
Ivy menyalakan televisi dan menemukan acara yang menarik. Mereka berdua memperhatikan acara tersebut, dengan sesekali memberikan komentar dan tawa. Ivy merasa lega bahwa suasana yang tadinya hening, kini terisi dengan obrolan dan tawa kecil.
Setelah beberapa menit menonton, Michael tiba-tiba berkata, "Ivy, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Ivy menoleh ke arah Michael, "Apa itu?"
Michael terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara yang terdengar ragu, "Aku tahu selama ini aku tidak cukup memberikan perhatian yang cukup padamu sebagai kekasih bahkan sebagai suamimu. Aku merasa sangat terima kasih atas semua yang kamu lakukan untukku selama ini, tapi aku merasa seperti aku belum cukup membalasnya."
Ivy merasa terharu mendengarnya, "Michael, kamu tidak perlu membalas apapun. Kamu selalu ada untukku juga, bahkan sejak awal aku mengenalmu."
Michael tersenyum, "Aku tahu, tapi aku merasa seperti aku harus lebih baik lagi seharusnya kepadamu.”
Ivy menggeleng, "Kamu sudah cukup baik, Michael. Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi darimu.”
Michael menatap Ivy dengan pandangan tulus, "Tapi aku ingin memberikan sesuatu untukmu. Sesuatu yang bisa menunjukkan betapa berharganya kamu.”
Ivy terdiam sejenak, kemudian berkata, "Kamu sudah memberikan banyak untukku, Michael. Aku tidak butuh apapun lagi."
Michael mengangguk, "Baiklah, aku mengerti. Tapi tetap saja, aku ingin kamu tahu bahwa kamu adalah orang terbaik yang pernah aku miliki. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
Ivy tersenyum, "Kamu juga, Michael. Dan aku yakin kita akan terus saling mendukung satu sama lain."
Michael tersenyum, "Terima kasih, Ivy. Aku sangat menghargai itu.”
Mereka berdua melanjutkan menonton acara televisi tersebut, sambil membiarkan waktu berlalu dengan tenang di samping satu sama lain.
Keesokan harinya, Michael dibolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Dia merasa lega karena akhirnya bisa kembali ke rumahnya sendiri dan melanjutkan kehidupannya seperti sediakala. Ia memang merasa masih agak lemah dan harus beristirahat, tetapi ia senang karena bisa berada di tempat yang familiar dan dekat dengan keluarganya.
Hari itu, Ivy menemani Michael pulang ke rumah. Mereka berjalan ke parkiran rumah sakit dengab hati-hati dan menunggu taksi untuk membawa Michael pulang. Sambil menunggu taksi, Ivy bertanya pada Michael tentang bagaimana perasaannya dan apa yang ingin dilakukannya setelah pulang.
"Senang bisa pulang," kata Michael dengan senyum kecil. "Tapi aku tahu aku masih harus istirahat. Aku ingin tidur dan makan makanan yang enak. Mungkin nonton film atau membaca buku."
Saat taksi tiba, Ivy membantu Michael naik dan duduk di belakang sementara Ivy duduk di depan. Mereka berbicara sedikit tentang kehidupan dan rencana ke depannya. Michael mengatakan bahwa dia berencana untuk kembali bekerja secepat mungkin dan tidak ingin membiarkan kecelakaan itu mengganggu hidupnya terlalu lama.
Ketika mereka tiba di rumah Michael dan bertemu dengan keluarga Michael. Ivy membantunya untuk naik ke atas dan masuk ke kamar tidurnya. Ivy membantu Michael untuk bersantai dan memberitahunya untuk memanggil Ivy jika dia butuh sesuatu.
Setelah beberapa jam, Michael memanggil Ivy untuk memberitahu bahwa dia ingin makan. Ivy turun ke dapur untuk menyiapkan makanan untuknya.
"Sudah lama sekali aku tidak makan makanan yang enak," kata Michael sambil tersenyum. "Terima kasih sudah membawakan aku makanan ini."
"Senang bisa membantumu, Michael," jawab Ivy. “Aku selalu siap membantumu kapan saja."
Sambil makan, mereka berbicara tentang kehidupan dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Michael mengatakan bahwa ia ingin kembali bekerja secepat mungkin, tetapi ia juga mengerti bahwa dia masih perlu beristirahat dan memulihkan dirinya sepenuhnya.
"Aku tidak ingin terburu-buru untuk kembali bekerja," katanya. "Tapi aku tidak ingin menjadi terlalu lambat juga. Aku harus menemukan keseimbangan yang tepat antara beristirahat dan memulihkan diri serta bekerja."
