It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 26



Ivy duduk di kursi rias dengan penuh semangat. Dia mengambil napas dalam-dalam dan menutup matanya sejenak, berusaha untuk tenang. Hari ini adalah hari pertamanya kembali menjadi model setelah vakum selama beberapa tahun, bahkan untuk panggung pertamanya ini dia sudah di undang di acara Paris Fashion Show.


Acara tersebut diadakan di sebuah gedung bergaya Art Deco yang bernama Grand Palais, yang merupakan lokasi ikonik bagi Paris Fashion Week. Ivy senang bisa kembali berada di atas panggung dan menunjukkan bakatnya lagi.


Sementara itu, di panggung utama, para kru sedang sibuk mempersiapkan acara fashion show. Lampu-lampu sorot disiapkan, musik diputar, dan kursi penonton disusun rapi. Semua orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


Tiba-tiba, telpon Ivy berdering. "Halo?" sapanya.


"Ivy, ada perubahan jadwal. Kau harus siap dalam 15 menit," kata agennya di seberang sana.


"Baik, aku siap," balas Ivy dengan cepat.


Ivy bergegas berdiri dari kursi rias dan berjalan menuju panggung utama. Saat dia berjalan, dia melihat sekeliling dan melihat banyak model lain yang sedang sibuk bersiap-siap. Beberapa dari mereka tampak gugup, sementara yang lainnya terlihat sangat percaya diri.


Ketika dia tiba di panggung, dia melihat seorang perancang busana sedang menunggunya di tengah panggung, dia adalah Antoine Dubois, seorang perancang busana terkenal di Paris. “Hai Ivy! Aku senang kamu bisa datang tepat waktu," sapa Antoine.


"Halo! Aku juga senang bisa bergabung untuk menampilkan hasil rancanganganmu, Antoine,” jawab Ivy. Antoine mengangguk.


"Segera ganti pakaianmu, kamu akan menjadi model pertama kami," kata Antoine sambil menunjuk ke ruang ganti.


Ivy bergegas menuju ruang ganti dan segera berganti pakaian. Ketika dia keluar dari ruang ganti, dia memakai gaun hitam yang sangat elegan. Rambutnya diatur dengan rapi dan dia memakai sepatu hak tinggi berwarna silver.


Dia berjalan menuju panggung dan merasa sedikit gugup ketika dia melihat banyak orang di depannya. Namun, dia mengambil napas dalam-dalam dan mengingat latihan yang telah dilakukannya selama beberapa minggu terakhir.


Dia mulai berjalan di atas panggung dengan elegan, mengikuti irama musik yang dimainkan. Mata penonton tertuju pada dirinya dan beberapa orang mulai bersorak untuknya. Ivy merasa senang dan percaya diri, dia tahu dia telah kembali pada tempatnya yang benar.


Ketika show selesai, Ivy kembali ke ruang ganti untuk berganti pakaian. Dia mendengar suara gaduh di belakangnya dan dia mencurahkan perhatiannya ke sumber suara itu. Dia melihat seorang model lain sedang berselisih dengan perancang busana.


"Apa yang salah?" tanya Ivy pada teman seprofesinya.


"Antoine bilang aku terlalu kurus dan tidak bisa menampilkan busananya dengan baik," jawab model lain dengan kesal.


Ivy mencoba menenangkan temannya dan berkata, "Jangan khawatir, kamu adalah seorang model yang hebat dan tidak kamu tidak perku mencemaskan perhatianmu pada kata-kata negatif yang diucapkan oleh orang lain. Ingatlah bahwa tubuhmu adalah milikmu dan kamu harus merasa nyaman dengan dirimu sendiri."


Model lain tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Ivy. Mereka berbicara sejenak dan kemudian berpisah untuk berganti pakaian.


Saat Ivy berganti pakaian, dia mendengar percakapan di antara para kru di belakangnya. Mereka membicarakan tentang model yang tiba-tiba sakit dan tidak bisa tampil di show hari ini. Ivy langsung sadar bahwa dia adalah satu-satunya model yang tersedia untuk menggantikannya.


Ivy mengambil nafas dalam-dalam dan memutuskan untuk mengambil kesempatan ini. Dia berbicara pada Antoine dan menawarkan dirinya untuk tampil di koleksi yang seharusnya ditampilkan oleh model yang sakit tadi.


