
Ivy duduk di samping Michael di rumah sakit, menatap lekat-lekat wajah pria itu yang terlihat lelah. Michael terlihat begitu rapuh dan rentan saat ini, jauh berbeda dengan sosok energik yang selalu ia ingat selma ini.
"Apa kabarmu?" tanya Ivy pelan.
Michael menatap Ivy dengan mata sayu, "Aku merasa lelah dan sakit."
Ivy merasa sedih mendengarnya, "Aku tahu rasanya," ucapnya sambil meraih tangan Michael. "Aku akan selalu bersamamu. Kita akan melewati ini bersama-sama."
Michael mengangguk lemah. Ivy mencoba tersenyum lembut untuk memberikan kekuatan pada Michael, meskipun dia sendiri merasa takut.
Mereka terdiam sejenak, suasana yang mengendap membuat suasana terasa hening. Ivy memejamkan matanya sejenak dan mendoakan yang terbaik untuk Michael.
Setelah beberapa saat, Michael terlihat terjaga dan memandang Ivy dengan wajah yang lembut, "Terima kasih sudah datang, Ivy."
Ivy mengangguk, "Aku akan selalu ada untukmu."
Michael mengambil napas dalam-dalam, "Bagaimana kabarmu?"
Ivy tersenyum, "Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa."
"Tidak, aku tahu kamu merasa sedih dan cemas karena aku," ucap Michael.
Ivy terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum dan membalas, "Ya, aku khawatir. Tapi aku juga tahu bahwa kamu akan baik-baik saja."
Michael tersenyum dan menatap Ivy dengan penuh kasih, "Aku beruntung memiliki teman sebaik kamu."
Ivy merasa hangat di hatinya, "Kita saling menguatkan, ya?"
Michael mengangguk, "Ya, kita saling menguatkan."
Beberapa saat kemudian, perawat datang dan memberikan obat pada Michael. Ivy membantu Michael meminum obat tersebut. Setelah itu, mereka duduk kembali di samping tempat tidur.
"Sudah lama kamu menunggu?" tanya Michael.
Ivy menggeleng, "Tidak terlalu lama. Aku tahu kamu sangat membutuhkan seseorang untuk menemani selama masa pemulihanmu."
Michael tersenyum, "Aku sangat berterima kasih padamu."
Ivy tersenyum, "Tidak perlu berterima kasih. Kamu adalah temanku. Aku akan selalu ada untukmu."
Michael menatap Ivy dengan pandangan tulus, "Kamu sungguh luar biasa, Ivy. Aku sangat beruntung memiliki teman seperti kamu."
Ivy tersenyum malu, "Kita saling membantu, Michael."
Michael tersenyum, "Aku tahu itu. Dan aku sangat berterima kasih padamu."
Setelah beberapa menit berlalu, Ivy merasa bosan. Dia mulai memainkan ponselnya, melihat-lihat di media sosial, membaca berita terbaru, dan menonton video lucu. Dia tidak menyadari bahwa Michael telah terlelap di sampingnya.
Sekitar setengah jam kemudian, Michael akhirnya terbangun. Dia merasakan tangan Ivy yang mengusap punggungnya, dan dia tersenyum kecil. "Hey," katanya dengan suara pelan.
Ivy langsung mematikan ponselnya dan menatap Michael. "Hey, bagaimana perasaanmu?" tanya Ivy dengan lembut.
Michael mengangkat bahu dan menghela nafas. "Sakit, tapi aku akan baik-baik saja," katanya. Dia menatap Ivy dan tersenyum.
Ivy tersenyum dan mengangguk. Dia meraih tangan Michael dan menggenggamnya erat-erat.
Mereka duduk di sana untuk beberapa menit, hanya berbicara tentang keadaan Michael dan bagaimana dia merasa. Ivy memperhatikan bagaimana Michael masih terlihat pucat dan lelah, tapi dia juga melihat cahaya di matanya ketika dia berbicara tentang masa depan.
"Tapi aku takut aku akan kehilangan semangatku untuk menjalani kehidupanku sendiri nanti dengan kondisiku seperti ini,” kata Michael, tiba-tiba.
