It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 28



(Waktu yang jauh sebelum POV Ivy ke Paris.)


Annisa dan Reynold telah menikah selama 1 bulan. Kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan sangat baik, mereka sangat mencintai satu sama lain dan selalu berusaha untuk saling mendukung dalam segala hal. Keduanya telah bekerja keras untuk membangun karier mereka, tetapi mereka selalu menempatkan hubungan mereka sebagai prioritas utama.


Pada suatu hari, Annisa datang ke kantor Reynold untuk mengantarkan bekal makan siangnya. Reynold terlihat sibuk mengetik di komputer dan Annisa merasa bahwa Reynold tidak terlalu memperhatikan keberadaannya. Annisa mulai merasa sedih dan bertanya pada Reynold, "Kamu terlihat sibuk, apakah ada yang salah?"


Reynold menghentikan kegiatannya dan mengangkat kepalanya. "Maafkan aku sayang, pekerjaan di kantor sedang menumpuk. Aku sedang mencoba menyelesaikan semuanya secepat mungkin."


Annisa merasa lega karena Reynold ternyata tidak kesal padanya. "Tidak apa-apa sayang, aku hanya khawatir kamu merasa terganggu karena aku datang kemari tanpa memberitahukanmu."


Reynold tersenyum, "Tentu saja tidak, kamu kehadiranmu selalu membuatku bahagia dan aku selalu senang melihatmu. Terima kasih sudah membawakan makan siang untukku."


Annisa tersenyum, "Sama-sama sayang, jangan lupa makan siangmu ya."


Reynold mengangguk, "Aku pasti akan memakannya.”


Annisa mulai merasa senang karena Reynold memperhatikan keberadaannya dan memberikan perhatian yang ia inginkan. Dia kemudian bertanya pada Reynold, "Bagaimana kalau kita pergi makan malam bersama malam ini? Aku merindukan momen romantis bersamamu."


Reynold tersenyum, "Itu adalah ide yang bagus, sayang. Aku juga merindukanmu."


Annisa tersenyum gembira dan mengeluarkan suara kecil, "Yay!" Dia melihat jam di dinding dan berkata, "Baiklah, aku harus kembali bekerja. Sampai nanti malam sayang."


Reynold mencium kening Annisa dan berkata, "Sampai nanti malam sayang. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan berusaha pulang lebih awal."


Malam harinya, Annisa dan Reynold pergi makan malam di restoran favorit mereka. Mereka memesan hidangan kesukaan mereka dan menikmati waktu bersama-sama. Mereka berbicara tentang pekerjaan mereka, rencana masa depan, dan hal-hal yang mereka sukai satu sama lain.


Setelah makan malam, Reynold mengajak Annisa untuk berjalan-jalan di taman yang indah. Mereka berjalan berdua sambil memegang tangan satu sama lain. Annisa merasa bahwa momen ini sangat romantis dan ia merasa sangat bahagia bersama Reynold.


Saat mereka berjalan-jalan, Reynold tiba-tiba berhenti dan berbicara pada Annisa. "Sayang, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting."


Annisa merasa sedikit cemas mendengar ucapan Reynold, tetapi ia membalas dengan lembut, "Tentu saja sayang, apa yang ingin kamu katakan?"


Reynold mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata, "Aku ingin membicarakan tentang masa depan kita bersama. Aku merasa bahwa kita telah mencapai titik di mana kita harus mulai memikirkan tentang membangun keluarga."


Annisa merasa sedikit terkejut mendengar itu, tetapi ia merasa bahwa Reynold benar-benar serius tentang hal ini. "Apa kamu yakin, sayang? Kita masih memiliki banyak hal yang ingin kita capai dalam karier kita."


Reynold menjawab, "Aku sangat yakin, sayang. Aku tahu kita masih memiliki banyak hal yang ingin kita capai, tetapi aku merasa bahwa kita dapat melakukan semuanya dan juga membangun keluarga bersama. Aku sangat mencintaimu dan ingin memiliki anak denganmu."


Annisa merasa terharu mendengar itu dan berkata, "Aku juga mencintaimu, sayang. Aku sangat senang dengan keputusan ini dan aku juga ingin memiliki anak denganmu."


Reynold tersenyum lebar dan berkata, "Aku senang kamu setuju, sayang. Kita harus mulai merencanakan semuanya sekarang."


Mereka melanjutkan jalan-jalan mereka sambil membicarakan rencana untuk masa depan mereka bersama. Mereka berbicara tentang bagaimana mereka ingin membangun keluarga mereka, bagaimana mereka ingin membesarkan anak-anak mereka, dan bagaimana mereka ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka.


Setelah berjalan-jalan, mereka pulang ke rumah mereka dengan perasaan bahagia dan bersemangat untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka bersama. Mereka duduk bersama di ruang tamu dan membicarakan lebih jauh tentang rencana mereka untuk membangun keluarga.


