It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 21



Setelah Ivy mengetahui bahwa dia keguguran dan harus segera melakukan operasi, dia merasa hancur. Semua mimpinya untuk menjadi ibu seketika hancur dan dia merasa seperti dia telah kehilangan segalanya. Matanya berkaca-kaca dan dia merasakan perasaan sedih yang dalam. Ivy merasakan sakit fisik dan emosional yang begitu parah sehingga dia kesulitan untuk bernapas.


"Bagaimana bisa ini terjadi padaku? Apa yang salah? Apa yang salah dengan bayiku?" tanya Ivy dengan suara terisak-isak.


Dokter mencoba untuk menenangkan Ivy dan memberitahunya bahwa keguguran adalah sesuatu yang umum terjadi pada banyak wanita. Namun, itu tidak menghilangkan kesedihan Ivy.


"Aku tidak bisa kehilangan bayiku, saya tidak bisa." Ucap Ivy dengan suara lemah.


Keluhan Ivy membuat dokter semakin serius dalam menangani kasusnya. Setelah memeriksa kondisinya, dokter itu memutuskan untuk segera melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Ivy merasa takut dan tidak ingin kehilangan bayinya, namun dia tahu bahwa dia harus melakukan apa yang terbaik untuk dirinya dan bayinya.


Setelah operasi selesai, Ivy duduk di tempat tidurnya dan merasakan kesedihan yang dalam. Keluarganya mencoba menenangkannya dan menunjukkan dukungan mereka, tetapi Ivy merasa seperti dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa bayinya telah pergi.


"Aku tidak bisa melakukannya, saya tidak bisa hidup tanpa bayiku." Ucap Ivy dengan terbata-bata.


Mereka mencoba menghiburnya, tetapi Ivy merasa seperti tidak ada yang bisa menghilangkan kesedihan yang dalam dan kekosongan dalam hatinya. Dia merasa sendirian dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia kehilangan bayinya. Dia merindukan bayinya yang belum sempat dikenal dan dia merindukan Michael yang tidak datang. Semua itu membuatnya merasa sangat kesepian.


Ivy merasa seperti hidupnya telah hancur berkeping-keping dan dia tidak tahu bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya. Namun, keluarganya terus mendukungnya dan membantunya untuk bangkit kembali. Ivy akhirnya memutuskan untuk menerima kenyataan dan memulai proses penyembuhan. Meskipun sulit, dia bertekad untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya dengan lebih baik.


Setelah Ivy pulih dari operasi keguguran, dia merasa hancur dan sangat terpuruk. Namun, dia tidak bisa terus berduka dan harus mencari tahu apa yang terjadi pada Michael.


Ivy mencoba menghubungi Michael melalui telepon, pesan teks, dan media sosial, tetapi selalu gagal. Dia mencoba menelepon ke kantor Michael, tetapi tidak pernah bisa menghubunginya. Ivy merasa semakin terpuruk dan cemas karena tidak dapat menghubungi Michael.


Beberapa hari kemudian, Ivy mencoba menghubungi keluarga Michael untuk mencari tahu keberadaannya. Keluarga Michael mengatakan bahwa mereka tidak tahu di mana Michael berada dan tidak memiliki kabar dari dia dalam beberapa hari terakhir.


Ivy merasa semakin putus asa. Dia merasa seperti dunianya runtuh dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa kesepian dan tidak memiliki siapa pun untuk berbicara.


Namun, Ivy tidak menyerah dan mencoba mencari tahu keberadaan Michael dengan cara lain. Dia mengunjungi tempat-tempat yang biasa Michael kunjungi, mencari di media sosial dan bahkan pergi ke tempat kerja Michael untuk mencari tahu di mana dia berada.


Namun, semua upaya Ivy sia-sia. Setiap kali Ivy mencoba menghubungi atau mencari Michael, dia selalu gagal. Ivy merasa semakin terpuruk dan kehilangan harapan untuk menemukan Michael.


Ivy merasa seperti dia telah kehilangan segalanya, bayi mereka, dan orang yang dicintainya. Dia merasa sendirian dan kehilangan arah hidupnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Ivy merasa putus asa, dia tidak tahu bagaimana harus terus hidup setelah kehilangan Michael dan bayi mereka. Setiap hari, Ivy merasa semakin lelah dan hancur. Dia merasa bahwa hidupnya tidak lagi memiliki arti dan tujuan.


