
Ivy duduk di depan laptopnya, menatap layar dengan penuh perasaan campur aduk. Setelah beberapa saat, dia mengambil napas dalam-dalam dan menekan tombol panggilan video. Wajah tunangannya, Alex, muncul di layar.
"Hey, sayang," kata Alex, senyumnya mengembang di wajahnya. "Apa kabarmu?"
Ivy menelan ludahnya, mencoba untuk mempertahankan penampilannya yang tenang. "Baik-baik saja, Alex. Bagaimana kabarmu?"
"Sama-sama baik. Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku?"
Ivy mengangguk. "Ya, ada. Annisa menemukan Michael di New York."
Mata Alex membelalak kaget. "Apa?maksudmu Michael yang hilang?"
Ivy mengangguk lagi. "Iya. Dan Annisa menemukannya di New York. Dia mengirim mengabariku tadi pagi."
Alex menghela napas dalam-dalam, tampak seperti dia mencoba untuk memproses semua informasi ini. "Jadi, apa yang kamu rencanakan sekarang?"
Ivy merenung sejenak sebelum menjawab. "Sekarang, aku sedang bingung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ingin pergi ke New York untuk melihat Michael, tapi aku juga tidak ingin meninggalkanmu sendirian."
Alex mengangguk dengan penuh pengertian. "Aku mengerti, sayang. Tapi, kamu harus pergi melihat Michael. Itu penting."
Ivy merenung sejenak lagi. "Tapi, aku tidak ingin merusak rencana kita untuk bersama dan acara pernikahan kita juga tinggal beberapa minggu lagi. Aku tahu kita telah merencanakan ini sejak lama dan aku tidak ingin membatalkannya."
Alex tersenyum kepadanya. "Jangan khawatir tentang itu. Aku mengerti betapa pentingnya momen ini untukmu dan aku tidak ingin menghalangimu. Kamu harus pergi dan melihat Michael. Aku akan baik-baik saja disini.”
Ivy tersenyum. “Terima kasih, Alex. Kamu sangat baik padaku."
Mereka melanjutkan percakapan mereka sejenak lagi, membicarakan rincian tentang rencana Ivy untuk pergi ke New York. Alex mengurus semua pengaturan perjalanannya dan memberinya dukungan sepenuhnya.
Ivy dan Alex berjalan di bandara, tangan mereka tergenggam erat. Mereka tiba di depan pintu keberangkatan dan Ivy menoleh ke arah Alex, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku tidak ingin pergi," kata Ivy dengan suara lembut. "Aku ingin tetap bersamamu."
Alex menatap mata Ivy dengan penuh kasih sayang, lalu mencoba untuk meyakinkannya. "Kamu harus pergi, sayang. Kamu harus melihat Michael dan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Aku akan selalu menunggumu di sini."
Ivy mengangguk, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. "Aku tahu. Tapi aku merindukanmu, Alex. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berpisah denganmu."
Alex mengambil tangan Ivy dan menariknya lebih dekat. "Kamu tidak perlu merasa seperti itu. Aku akan selalu di sini, menunggumu. Kamu bisa menghubungiku kapan saja."
Ivy tersenyum lembut, namun tetap terlihat sedih. "Aku tahu, tapi itu tidak akan sama dengan memilikimu di sampingku."
Alex mengelus pipi Ivy dengan lembut. "Aku mengerti, sayang. Tapi kita harus memahami bahwa kadang-kadang kita harus melepaskan orang yang kita cintai untuk memberikan kesempatan pada kebahagiaannya sendiri."
Ivy menatap Alex dengan matanya yang berkaca-kaca, mencoba untuk mengontrol emosinya. "Aku mencintaimu, Alex. Kamu adalah segalanya bagiku."
Alex tersenyum lembut. "Aku juga mencintaimu, Ivy. Dan aku akan selalu mencintaimu, apa pun yang terjadi."
Alex menarik Ivy ke dalam pelukannya dan memeluknya erat-erat. Dia merasakan rasa sakit dan kesedihan dalam hatinya. Dia tidak ingin melepaskan Ivy, namun dia tahu bahwa Ivy harus pergi.
