
Keesokan harinya, Annisa datang ke kantor dengan hati yang berbunga-bunga, tetapi rasa cemas mulai merayap saat ia tidak melihat Michael di meja kerjanya. Ia mencoba untuk tidak panik dan mengira bahwa Michael mungkin ada urusan yang mendadak atau terlambat datang.
Namun, setelah beberapa jam, Michael tetap tidak muncul dan Annisa semakin gelisah. Ia mencoba menghubungi Michael melalui telepon genggamnya dan juga email, tetapi tidak ada balasan.
Suasana kantor yang seharusnya ramai dengan pekerjaan dan percakapan menjadi sangat hening dan sedih bagi Annisa. Ia merasa seolah-olah seluruh dunia berhenti berputar.
Annisa mencoba untuk tetap fokus pada pekerjaannya, tetapi pikirannya terus terganggu oleh kekhawatiran tentang Michael. Setiap kali telepon berdering atau pintu kantor terbuka, ia berharap bahwa itu adalah Michael yang datang untuk memberi tahu apa yang terjadi.
Namun, hingga sore hari, tidak ada berita tentang Michael. Annisa memutuskan untuk pulang ke apartemennya dengan hati yang berat, tidak bisa membuang perasaan cemas dan takut yang membayangi dirinya.
Saat ia tiba di apartemennya, ia merasa kesepian dan terus memikirkan tentang Michael. Ia duduk di sofa dengan ponselnya di genggaman, berharap bahwa ia akan menerima pesan atau panggilan dari Michael.
Namun, ketika hari mulai gelap dan waktu terus berlalu, Annisa tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia merasa sedih dan kecewa, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Michael dan apa yang akan terjadi dengan perasaannya.
Ia menghabiskan malam itu sendirian di apartemennya, meratapi kehilangan Michael dan kebingungan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia tidak bisa tidur dan hanya terus merenungkan tentang Michael dan masa depan mereka.
…
Setelah kembali dari Paris, Michael merasa tidak sabar untuk menyelesaikan masalah dengan tunangannya, Ivy. Dia ingin segera menemui Ivy dan memberitahunya bahwa dia ingin memutuskan hubungan mereka. Namun, semuanya tidak berjalan seperti yang direncanakan.
Saat dia sampai di apartemen Ivy, dia bisa merasakan atmosfer yang aneh. Ivy menunjukkan perilaku yang agak dingin dan cuek kepadanya. Michael mencoba untuk membicarakan masalah mereka, tetapi Ivy tampaknya tidak terlalu tertarik.
Akhirnya, setelah beberapa saat, Ivy mengungkapkan alasan dia menjadi aneh. "Michael, aku harus memberitahumu sesuatu. Aku sedang mengandung anakmu," ucap Ivy dengan lembut.
Michael terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi, terlebih saat dia mencintai Annisa. Dia merasa terjebak dalam situasi yang rumit.
Ivy kemudian menjelaskan bahwa dia baru mengetahui kehamilannya beberapa hari setelah Michael pergi ke Paris. Dia tidak tahu harus memberitahu Michael dengan cara apa.
Michael merasa terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Dia mencoba memproses semua informasi yang baru saja dia terima. Setelah beberapa saat, dia memandang Ivy dan bertanya, "Apakah kamu serius?"
Ivy mengangguk dengan tegas. "Iya, Michael. Aku tahu ini mungkin terdengar tiba-tiba dan tidak terduga, tapi aku tidak bisa berbohong padamu. Aku hamil, dan itu adalah anakmu."
Michael duduk di kursi di depan Ivy dan memegang kepalanya. Dia tidak tahu harus berpikir apa. Di satu sisi, dia masih mencintai Annisa dan tidak ingin meninggalkannya lagi. Di sisi lain, dia tidak bisa meninggalkan seorang wanita hamil yang mengandung anaknya.
"Ivy, aku tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar tiba-tiba dan aku perlu waktu untuk memikirkannya," kata Michael dengan hati-hati.
Ivy memahami dan mengangguk. "Tentu, aku mengerti. Aku tidak mengharapkanmu untuk membuat keputusan sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu."
Michael pulang ke apartemennya dengan pikiran yang kacau. Dia merasa terjebak di antara dua wanita yang ia cintai, dan situasinya semakin rumit karena Ivy mengandung anaknya. Dia tidak bisa membiarkan bayi itu tumbuh tanpa ayah.
Malam itu, Michael menghubungi Annisa dan mengajaknya untuk bertemu. Mereka bertemu di sebuah kafe yang nyaman dan Michael bercerita tentang apa yang terjadi dengan Ivy.
