It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 30



Pada musim semi yang cerah di Jepang, Annisa bersama suaminya, Reynold, dan anak mereka yang masih berusia delapan bulan, Arnold, memutuskan untuk mengunjungi Jepang untuk liburan keluarga. Mereka sangat antusias untuk mengalami budaya Jepang yang kaya dan indah.


Mereka tiba di Bandara Internasional Narita pada pagi hari dan langsung menuju ke hotel mereka yang berada di Shibuya, Tokyo. Setelah check-in, mereka memutuskan untuk menjelajahi kota Tokyo. Di stasiun Shibuya, mereka melihat orang-orang yang ramai, dengan banyak orang yang sibuk bekerja dan berbelanja.


“Ini luar biasa! Ini seperti kota New York yang lebih rapi!" Ucap Annisa senang.


“Ya, aku juga suka dengan keramahan dan kerapian kota ini." Ucap Reynold.


“Papa…papa,” Reynold yang beluk terlalu lancar berbicara menunjuk-nunjuk sebuah taman yang ada di depan mereka.


“Ayo kita pergi ke Taman Yoyogi. Aku mendengar taman itu sangat indah di musim semi." Ucap Reynold.


Mereka melanjutkan perjalanan ke Taman Yoyogi, yang dikenal karena keindahan sakuranya yang mempesona di musim semi. Mereka berjalan-jalan di sekitar taman, menikmati pemandangan dan mengambil banyak foto.


“Ini adalah tempat yang indah! Aku juga tidak sabar untuk menikmati makanan-makanan Jepang yang lezat." Ucap Annisa.


“Tentu saja, sayang. Ayo kita mencari restoran sushi yang bagus untuk makan siang." Ucap Reynold dan menggenggam erat tangan Annisa.


Mereka menemukan restoran sushi yang bagus dan memesan banyak jenis sushi yang berbeda-beda. Mereka menikmati makanan mereka sambil memuji cita rasa sushi yang sangat lezat.


“Sushi ini sangat lezat! Aku sangat senang kita bisa mencobanya di Jepang." Ujar Annisa melahap sushi di sumpitnya.


“Ya, makanan Jepang memang tidak ada duanya. Setelah ini kita coba untuk menjelajahi tempat-tempat yang lain.” Ucap Reynold


Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk mengunjungi Kuil Meiji, kuil Shinto yang terkenal di Tokyo. Mereka tiba di sana pada pagi hari dan melihat banyak pengunjung lokal yang sedang beribadah di kuil. Mereka juga melihat banyak turis yang datang untuk menikmati keindahan kuil dan berfoto-foto.


“Ini sangat indah! Aku merasa seperti saya berada di zaman Edo!" Ucap Annisa.


“Ya, Kuil Meiji adalah simbol kepercayaan dan tradisi Jepang. Aku sangat senang bisa mengunjunginya." Jelas Reynold.


“Mama, ikan-ikan!” Reynold menarik-narik baju Annisa, menujuk ke sebuah kolam ikan yang ada di kuil itu.


“Ya, Nak. Nanti kita akan memberi mereka makan ya.” Ucap Annisa lembut.


Setelah itu, mereka pergi ke pasar ikan Tsukiji, yang terkenal dengan berbagai jenis ikan dan makanan laut yang segar. Mereka membeli beberapa ikan segar dan memasaknya di hotel mereka di malam hari.


“Ini sangat lezat! Aku sangat senang bisa memasak ikan segar ini dengan cara tradisional Jepang." Ucap Annisa.


“Ini sangat lezat! Aku benar-benar menikmati makanan Jepang." Ujar Reynold yang mengusap-usap perutnya.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Kyoto pada hari berikutnya. Di Kyoto, mereka mengunjungi Kuil Fushimi Inari, yang terkenal dengan serangkaian gerbang torii merah yang indah. Mereka berjalan-jalan di antara gerbang torii tersebut dan menikmati pemandangan yang indah dari atas bukit.


“Aku merasa seperti saya berada di dunia yang berbeda." Ucap Annisa mengambil beberapa gambar dari kuil itu.


“Ya, ini benar-benar menakjubkan. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan alam dan kebudayaan Jepang." Ucap Reynold.