"Aku juga akan merindukanmu, sayang. Jangan khawatir, aku akan selalu menunggumu," ujar Alex dengan suara penuh kasih sayang.
Ivy merasa air matanya berlinang. Dia tidak ingin meninggalkan Alex, namun dia harus kembali ke New York. Dia merasakan rasa sedih yang sama dengan Alex, bahkan lebih dari itu.
Alex mengusap air mata Ivy dan menatapnya dengan lembut. Dia ingin meyakinkan Ivy bahwa dia akan selalu menunggunya.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, sayang. Kamu adalah segalanya bagiku," jawab Alex dengan suara lembut.
Suasana di sekitar mereka terasa hening, hanya terdengar suara langkah kaki dan keriuhan di bandara yang ramai. Ivy menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghela napas panjang.
"Waktu untuk aku pergi," kata Ivy dengan suara lembut. "Aku akan merindukanmu."
Alex mengangguk, lalu merangkul Ivy erat. "Aku juga akan merindukanmu, sayang. Tapi kamu harus pergi dan menyelesaikan apa yang harus kamu lakukan. Aku akan selalu ada untukmu."
Ivy merespon rangkulan itu dengan erat, mencoba untuk merasakan kehangatan dari tubuh Alex yang memeluknya. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan diri dari pelukan dan Ivy berjalan menuju pintu keberangkatan.
Mereka melepaskan pelukan dan Ivy mengambil kopernya. Dia menatap Alex dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
"Jaga dirimu baik-baik ya, Alex. Aku akan selalu merindukanmu," ujar Ivy dengan suara sedih.
"Iya, aku akan baik-baik saja. Kamu juga jaga dirimu dengan baik. Aku akan selalu menunggu kamu," ujar Alex sambil tersenyum.
Ivy menatap Alex dengan lembut dan mencium bibir Alex dengan lembut. Mereka melepaskan ciuman mereka dan Ivy mengambil langkah mundur.
"Sampai jumpa, Alex," ujar Ivy dengan suara sedih.
"Sampai jumpa, sayang. Aku akan selalu menunggu kamu," jawab Alex sambil tersenyum.
Ivy berbalik dan berjalan menuju pintu keberangkatan. Alex menatap Ivy dengan sedih dan memandangi langkah Ivy yang semakin menjauh dari dirinya. Dia merasa kehilangan dan kesepian.
Setelah Ivy pergi, Alex merasakan kekosongan dalam hatinya. Dia tidak ingin kehilangan Ivy, namun dia tahu bahwa dia harus menunggu hingga Ivy kembali. Dia duduk di kursi di bandara dan memandang keluar jendela dengan mata kosong. Suasana di sekitarnya terasa sunyi dan hampa.
Alex mengambil teleponnya dan mengirim pesan singkat pada Ivy.
"Aku merindukanmu, sayang.”
Akhirnya, Ivy berjalan ke dalam pesawat dan duduk di kursi. Dia mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk mempersiapkan dirinya untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tapi dia siap untuk menghadapinya.
Ivy mengambil ponselnya yang tiba-tiba bergetar, ia melihat isi pesan yang dikirimkan Alex.
Ivy sekarang benar-benar merasakan kesedih harus meninggalkan Alex di saat mereka sednag merajut kebahagiaan bahkan akan meresmikan momen kebahagian mereka dengan pernikahan beberapa minggu lagi.
Hanya saja hatinya tidak bisa berbohong, ia ingin melihat Michael, ia tidak tahu apakah hatinya akan berubah terhadap Alex setelah ia melihat Michael, hanya perasaannya yang tahu.
Satu yang pasti ia harus menyelesaikan semua masa lalunya sebelum membuat lembaran yang baru.
Sebelum peswat berangkat, Ivy dmencari nama Annisa di kontak ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan.
“Annisa, aku akan berangkat ke New York hari ini.”
Setelah itu Ivy mematikan ponselnya dan berharap perjalanannya akan sampai cepat ke New York.