dibawa ke Rumah Sakit, namun sayang nyawanya tak bisa ditolong. Semenjak itu, Lily berjanji akan membalas perbuatannya dan membunuhnya dengan tangannya sendiri.
"Andai kau mengijinkanku untuk membunuhnya, aku yakin kau masih hidup saat ini" batin Lily yang kembali mengingat sahabatnya. Ia segera menelfon Roy untuk mengantar ke makam.
"Apa kabar kamu hari ini? Kamu bahagia kan disana?" Sapa Lily sambil meletakkan buket mawar di makam sahabatnya.
"Zellina Andrina" nama di batu nisan itu. Sudah lima tahun sahabatnya meninggalkan Lily, dan selama itu juga ia ingin segera menyelapkan pria sampah itu.
Flasback On
"Bangun Zellin, jangan seperti ini." Lily meminta Zellin untuk berdiri.
"Sekali ini saja, aku mohon maafkan dia." Zellin mulai terisak di kaki Lily
"Sudah aku katakan, tak perlu kau memohon seperti itu. Yang salah di Arga bukan kamu Zellin, jadi berdiri sekarang juga." Bentak Lily yang membuat Zellin takut dan segera berdiri.
"Kau akan memaafkannya bukan?" Tanya Zellin sekali lagi dengan lirih agar Lily tak marah.
"Aku tidak janji, jika ia berulah lagi maka aku akan membunuhnya." Ancam Lily.
"Dia tidak akan berulah lagi, aku janji padamu. Terima kasih Lily." Zellin memeluk Lily karena senang. Lily tak tega dengan Zellin yang menangis, melihat sahabatnya sedih. Tapi ia juga tak tega sahabatnya diselingkuhi oleh pacarnya. Zellin memang belum percaya dengan apa yang Lily katakan tentang Arga, karena dia belum melihatnya sendiri.
Kala itu, Lily pergi ke restoran untuk makan ramen tentunya dengan Roy yang setia. Ia tak sengaja melihat Arga duduk dengan seorang wanita, ia pikir itu Zellin namun saat wanita itu berbalik ternyata bukan. Karena penasaran, akhirnya ia memilih duduk di dekat meja mereka. Lily terkejut dengan apa yang mereka perbincangkan, menyebut nama sayang dan pernikahan. Lily marah dan menggebrak meja Arga. Semua orang menoleh ke arahnya karena kaget.
"Bukankah kau sudah punya pacar Tuan?" Tanya Lily menahan amarahnya.
"Siapa kamu?" Tanya wanita itu tidak suka kedatangan Lily.
"Yang siapa itu kamu, bukan aku. Beraninya kamu jalan dengan pacar sahabatku." Kata Lily dengan tatapan tajam. Wanita itu tak menjawabnya karena takut.
"Lily apa-apapan kau ini." Arga segera bangkit dari kursi dan meyeretnya menjauh dari meja. Roy tidak terima jika Nonanya diperlakukan seperti itu segera bangkit dari kursi dan melepaskan cengkraman tangan Arga.
"Kau berkhianat pada Zellin?" Tanya Lily.
"Hahahaha, apa yang akan kau katakan padanya tidak akan dipercaya. Karena dia cinta mati padaku." Kata Arga dengan percaya diri.
"Dasar pria jahat. Ayo Roy kita pulang saja." Lily segera pergi dari Restoran dan menemui Zellin. Lily menceritakan semua yang ia liat barusan. Namun Zellin tak percaya padanya, ia lebih percaya pada Arga. Lily merasa kecewa dan pergi meninggalkan Zellin begitu saja.
"Aku harap kamu tak menyesal." Kata Lily pada Zellin dengan penekanan.
Bukan hanya sekali Lily melihat Arga dengan cewek lain, tapi Zellin masih percaya dengan Arga. Bahkan ia memohon untuk tak menyakiti Arga. Hingga suatau hari ia memergoki Arga dan seorang wanita di dalam kamar, Zellin langsung lari begitu saja. Arga mencoba mengejar Zellin yang semakin jauh, namun sayang Zellin tergelincir dari tangga dan jatuh hingga ke bawah. Arga segera menghampirinya, ada luka gores di dahi karena terbentur keramik yang tajam, karena panik Arga mengajak selingkuhannya pergi dan meninggalkan begitu saja hingga Zellin tiada. Arga mendekati Zellin karena ia orang kaya, mudah baginya untuk meminta uang dengan rayuan gombalnya. Lily sudah memperingati untuk Zellin tak bersama Arga, namun Zellin sudah dibutakan dengan cinta. Lily merasa terpukul dengan kematian Zellin, ia benar-benar kehilangan dengan sosok sahabatnya. Sejak saat itu ia menutup diri tentang perasaannya pada lelaki.
Flasback Off
Lily segera bangkit dan pergi dari makam. Ia bertekad akan membalas kematian Zellin apapun yang terjadi.