
Lily dan Roy sudah di ruang bawah tanah, disana anak buah sedang menunggu kehadirannya. Pandangannya beralih pada pria paruh baya yang duduk terikat di kursi dan wajahnya yang sudah lebam, pasti ini ulah anak buah Lily. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya yang mulai mengering, tubuhnya yang lemas tak berdaya. Lily duduk di kursi kebesarannya, sambil menyilangkan salah satu kakinya.
"Siapa yang menyuruhmu memberi racun?" Tanya Lily
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah saja" Jawab pria itu dengan pelan namun terdengar
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Lily lagi
"Keluarga saya di sandera Nona, terpaksa saya melakukannya". Jawabnya yang sudah bergetar merasa takut
"Cari tau dimana keluarganya, aku harap dia tidak berbohong. Rio obati lukanya" Perintah Lily
"Baik Nona" Mereka segera menjalankan perintah Lily. Rio mengobati luka pria itu, sedangkan Arjun dan bawahannya mencari keluarga pria itu. Lily duduk di sofa merebahkan tubuhnya, ada saja masalah yang datang padanya, ia memijat keningnya yang cukup pening. Ia segera meminum jus dingin yang Roy bawa, sekedar menghilangkan daganya. Roy tau apa yang Nona rasakan sekarang, masalah yang datang bertubi-tubi padanya, membuatnya merasa sedih karena tak banyak membantunya.
..."Semoga Nona segera menemukan tempat untuk berkeluh kesah. Saya mendoakan kebahagiaan Nona selalu" Do'a Roy dalam hati. Karena Roy tahu, Lily akan menyimpan masalah yang ada dan tak bercerita kepada siapapun termasuk keluarga, kadang ia selalu mendesaknya untuk bercerita agar bebannya sedikit hilang. Berbagi masalah ke orang lain tidak masalah bukan? Hanya sekedar untuk mengurangi beban diri sendiri dan siapa tau ada solusi dari orang lain. Semoga kalian begitu ya, bisa berbagi cerita ke orang lain. Oke....
"Sepertinya mereka sudah kembali Nona" Kata Roy mendengar mobil yang baru saja datang.
"Biarkan mereka masuk" Lily segera duduk dengan benar
"Ceritakan yang kalian dapat" Perintah Lily. Arjun mulai menceritakan yang ia peroleh, benar kalau keluarga pria itu di sandera sebagai jaminan, ia juga sudah membunuh mereka yang melakukan sandera, selain itu ia juga sudah mengantongi dalang dari semua. Lily pasti akan terkejut dengan apa yang akan Roy katakan, karena ia awalnya juga terkejut dan tidak menyangka.
"Laura?" Tanya Lily
"Ya, Laura yang menyuruh pria itu untuk memberi racun pada Tuan Jeno" Jawab Arjun.
"Jadi wanita itu belum mati ternyata, aku fikir dia sudah mati waktu itu. Tangkap dia dan bawa kehadapanku" Kata Lily yang merasa geram
"Bawahanku sedang membawanya kesini" Kata Arjun yang mengikuti Lily turun ke ruang bawah. Pria tadi yang sudah diobati Rio sudah membaik walaupun lebamnya masih terlihat, setidaknya badannya tidak selemas tadi. Bawahan Arjun memberi tahu bahwa orang yang dinanti sudah ada, ia segera memberi tau untuk membawanya kesini. Lily tersenyum jahat melihat Laura dan seorang lelaki yang sudah diikat di kursi persis didepannya.
"Kau masih ingat aku bukan? Aku harap kamu tidak lupa Nona cantik" Tanya Lily sambil memainkan pistol di tangannya.
"Mana mungkin aku melupakanmu, orang yang membunuh adikku" Kata Laura yang marah
"Jadi dia yang membunuh adikmu?" Tanya pria disamping Laura yang bernama Deo.