"Bagaimana aku bisa melupakan semuanya?" Batin Ivy. "Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa seperti tidak ada jalan keluar lagi."


Ivy mulai berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dia merasa bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa sakit yang ada dalam dirinya.


"Tidak mungkin aku terus hidup seperti ini," batin Ivy. "Mungkin lebih baik jika aku tidak ada di dunia ini. Setidaknya, aku tidak akan merasakan rasa sakit ini lagi."


"Aku merindukanmu, Michael,” gumam Ivy sambil menangis. "Apa yang harus aku lakukan tanpamu?”


Ivy merasa terjebak dalam kegelapan dan kesedihan. Dia merasa bahwa tidak ada yang bisa membantu dia keluar dari perasaannya yang merusak ini.


"Aku tidak bisa melupakan semuanya," batin Ivy. "Aku tidak bisa terus hidup dengan rasa sakit ini. Mungkin lebih baik jika aku mengakhiri semuanya. Itu akan menjadi akhir yang lebih baik daripada terus hidup dalam kesedihan dan kesepian."


Ivy mulai merencanakan cara untuk mengakhiri hidupnya sedramatis mungkin. Dia tidak tahu apakah itu akan menghilangkan rasa sakitnya, tetapi dia merasa bahwa itu adalah satu-satunya jalan keluar yang ada. Dia merasa sedih dan terasing, dan merindukan Michael dan bayi mereka setiap saat.


Meskipun Ivy merencanakan cara yang dramatis untuk mengakhiri hidupnya, keluarganya merasa ada yang salah dan mencurigai bahwa Ivy memiliki pikiran untuk bunuh diri. Mereka mengambil tindakan untuk menghentikannya.


Suatu malam, Ivy mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan obat-obatan yang sangat berbahaya. Tetapi, keluarganya menemukan dia tepat waktu dan membawa dia ke rumah sakit.


"Sudah cukup, Ivy!" kata ibu Ivy sambil menangis. "Kamu harus berhenti melakukan ini. Kamu harus tetap hidup!"


Ivy merasa sedih dan tidak bisa mengerti mengapa keluarganya tidak membiarkan dia mengakhiri hidupnya. Baginya, itu adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa sakitnya.


Tapi keluarganya merasa tidak bisa mengatasi masalah ini sendiri, mereka menghubungi psikolog untuk membantu Ivy.


Pada sesi pertama dengan psikolog, Ivy merasa sulit untuk membuka diri dan berbicara tentang perasaannya. Namun, setelah beberapa sesi, Ivy merasa lebih nyaman dan mulai mengungkapkan perasaannya dengan lebih terbuka.


"Bagaimana perasaanmu saat ini, Ivy?" Tanya psikolog.


"Saya merasa hancur dan tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup saya tanpa Michael dan bayi kami," jawab Ivy dengan suara terbata-bata.


"Ya, itu pasti sangat sulit untuk dihadapi," kata psikolog itu dengan lembut. "Saya ingin kamu tahu bahwa perasaanmu normal dan wajar. Kehilangan orang yang kita sayangi dan mimpi kita bisa sangat menghancurkan."


Ivy merasa terhibur oleh kata-kata psikolog itu dan merasa bahwa dia tidak sendiri dalam perasaannya.


"Bagaimana cara saya bisa bangkit dari perasaan ini?" Tanya Ivy dengan lemas.


"Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk sembuh dan itu adalah proses yang sulit. Namun, hal yang terpenting adalah kamu harus tetap mengasah pikiran positif dan memfokuskan pada hal-hal yang memberi kebahagiaan," jawab psikolog itu.


Ivy mencoba untuk mengikuti saran psikolog dan mencari kebahagiaan dalam kegiatan-kegiatan yang dia sukai seperti berolahraga, membaca buku, dan berkumpul dengan teman-temannya. Ivy merasa bahwa itu membantunya untuk mengatasi kesedihannya.


Meskipun itu bukanlah pengganti kehilangan yang dia alami, Ivy merasa bahwa dia sedikit demi sedikit mulai pulih dan merasa lebih baik setiap hari. Dia tahu bahwa dia akan selalu merindukan Michael dan bayi mereka, tetapi dia belajar untuk meneruskan hidupnya dan mencari kebahagiaan dalam hal-hal yang lain.