“Sayang, apakah kamu mau membeli beberapa pernak-pernik tradisional Jepang untuk teman-teman kantormu? seperti kipas atau miniatur gerbang torii. Kalau mau sepertinya toko suvernir itu terlihat lengkap.” Ucap Reynold menunjuk ke saah satu toko suvenir di dekat mereka.


Annisa pun mengangguk dan mereka mengunjungi toko suvenir itu, Annisa memilih beberapa kipas tradisional Jepang dan miniatur gerbang torii. Setelah itu, mereka pergi ke restoran soba terkenal di Kyoto dan menikmati hidangan soba yang lezat.


“Aku belum pernah mencoba soba sebelumnya, ternyata Ini sangat lezat! Aku suka teksturnya yang sangat renyah.” Ucap Annisa.


Mereka mengunjungi Kuil Kiyomizu, yang terkenal dengan pemandangan kota Kyoto yang menakjubkan. Mereka naik ke atas bukit dan melihat pemandangan kota Kyoto yang indah dari atas.


“Sayang, terima kasih sudah membawaku untuk berlibur kesini, aku sangat senang. Semoga nanti kita bisa kembali lagi kesini.” Ucap Annisa mencium pipi suaminya.


Reynold mengangguk dan berkata. “Aku juga sangat menikmati waktu kita di Jepang.“


Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Osaka pada hari terakhir mereka di Jepang. Di Osaka, mereka mengunjungi Istana Osaka, yang terkenal dengan keindahan arsitekturnya dan sejarahnya yang kaya.


“Bangunan-bangunan bersejarah di jepang memang sangat indah, bahkan setiap bangunannya memiliki sejarah-sejarahnya sendiri!” Ucap Annisa bersemangat.


“Ya, sejarah Jepang sangat menarik. Kita bisa mendapatkan pengathuan yang lebih tentang budaya dan sejarah di Jepang.” Ucap Reynold.


“Papa, lapar.” Ucap Arnold yang berada dalam gendongan Reynold.


“Okay, kita coba makan okonomiyaki ya.” Ucap Reynold dan diangggukan semangat oleh Arnold.


Mereka mencari restoran okonomiyaki terkenal di Osaka dan menikmati hidangan okonomiyaki yang lezat. Setelah itu, mereka berbelanja oleh-oleh di pasar malam Dotonbori yang terkenal dengan makanan dan barang-barang Jepang.


“Aku ingin membeli beberapa baju tradisional Jepang untuk Arnold.” Ucap Annisa meminta izin kepada suaminya.


“Ide bagus, ayo kita pergi sekarang.” Ucap Reynold.


Mereka berjalan-jalan di pasar malam dan menemukan toko yang menjual kimono anak-anak. Annisa memilih beberapa kimono yang indah dan memutuskan untuk membelinya.


Annisa masih sibuk mencari beberapa kimono yang mungkin akan diberikannya untuk teman dekatnya di kantor, sedangkan Teynold juga sedang memilih beberapa mainan yang akan dibelikannya kepada Arnold.


“Arnold, kamu suka ini?” Tanya Reynold yang ingin menunjukkan mainan di tangannya kepada Arnold, tetapi ternyata Arnold tidak ada di sampingnya.


“Arnold! Arnold!” Reynold terus berteriak diantara kerumunan orang berharap bisa menemukan anak laki-lakinya itu.


“Sayang, ada apa?” Tanya Annisa yang terlihat cemas saat melihat wajah khawatir Reynold.


“Ar…Arnold, hilang,” ucap Reynold terbata-bata karena kecemasannya. Annisa terkejut dan menangis.


“Maafkan aku, sayang. Maafkan aku karena tidak menjaganya dengan baik. Sekarang kita cari dia dulu, kamu pergi ke sana dan aku akan mencari di daerah sekitar sini.” Ucap Reynold panik.


Annisa hanya dapat menganggukan kepalanya dan segara pergi ke arah yang diperintahkan oleh Reynold.


“Arnold! Arnold!” Annisa berteriak cemas memanggil nama anaknya berharap Arnold akan berteriak memanggilnya.


Tetapi usahanya tetap tidak membuahkan hasil, ia berjalan terhuyung memikirkan nasib anaknya yang mungkin sedang menangis karena ketakutan.


Sampai ia melihat anaknya berada di depannya dan sedang berbicara dengan seorang wanita.


Saat Annisa mendekati mereka, langkah Annisa terhenti melihat wajah wanita yang sedang berbicara dengan anaknya.


“Ivy.”