
Emira yang melarikan diri keluar kota akhirnya sudah pulang ke markas dengan anak buah Arjun, tak sulit untuk mencarinya walaupun membutuhkan waktu. Bibi merasa senang karena Emira kembali, Emira juga berjanji tidak akan kabur lagi.
Dalang penipuan yang dicari Lily juga sudah menemukan titik terang, mereka sedang menunggu proses penyergapan oleh orang-orang Lily. Perjuangan Erzon dan Ravi untuk mencarinya tak sia-sia. Mereka sedang membuat rencana matang untuk menangkapnya, harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan orang sekitar dan tentu saja aparat polisi. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang bawah tanah untuk memberi arahan pada anak buah yang sedang siap-siap untuk melakukan penyergapan tersebut. Mereka sudah menemukan markas persembunyiaannya, mereka juga sudah memasang beberapa kamera pengintai kecil yang dapat memantau pergerakannya. Mereka sudah siap di tempatnya masing-masing menunggu Nonanya untuk melakukan penyergapan.
"Lakukan sekarang" Perintah Lily
"Baik Nona, laksanakan" Jawab Arya pemimpin operasi
Mereka mulai melakukan penyergapan, terjadi baku tembak yang cukup sengit. Karena memang pasukan Lily yang cukup banyak dan terlatih tak butuh waktu lama untuk melumpuhkan musuh. Mereka membawa dalang penipuan untuk dibawa ke markas.
"Bawa mereka ke markas sekarang juga, dan juga obati anak buahmu yang terluka." Kata Lily
"Baik Nona" Jawab Arya yang langsung membawa mereka ke mobil dan segera berangkat menuju markas.Setelah perjalanan selama kurang lebih 2 jam dengan helicopter pribadi dan karena markas mereka di luar negeri, akhirnya sampai juga di markas Lily, anak buah yang terluka segera diobati agar tidak terjadi infeksi. Para tahanan segera dibawa ke ruang bawah tanah yang sudah ditunggu oleh Lily.
"Ikat mereka di kursi" Perintah Lily
"Baik Nona" Jawab Arya yang segera mengikat mereka dibantu anak buahnya.
"Buka tutup kepalanya"
"Baik Nona" Arya membuka tutup kepala mereka.
"William, lama tak berjumpa denganmu" Kata Lily
"Siapa kau? Aku tak mengenalmu" Jawab acuh William
"Kau tak mengingatku? Kita pernah bertemu saat ulang tahun Perusahaan Keluargamu"
"Aku tidak ingat"
"Keluarga Benedict yang dihormati orang-orang, tapi kelakuan anaknya seperti setan"Kata Lily memanasi William
"Jangan sebut Keluarga itu lagi, aku sudah tak mengenalnya" Jawab William menahan amarah
"Jadi kau anak Tuan Benedict?" Tanya salah satu temannya
"Diam, aku tak mengenalnya" Bentak William
"Aku tak ingin mencampuri urusan keluargamu. Kenapa kalian melakukan penipuan ha?" Tanya Lily
"Apa urusanmu? Tentu saja uang yang banyak, memangnya apalagi?" Kata salah satu yang diketahui sebagai pemimpin
"Apa tidak ada cara lain? Kau merugikan banyak orang dan juga yang aku dengar kalian melakukan pembunuhan pada orang yang ingin mengungkap kejahatan kalian" Terang Lily
"Yang penting aku mendapatkan uang yang banyak, aku tidak peduli dengan mereka"
"Hahahaha, luar biasa. Aku juga tidak akan segan-segan membunuh kalian dengan caraku" Kata Lily sambil mengambil pistol
"Aku tidak takut mati" Kata Pemimpin
Dorrr! bunyi peluru yang ditembakan Lily mengenai kakinya.
Awwww, Pemimpin itu mulai meringis kesakitan karena tembakan itu. Saat Lily ingin menembak William
"Jangan, aku mohon jangan tembak Kak Wil" Suara dari tangga. Emira segera berlari menghalangi William.
"Awas Emira, aku tak ingin menembakmu, tapi Kakakmu" Perintah Lily
"Aku mohon Nona jangan bunuh Kak Wil" Kata Emira sambil terisak.