Setelah makan, Michael kembali ke kamarnya untuk istirahat. Ivy memastikan bahwa dia merasa nyaman dan aman sebelum meninggalkannya.
…
Ivy terdiam, matanya terpejam saat Michael memintanya untuk kembali ke tunangannya. Air matanya mulai menetes di pipinya. Michael merasa sedih melihat Ivy seperti itu, dia tidak ingin melukai hati siapapun, terutama Ivy tapi ia tahu ia tidak boleh egois.
"Sudahlah, Ivy. Aku mengerti. Kamu harus kembali ke tunanganmu, dia pasti sangat merindukanmu." Kata Michael, mencoba menenangkan Ivy yang sedang menangis.
"Michael, aku sangat menyesal. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu." Ucap Ivy, suaranya terdengar terputus-putus karena tangisannya.
"Tidak perlu menyesal. Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku hanya tidak beruntung karena mencintai seseorang yang sudah memiliki orang lain." Jawab Michael dengan nada sedih.
Ivy menatap Michael dengan mata berbinar-binar, "Apa kamu benar-benar mencintaiku?"
"Ya, aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu dan aku membuang kesempatan itu, sekarang aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku lagi. Kamu sudah memiliki tunangan dan aku tidak ingin menghalangi kebahagiaanmu." Jawab Michael dengan tulus.
Ivy merasa sangat sedih, dia tidak pernah berpikir bahwa Michael akan mencintainya setulus ini. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mencintai Michael lagi seperti yang dia inginkan. Ivy ingin sekali memeluk Michael, memberinya cinta yang dia butuhkan, tapi dia tidak bisa melakukannya karena dia harus kembali ke tunangannya.
"Aku tidak pernah merasa begitu terbuka pada siapa pun sebelumnya, tapi denganmu, aku merasa begitu nyaman untuk berbicara tentang semuanya," ucap Ivy sambil meneteskan air mata.
Michael meraih tangan Ivy dan menggenggamnya erat-erat. "Aku juga merasa sama, Ivy. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu denganmu dan menghabiskan waktu bersamamu. Mungkin ini memang takdirku, Ivy. Dan aku akan selalu mendoakanmu agar bahagia," jawab Michael sambil tersenyum lembut.
Waktu berjalan begitu cepat, Ivy harus segera pergi ke bandara untuk kembali ke kota Paris Michael mengantar Ivy ke bandara dengan mobilnya yang dibantu supir. Selama perjalanan, keduanya tidak banyak bicara, suasana begitu hening dan sedih.
Sesampainya di bandara, Ivy turun dari mobil dan mengambil tasnya. Dia menatap Michael dengan tatapan sedih, "Terima kasih untuk semuanya, Michael. Aku tidak akan pernah melupakanmu."
Michael tersenyum, "Sama-sama, Ivy. Jangan khawatir tentangku, aku akan baik-baik saja. Semoga kamu bahagia dengan tunanganmu."
Ivy merangkul Michael dengan erat, mencoba menahan tangisannya, "Selamat tinggal, Michael."
Michael merangkul Ivy dengan erat, merasa sangat sedih karena harus melepaskan orang yang dicintainya. Dia merasakan air mata Ivy yang jatuh di bahunya.
"Ivy, jangan lupa untuk bahagia. Aku selalu mendoakanmu." Ucap Michael dengan suara serak.
Ivy mengangguk, masih merangkul erat Michael, dia tidak ingin melepaskan pelukannya. Tapi dia harus pergi, dia harus kembali ke Alex.
Akhirnya, Ivy melepaskan pelukannya dan pergi ke pintu masuk bandara. Dia menoleh sekali lagi dan melihat Michael yang masih berdiri di tempatnya, menyaksikan kepergiannya. Michael mengangkat tangannya dan memberikan senyum kecil. Ivy tersenyum sedih, merasa sedih karena harus meninggalkan Michael, seseorang yang pernah mengisi penuh hatinya dengab kenangan indah.
Michael melihat Ivy pergi dengan hati yang berat, namun ia merasa lega karena Ivy telah memutuskan untuk kembali pada tunangannya. Meskipun ia merasa sedih karena kehilangan Ivy, ia tahu bahwa itulah yang terbaik untuknya dan untuk Ivy.
Beberapa minggu kemudian, Michael menerima undangan pernikahan dari Ivy. Ia merasa sedih, namun juga bahagia untuk Ivy.
Michael dan Ivy tidak pernah bertemu lagi. Namun, kenangan tentang Ivy selalu menghantui pikirannya. Ia merasa bersyukur karena pernah bertemu dengan seseorang seperti Ivy, dan ia tahu bahwa kenangan tentangnya akan selalu membawa kebahagiaan di hatinya.