"Apakah kamu yakin bisa melakukannya?" tanya Antoine dengan ragu.


"Iya, aku bisa,” jawab Ivy dengan percaya diri.


Antoine memberikan gaun dan aksesoris baru untuk Ivy. Ivy cepat-cepat berganti pakaian dan menampilkan busana tersebut di atas panggung.


Dia tampil dengan sangat memukau, gerakan-gerakannya sangat lancar dan elegan. Penonton terkesima dan banyak yang memberikan standing ovation. Ivy merasa sangat puas dengan dirinya.


"Kamu luar biasa tadi di atas panggung, Ivy,” ujar model lain.


Ivy tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia merasa senang bisa menjadi bagian dari fashion show ini dan berharap dia bisa melakukan pekerjaan ini seterusnya karena bisa membuatnya bahagia.


"Siap untuk berpesta?" tanya model lain dengan gembira.


“Ivy, kamu akan menyusulkan?” Tanya salah model yang melihat Ivy belum berganti pakaian.


“Iya, aku akan segera menyusul,” ucap Ivy.


Ivy berjalan ke ruang ganti untuk berganti pakaian dan bersiap untuk acara setelah pesta. Namun, ketika dia berjalan di lorong, seseorang tiba-tiba memanggil namanya. Ivy memutar kepala dan melihat bahwa itu adalah Alex, kekasihnya.


"Selamat, sayang," kata Alex, sambil tersenyum. "Kamu sangat cantik di atas panggung tadi. Aku sangat bangga padamu."


Ivy merasa senang dan tersenyum. Dia sangat merindukan Alex selama dia berada di Paris. Meskipun mereka sering berbicara melalui telepon, Ivy merasa sedih karena tidak bisa bersama Alex selama dia tampil di Paris Fashion Week.


"Aku merindukanmu," kata Ivy.


"Aku juga merindukanmu, sayang," jawab Alex, sambil mengelus pipi Ivy. "Apa kabarmu?Apa yang kamu rasakan setelah tampil kembali di atas panggung?”


Ivy menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. "Sulit untuk dijelaskan," katanya. "Tapi rasanya begitu menyenangkan dan aku merasa sangat bangga dengan diriku sendiri."


Alex tersenyum. "Aku juga merasa bangga padamu. Kamu begitu hebat dan cantik, sayang."


Ivy tersenyum dan mencubit lengan Alex dengan lembut. "Kamu tidak romantis, Alex. Kita di Paris, tempat yang paling romantis di dunia, dan kamu hanya mengatakan itu?"


Alex tertawa. "Maafkan aku, sayang. Aku merasa terlalu gugup dan senang melihatmu, hingga lupa untuk memberikan kata-kata romantis."


Ivy tertawa dan menggenggam tangan Alex. "Aku memaafkanmu. Bagaimana kalau kita keluar dan menikmati malam ini?"


“Tapi, bukannya kamu akan pergi ke pesta bersama teman-teman modelmu yang lain?” Tanya Alex.


“Pergi bersamamu akan membuatku lebih baik,” ucap Ivy mengecup pipi Alex.


Alex mengangguk dan tersenyum. “Ide bagus. Ayo, kita pergi."


Mereka keluar dari ruang ganti dan berjalan ke jalan raya. Ivy merasakan udara yang sejuk dan segar di wajahnya. Paris terlihat sangat indah di malam hari, dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip di sepanjang jalan.


"Kamu tahu, sayang," kata Alex, sambil mengelus tangan Ivy. "Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu di sampingku. Kamu membuat hidupku lebih berwarna dan penuh cinta."


Ivy merasa hangat di dalam hatinya. Dia mencintai Alex dan merasa sangat beruntung memiliki seseorang seperti dia di sisinya.


"Aku juga tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu, Alex," kata Ivy. "Kamu membuat hidupku lebih baik dan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga."


Mereka berjalan-jalan di sepanjang jalan, sambil menikmati keindahan kota dan kebersamaan mereka. Alex memeluk Ivy dengan erat dan mencium pipinya dengan lembut. Ivy merasa begitu bahagia dan tenang di dalam pelukan Alex.