Annisa berkata, "Aku berpikir bahwa kita harus memulai dengan mempersiapkan diri kita sendiri terlebih dahulu. Kita harus mulai menjaga kesehatan kita, makan makanan yang sehat, dan berolahraga secara teratur."


Reynold setuju, "Aku juga berpikir hal yang sama. Kita harus memastikan bahwa kita siap secara fisik dan mental untuk membesarkan anak kita."


Reynold berkata, "Tentu saja, sayang. Aku juga ingin membantu dalam membesarkan anak-anak kita. Kita bisa mencari bantuan dari keluarga dan teman-teman kita jika dibutuhkan."


Mereka terus berbicara tentang rencana masa depan mereka dan membicarakan tentang keinginan mereka untuk memiliki anak. Mereka menyadari bahwa membangun keluarga adalah proses yang memerlukan banyak persiapan dan kerja keras, tetapi mereka yakin bahwa mereka bisa menghadapinya bersama-sama.


Beberapa bulan kemudian, Suasana di ruangan kamar tidur Annisa dan Reynold terasa hening dan tenang. Reynold duduk di samping istrinya yang terbaring di tempat tidur, sementara Annisa memandang kosong ke langit-langit ruangan. Annisa baru saja melakukan tes kehamilan dari kamar mandi.


Reynold melihat wajah istrinya yang pucat dan menanyakan dengan lembut, "Sayang, apa yang terjadi? Bagaimana hasilnya?”


Annisa menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menoleh ke arah suaminya dengan air mata di matanya. "Aku… aku sedang hamil," ucap Annisa dengan suara yang serak.


Reynold tidak percaya apa yang ia dengar. Ia memandangi istrinya, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan. Perlahan-lahan, senyum muncul di wajahnya. "Kamu sedang hamil? Bayi kita? Serius?” tanya Reynold dengan suara gemetar.


Annisa hanya menganggukkan kepala, dan Reynold langsung memeluk istrinya dengan erat. Mereka saling berpelukan dalam keheningan, merasakan getaran cinta dan haru yang terus mengalir di antara mereka.


"Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan yang sedang aku rasakan sekarang," kata Reynold, masih tetap memeluk istrinya.


Annisa mengangkat kepalanya dari dada Reynold dan menatap wajah suaminya. "Ini adalah momen yang paling bahagia dalam hidupku," ucap Annisa dengan suara yang serak.


Reynold mencium bibir istrinya dengan lembut, "Aku mencintaimu, sayang. Dan aku sangat bersyukur bahwa kita bisa mengalami momen indah ini bersama-sama."


Annisa tersenyum lebar dan mencium kembali bibir suaminya dengan penuh kasih.


"Kita harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk bayi kita," ucap Reynold dengan penuh semangat.


"Ya, kita harus membeli beberapa barang bayi dan membuat kamar bayi yang nyaman," ucap Annisa setuju.


"Mari kita mulai merencanakan semuanya," ajak Reynold.


Mereka memandang satu sama lain, senyum bahagia terukir di wajah mereka. Mereka bersiap-siap untuk menjalani fase baru dalam kehidupan mereka sebagai orang tua, dan siap untuk menghadapi tantangan dan kegembiraan yang datang bersama-sama.


Beberapa minggu berikutnya, mereka pergi ke dokter kandungan bersama-sama untuk melakukan ultrasound pada janin mereka. Mereka duduk di ruang tunggu dengan tegang, menunggu giliran mereka dipanggil.


Ketika mereka masuk ke ruang ultrasound, Annisa terbaring di meja dan Reynold duduk di sampingnya. Mereka melihat layar monitor di depan mereka dan dengan gembira melihat bayi mereka yang bergerak-gerak di dalam rahim Annisa.


Dokter kandungan mereka memberi tahu mereka bahwa bayi mereka sehat dan berkembang dengan baik. Mereka berdua sangat senang mendengar itu dan merasa lebih dekat satu sama lain dalam pengalaman ini.


Setelah beberapa bulan berlalu, Annisa melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat sehat. Mereka memberinya nama Arnold, dan mereka berdua merasa sangat bahagia karena menjadi orang tua dan memiliki seorang anak yang tampan.


Pada malam pertama mereka pulang dari rumah sakit dengan bayi mereka, Reynold dan Annisa duduk bersama di ruang tamu sambil memandang bayi mereka yang tidur nyenyak di ayunan.


Reynold berkata, "Ini adalah momen yang luar biasa, sayang. Kita akhirnya menjadi orang tua dan memiliki seorang putra yang sehat."


Annisa menatap Reynold dengan penuh kasih dan berkata, "Aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai suamiku dan ayah bagi anak-anak kita. Aku mencintaimu."


Reynold tersenyum lebar dan membalas, "Aku juga mencintaimu, sayang. Kita akan menjadi orang tua yang hebat untuk Arnold.”