It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 32



Ivy merasakan kekhawatiran yang semakin memuncak dalam hatinya. Setelah Annisa pergi, ia memilih untuk masih duduk di kafe selama beberapa menit lagi, terus berpikir tentang keberadaan Michael.


Ivy merasa sedih dan merasa seperti ada yang salah dengan hidupnya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan ke mana Michael pergi dan apa yang sedang dilakukannya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia merasa kesepian? Ivy tahu bahwa Michael memiliki banyak masalah dalam hidupnya dan dia khawatir bahwa dia tidak dapat mengatasinya sendiri.


Ivy tidak bisa membiarkan kekhawatirannya mereda. Dia merasa perlu untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Michael dan jika dia dalam bahaya, dia harus berusaha menolongnya.


Tak lama kemudian, Ivy mengambil keputusan untuk mencari tahu tentang keberadaan Michael. Dia mencari lagi nomor telepon orang tua Michael di kontaknya dan memutuskan untuk menghubungi mereka.


Setelah telpon itu terangkat, Ivy menanyakan kabar mereka terlebih dahulu, setelah itu Ivy menanyakan kabar Michael kepada mereka.


"Maafkan kami, Ivy. Kami tidak tahu di mana dia berada. Kami khawatir tentang keberadaannya juga," jawab ayah Michael dengan nada rendah.


Ivy merasa sedih mendengar kabar tersebut. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk melakukan beberapa pencarian sendiri.


Ivy mulai mencari informasi tentang Michael di media sosial dan internet. Dia memeriksa semua media sosial yang mungkin dimiliki Michael, mencari tahu di mana dia bekerja, dan bahkan mencoba mencari informasi tentang keluarganya.


Sayangnya, Ivy tidak menemukan informasi apa pun tentang Michael. Semua yang dia temukan adalah berita lama dan beberapa gambar dari acara yang pernah dihadiri bersama.


Ivy merasa putus asa. Dia merasa seperti ada yang salah dengan dirinya sendiri. Dia merasa bahwa dia tidak dapat melakukan hal apapun untuk menolong Michael.


Namun, Ivy tidak menyerah. Dia memutuskan untuk mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Michael dengan bertanya pada teman-teman Michael yang dulu pernah dia temui. Dengan harapan ada yang tahu tentang keberadaan Michael.


Ivy akhirnya mendapat nomor telepon teman Michael. Dia memutuskan untuk menghubunginya dan bertanya tentang keberadaan Michael.


"Aku tidak tahu di mana dia berada, Ivy. Aku juga khawatir tentangnya," kata teman Michael dengan suara cemas.


Ivy merasa semakin frustrasi. Dia merasa seperti tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menemukan Michael. Dia memutuskan untuk kembali ke apartemennya sejenak dan akan melakukan pencarian Michael lebih lagi besok.



Ivy duduk di ruang tunggu bandara dengan kekhawatiran yang tak tertahankan di dadanya. Ia tak bisa menahan rasa khawatirnya yang semakin hari semakin bertambah. Ivy menutup mata dan mencoba untuk bernapas dengan tenang dan mencari ketenangan pikiran. Namun, tak peduli berapa kali ia mencoba, ketakutannya terus terpatri di pikirannya.


Setelah beberapa waktu, Ivy merasa sedikit lebih baik dan memutuskan untuk kembali ke Paris. Ia memutuskan untuk bertemu tunangannya, Alex. Ivy merasa perlu mendiskusikan kekhawatirannya dan merasa bahwa Alex akan mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan solusi yang tepat.


Setelah mendarat di Paris, Ivy bergegas menuju apartemen Alex. Ia mengetuk pintu dengan cepat dan menunggu dengan gelisah sampai Alex membukakan pintu. "Hai sayang, apa yang terjadi?" tanya Alex sambil mengelus pipi Ivy. Tetapi Ivy hanya diam saja menundukkan kepalanya.


Alex menarik Ivy ke dalam pelukannya dan berkata dengan lembut, "Apa yang membuatmu merasa khawatir, sayang?"


Ivy tetap tidak menjawab.


“Kita masuk dulu ya,” pinta Alex dan menarik Ivy untuk duduk di ruang tamu apartemennya. “Kamu tunggu disini, aku ambilkan minum dulu.” Ucap Alex dan berjalan ke dapur mengambilkan minum untuk Ivy.


Tidak lama kemudian Alex meletakkan minuman di atas mejad dan duduk di hadapan Ivy.


Sementara itu Ivy duduk dengan tegang di ruang tamu Alex. Ia memperhatikan setiap gerakan Alex yang tampak begitu tenang dan terkendali, Ivy merasa cemas untuk menceritakan sebuah informasi yang membuat hatinya terusik sejak beberapa minggu belakangan.