"Minggir kau Emira, untuk apa kau menolongku" Kata William dengan nada tinggi
"Kau Kakakku mana mungkin aku membiarkan kamu ditembak"
"Yang bukan anak Benedict itu kau William, kau cuma anak adopsi Tuan Benedict, dan Emira adalah anak kandungnya" Terang Lily yang merasa geram dengan perlakuan William.
"Apa? Jadi Kak Wil bukan kakakku?" Tanya Emira yang tak menyangka.
"Baca ini" Lily melempar dokumen itu ke Emira. Segera saja Emira membacanya, ia merasa syok dengan apa yang ia baca, ia baru tau kalau William ternyata bukan Kakak kandungnya. Selama ini justru William yang bilang kalau Emira bukan anak kandung Tuan Benedict. Tapi rasa sayang Emira pada William membuatnya tidak membeci walaupun ia sering dihina.
"Minggir Emira, jangan halangi aku untuk membunuhnya". Kata Lily yang siap dengan pistolnya
"Walaupun Kak Wil bukan kakak kandungku tapi jangan bunuh dia" Pinta Emira
"Roy, seret Emira dari sana" Perintah Lily
"Baik Nona". Roy segera menarik paksa Emira untuk menjauh dari sana
"Nona, saya mohon jangan lakukan itu"
"Diam, dia bukan kakak kandungmu dan dia adalah orang yang membunuh keluargamu" Kata Lily dengan nada tinggi
Emira kembali syok dengan ucapan Lily, sebelum dia bertanya Arjun memberikan rekaman percakapan dan cctv kelakuan William beberapa tahun lalu. Emira tak habis pikir bagaimana bisa William yang sudah dirawat seperti keluarga sendiri tega membunuh keluarganya.
Dorrr! bunyi peluru mengenai dada William. Bukan Lily yang melakukannya tapi Emira, semua orang tertegun dengan apa yang mereka lihat.
"Itu untuk kematian Ayahku, dan ini untuk kematian Ibu" Dorr! sekali lagi peluru itu melayang di dada sebelah kanan William. Emira menjatuhkan pistolnya dan naik ke tangga untuk keluar dari ruangan itu, hatinya merasa kecewa dan marah. William mengeluarkan banyak darah karena tembakan itu.
"Maaf Emira" Suara parau William yang merasa sakit di dadanya.
"Urus mereka semua, kau tau Jun apa yang harus kau lakukan" Lily pergi meninggalkan Arjun dan anak buahnnya. Ia segera pergi ke atas dengan Roy. Melihat Emira menangis Bibipun bertanya pada Lily
"Emira kenapa Nona?" Tanya Bibi
"Biarkan ia menyendiri dulu, beri dia waktu untuk menenangkan diri" Jawab Lily merebahkan tubuhnya di sofa
"Baik Nona, kalau begitu saya ke belakang untuk mengambil minuman dulu untuk Nona" Jawab Bibi seraya membungkuk dan pergi ke dapur
"Kenapa William membunuh Keluarga Benedict Nona" Tanya Roy penasaran
"Harta. Ia ingin semua harta Benedict berada ditangannya. Karena ia tau bukan anak kandungnya, dan juga dia membuat rumor bahwa Emira bukan adiknya. Agar semua harta warisannya jatuh ke tangannya. Tapi sayang surat wasiat sudah bertuliskan bahwa harta 70% jatuh pada Emira" Terang Lily
"Dia tidak terima dengan itu, membunuh Keluarga Benedict dan membuat surat wasiat palsu?" Tanya Roy
"Ya kau benar, tapi pengacaranya tidak bodoh. Yang aku herankan Emira justru pergi keluar rumah dan mencari keberadaan William" Kata Lily yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Emira.
"Mungkin karena ia merasa nyaman dengan Willian dan sudah menganggapnya keluarga Nona"
"Mungkin, atau gak ia saja yang bodoh" Jelas Lily sambil meminum jus jeruk yang dingin
"Oh ya Roy, ayo kita pulang. Aku jadi rindu Kak No" Ajak Lily seraya bangkit dari sofa
"Baik Nona, mari" Roy segera mengikuti dari belakang
aku yakin, Nona pasti rindu untuk menjahilinya bukan rindu orangnya". batin Roy
"Apa kau mengumpatku?" Tanya Lily
"Tidak Nona, saya tidak berani" Jawab Roy sedikit gugup
"Ya sudah ayo pulang"
"Baik Nona"
Mobilpun melaju menuju masion.