"Bukan aku yang membunuhnya, dia sendiri yang mengingkan kematiannya" Jawab Lily enteng
"Mana mungkin adikku ingin mati, kau pasti berbohong" Laura berkata dengan nada tinggi
"Jaga mulutmu, tak ada hak untuk memaki Nona seperti itu" Kata Roy menodongkan pistol ke arah Laura. Deo semakin menciut takut dan memilih diam saja.
"Bisa-bisanya aku ikut Laura, aku pastikan akan berakhir disini. Tuhan, tolong selamatkan aku apapun caranya" Do'a Deo dalam hati yang mulai berkeringat dingin.
"Roy putar rekaman itu, aku yakin dia belum melihatnya setelah kematian adiknya" Perintah Lily, Roy segera membuka rekaman itu dan melihatkannya ke Laura. Kaget tak menyangka, itu yang Laura rasakan sekarang, bagaimana bisa adiknya yang disayangi, dibela, dilindungi ternyata berkhianat padanya. Ia menjalin hubungan gelap dengan tunangan Laura, ia juga yang merencanakan kecelakaan kedua orang tuanya sendiri. Dan lebih menyakitkan lagi ternyata ia bunuh diri karena frustasi ditinggal tunangan Laura disaat dia mengandung. Laura yang selama ini percaya begitu saja pada adiknya bahwa tunangannya berselingkuh dengan Lily dan Lily yang membunuh adiknya. Laura dan Lily dulu berteman dekat saat sekolah, berbagi canda dan tawa bersama.
Hubungan mereka mulai merenggang setelah mereka Kuliah di tempat berbeda, tapi komunikasi masih berjalan dengan baik. Setelah Laura bertunangan, hubungan mereka mulai menjauh, dan ternyata tunangan Laura menyukai Lily, ia hanya mendekati Laura untuk balas dendam untuk menyakiti orang dekat Lily, namun tak disangka justru adik Laura yang terpincut dengan rayuan gombal lelaki itu. Lelaki itu juga yang menyuruh adik Laura untuk melakukan semua hal yang ia perintahkan, karena sudah buta dengan cinta, makanya ia melakukan perintahnya. Ketika adik Laura ingin bunuh diri, Lily tak sengaja lewat jalan itu hendak menolongnya, namun sayangnya ia terlambat. Laura yang hanya melihatnya sekilas mengira bahwa Lily yang membunuhnya. Karena Lily tak terima dengan tuduhan Laura, ia ingin membunuhnya juga namun ditahan oleh Roy. Setelah kejadian itu hubungan mereka semakin jauh dan Laura menaruh dendam pada Lily.
"Apa kamu sudah melihatnya sendiri?" Tanya Lily yang melihat Laura syok dan menangis
"Ya, aku sudah melihatnya. Aku tak menyangka ternyata Diki seorang bajingan" Laura menahan amarahnya
"Aku akan membebaskan kalian. Cari dan tangkap bajingan itu untukku" Perintah Lily
"Aku akan menangkapnya, mati ataupun hidup" Laura menjawab dengan lantang.
"Anak buahku akan membantu kalian, tapi kalian sendiri yang harus membawanya kesini" Perintah Lily bangkit dari kursinya
"Aku minta maaf untuk semuanya" Kata Laura dengan menunduk.
"Hm. Aku akan memaafkanmu setelah bajingan itu kau bawa kesini" Lily berbalik dan naik ke atas
"Ya, aku janji"
"Syukurlah, aku tidak berakhir disini. Mencari Diki? ayolah come on, orang itu sudah seperti belut sawah yang gesit" batin Deo.
"Kau harus membantuku mencarinya, jika kau tak ingin mati disini" Kata Laura yang mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Baik" Jawab Deo mengikuti Laura pergi. Dengan dibantu anak buah Lily, Laura dan Deo segera mencari ke tempat yang biasa disinggahi oleh Diki, setidaknya ia masih mengingat beberapa tempat yang ia pernah datangi bersamanya dulu. Jeno sudah kembali ke aktifitasnya kembali, karena racunnya sudah hilang dan tak menyebar ke seluruh badannya. Lily merasa senang karena tidak terjadi hal yang menakutkan pada Kakaknya.