"Ivy, ada apa sebenarnya?" tanya Alex, menarik perhatian Ivy dari lamunannya.


Ivy menarik nafas dalam-dalam, "Sudah beberapa hari aku mencoba mencari Michael. Aku telah menghubungi keluarganya dan teman-temannya, tapi tak ada yang tahu keberadaannya. Aku takut sesuatu telah terjadi padanya."


Ivy mengangguk, "Ya, dia."


"Kenapa kau begitu khawatir padanya? Apa yang membuatmu berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanya Alex dengan tatapan lekat ke Ivy.


Ivy merasa canggung. Ia takut Alex akan menganggapnya overthinking. Namun, ia juga tahu bahwa Alex adalah orang yang paling bisa ia percayai dan berbicara terbuka dengan dia.


"Aku tahu aku mungkin terdengar seperti orang yang paranoid, tapi sewaktu aku di Jepang kemarin aku bertemu dengan Annisa,” ucap Ivy.


Ivy pun mulai menceritakan kejadian saat ia bertemu dengan Annisa dan apa yang mereka bicarakan yang membuat mereka terkejut.


“Aku mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Bahkan, keluarganya dan teman-temannya juga tidak tahu keberadaannya." Ucap Ivy menunduk.


Alex meraih tangan Ivy dengan lembut, "Tenanglah sayang, aku akan membantumu mencari tahu apa yang terjadi pada Michael. Kamu tahu aku selalu di sampingmu."


Ivy merasa lega mendengar dukungan dari Alex. Ia merasa seperti memiliki beban yang lebih ringan karena bisa membagikan kekhawatirannya dengan seseorang. Namun, ia juga merasa sedikit bersalah karena menumpahkan kekhawatirannya ke Alex, padahal Alex sendiri adalah tunangannya.


"Maafkan aku, Alex. Aku tahu sebentar lagi kita akan menikah, aku tahu seharusnya aku tidak membicarakan hal ini denganmu dan membebanimu.” Ucap Ivy.


Alex tersenyum dan mengusap tangan Ivy dengan lembut, "Kamu selalu menjadi prioritasku, sayang. Aku takkan pernah membiarkanmu menghadapi masalah sendirian. Kita akan menyelesaikannya bersama-sama."


Ivy merasa tersentuh dengan kata-kata Alex. Ia merasa terima kasih memiliki seseorang seperti Alex di sampingnya. Ia berharap Alex benar-benar bisa membantunya menemukan Michael.


Beberapa hari kemudian, Alex maupun Ivy masih berusaha mencari keberadaan Michael, tetapi belum menemukan hasil apapun atau petunjuk apapun tentang keberadaan Michael.


"Aku sangat khawatir tentang apa yang telah terjadi pada Michael," ujarnya sedih.


Alex merangkulnya erat dan memberinya sedikit kehangatan. "Aku mengerti perasaanmu, sayang. Tapi kita harus mencari tahu apa yang terjadi dengan Michael dan mencoba menemukannya."


Ivy mengangguk dan memandang ke arah Alex dengan harapan. "Tapi bagaimana kita bisa menemukannya? Dia hilang tanpa jejak."


"Kita bisa mulai dengan menghubungi orang-orang yang mungkin tahu tentang keberadaannya," jawab Alex. "Mungkin dia telah menghubungi seseorang, atau ada yang melihatnya di suatu tempat."


Ivy mengangguk dan mulai menenangkan diri.


Mereka mulai mencari tahu tentang keberadaan Michael. Ivy menghubungi teman-temannya dan anggota keluarganya lagi, sementara Alex menghubungi kontak bisnisnya yang mungkin memiliki informasi.


Setelah beberapa hari mencari, mereka menerima telepon dari seorang pria yang mengklaim telah melihat Michael di sebuah kafe di kota terdekat. Ivy dan Alex segera pergi ke kafe itu untuk menemukan Michael.


Saat mereka tiba di kafe, mereka melihat seorang pria yang mirip dengan Michael sedang duduk di sudut ruangan. Ivy merasa jantungnya berdebar-debar dan berharap bahwa itu benar-benar Michael.


Mereka berjalan mendekati pria itu, dan ketika Ivy memanggil nama Michael, pria itu memandang mereka dengan tatapan kosong. Ivy merasa kecewa ketika dia menyadari bahwa itu bukan Michael.


"Tidak apa-apa," ujarnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Kita masih memiliki beberapa kontak yang belum kita hubungi. Mungkin salah satunya memiliki informasi tentang keberadaannya."


Mereka kembali ke mobil dan Ivy menangis di pelukan Alex. "Aku sangat mengkhawatirkan Alex,” katanya. "Aku tidak tahu bagaimana hidupnya sekarang.”


“Kita akan menemukannya, sayang. Kita tidak akan berhenti mencari sampai kita menemukannya." Ucap Alex.