Michael duduk di meja kafe tersebut, sambil memainkan sendok di atas meja. Ia merasa gelisah dan khawatir tentang bagaimana ia akan memberitahu Annisa tentang kabar buruk yang baru saja ia terima dari Ivy.
Beberapa saat kemudian, Annisa tiba di kafe itu. Michael merasa lega karena Annisa mau menerimanya. Annisa duduk di kursi yang kosong di hadapannya, sambil tersenyum ke arah Michael. Namun, senyum itu langsung memudar ketika ia melihat ekspresi wajah Michael yang terlihat begitu tegang.
"Apa yang terjadi, Michael?" tanya Annisa dengan suara lembut.
Annisa melihat ke dalam mata Michael dan merasakan getaran yang berbeda dari biasanya. Ia merasa bahwa ada yang tidak beres.
"Michael, apa itu?" tanya Annisa dengan suara bergetar.
"Annisa, Ivy hamil," jawab Michael dengan suara terbata-bata.
Annisa merasa terkejut dan tidak percaya. Ia merasa kecewa dan sedih karena setelah semuanya yang mereka lewati bersama, Michael masih memilih untuk tetap bersama dengan Ivy.
"Jadi apa maksudmu, Michael? Apa yang kamu ingin lakukan sekarang?" tanya Annisa dengan suara gemetar.
"Annisa, aku tidak bisa meninggalkan Ivy dalam kondisi seperti ini," kata Michael dengan suara pelan.
Annisa merasa kesal dan kecewa. Ia merasa bahwa Michael memilih untuk menjadi bertanggung jawab atas kehamilan Ivy daripada memilih untuk bersama-sama dengan Annisa.
"Jadi itu artinya kamu akan tetap bersama Ivy?" tanya Annisa dengan suara penuh kekecewaan.
"Maafkan aku, Annisa. Aku tahu aku membuatmu kecewa, tapi aku tidak bisa melakukan ini," ucap Michael.
Annisa merasa hatinya hancur. Ia merasa bahwa semua mimpi indah mereka bersama-sama telah berakhir.
"Tidak apa-apa, Michael. Aku mengerti," kata Annisa sambil mencoba menahan air mata yang hampir keluar dari matanya.
Michael merasakan kehancuran yang sama seperti Annisa. Ia merasa sangat menyesal dan ingin memperbaiki semuanya, tapi ia tahu bahwa sudah terlambat.
Mereka berdua berdiri dari meja kafe itu dan saling memandang satu sama lain. Michael ingin mengelus pipi Annisa, tapi ia tahu bahwa itu akan membuat semuanya menjadi lebih sulit.
"Annisa, aku berharap kau tahu betapa aku mencintaimu," kata Michael dengan suara lembut.
Annisa mengangguk dan tersenyum ke arah Michael, meskipun sedikit pahit.
"Aku tahu, Michael. Dan aku juga mencintaimu," jawab Annisa.
Dengan saling pandang yang sedih, mereka berpisah dan Michael pergi dengan hati yang hancur. Sedangkan Annisa duduk sendirian di kafe itu, mencoba menahan air matanya yang akhirnya mulai mengalir.
Annisa duduk di meja kafe dengan segelas kopi di depannya, air matanya mulai berlinang. Dia merasa hancur dan terluka oleh apa yang baru saja terjadi. Ia tidak percaya bahwa Michael memilih untuk tetap bersama Ivy karena kehadiran bayi mereka.
Annisa merasa seperti orang yang tidak pantas dicintai. Dia bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya sehingga Michael memilih untuk tinggal bersama Ivy dan tidak bersamanya.
Dia menyesal telah membuka hatinya untuk Michael, karena sekarang ia merasa seperti hatinya diinjak-injak dan terluka. Ia merasa sedih dan kecewa pada Michael, pada dirinya sendiri, dan pada keadaan yang menyakitkan ini.
Annisa berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, tetapi air matanya tidak berhenti mengalir. Ia merasa kesepian, terbuang, dan tidak dicintai.
Waktu berlalu dan Annisa duduk sendirian di kafe tersebut. Dia masih merasa sedih dan kecewa, tapi juga merasa lega karena ia tidak harus lagi berurusan dengan Michael dan segala drama yang disebabkannya.
Setelah beberapa saat, Annisa mengambil napkin dan membersihkan air matanya. Dia berdiri dari meja kafe dan meninggalkan tempat itu. Dia berjalan keluar dari kafe, dengan hatinya yang hancur, merasa seperti tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan selanjutnya.