Ivy membelai punggung tangannya dan berkata, "Kenapa kamu khawatir tentang itu?"
"Karena aku tidak tahu apakah akan ada orang yang mau bersamaku dan menerimaku apa adanya,” jawab Michael.
Ivy terdiam, ia bingung mau berkata apa. “Jangan pikirkan itu sekarang, hal yang paling utama sekarang kamu bisa pulih dan sehat seperti dulu.”
Michael mengangguk dan mengambil napas dalam-dalam. "Mungkin kamu benar," katanya.
Ivy kemudian memutuskan untuk menyalakan televisi untuk mengalihkan perhatian Michael. Mereka menonton film komedi dan tertawa bersama-sama. Ivy membawa beberapa makanan ringan dan minuman untuk mereka berdua. Setelah film selesai, Ivy mematikan televisi dan melihat jam di dinding.
"Oh, sudah pukul 10 malam," ucapnya sambil mengernyitkan dahi. "Aku rasa aku harus pulang sekarang."
Michael menatap Ivy dan memegang tangannya. "Terima kasih sudah menemaniku malam ini," ucapnya. "Kamu sangat membantuku."
Ivy tersenyum dan mencubit pipi Michael. "Tentu saja, selalu siap membantu kapanpun kamu butuhkan," jawabnya.
"Terima kasih, semoga begitu," ucap Michael.
Ivy kemudian berjalan keluar rumah sakit, menunggu taksi untuk membawanya pulang. Dia membawa kebimbangan lain di hatinya.
Ivy tersenyum puas dan merasa senang melihat bahwa Michael mulai bergerak dengan lebih mudah. "Nampaknya latihan yang kamu lakukan benar-benar membantu ya," ujarnya dengan nada suara yang ceria.
Michael hanya tersenyum dan mengangguk. "Iya, terima kasih banyak untuk semua bantuannya," katanya.
Mereka kemudian berjalan ke sofa yang berada di sebelah jendela besar. Ivy membantu Michael untuk duduk di sofa dan kemudian duduk di sebelahnya.
"Kamu merasa lelah?" tanya Ivy.
"Agak lelah, tapi tidak seburuk sebelumnya," jawab Michael.
"Mungkin kita bisa membicarakan sesuatu yang menyenangkan, agar kamu tidak merasa terlalu lelah," usul Ivy. "Ada ide?
Michael berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Mungkin kamu bisa menceritakan sedikit tentang dirimu? Seperti apa pekerjaanmu sekarang, bagaimana kehidupanmu di Paris atau mungkin tempat favoritmu disana?”
Ivy tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku akan menceritakan sedikit tentang diriku.” Ivy menceritakan semua hal tentang dirinya selama dua tahu terpisah dari Michael, tidak ada satu hal kecilpun yang ia tutupi, kecuali tentang Alex.
Michael tampak tertarik mendengar cerita Ivy. "Menarik sekali.”
Ivy tersenyum dan berkata, "Aku suka pergi ke pantai saat musim panas tiba. Aku suka suara ombak dan aroma laut yang segar. Aku juga suka melihat matahari terbenam di laut. Itu sangat indah."
Michael mengangguk. "Aku juga suka pantai. Itu adalah tempat yang sangat tenang dan damai."
Mereka kemudian bercakap-cakap tentang berbagai hal selama beberapa menit, termasuk tentang film favorit mereka dan makanan favorit mereka. Ivy kemudian melihat ke arloji di tangannya dan berkata, "Sudah waktunya untuk aku pulang. Kamu akan baik-baik saja, ya?"
Michael mengangguk dan tersenyum. "Aku akan baik-baik saja. Terima kasih banyak untuk semuanya, Ivy."
Ivy juga tersenyum dan berdiri. "Tidak masalah. Aku senang bisa membantu. Sampai jumpa lagi."
Setelah Ivy pergi, Michael merasa sedikit kesepian, tetapi satu hal yang tidak Ivy tahu, sebenarnya Michael tahu tentang Alex.
…
Alex membuka laptopnya dan membuka aplikasi panggilan video. Setelah beberapa detik menunggu, Ivy muncul di layar laptop. Ivy terlihat lelah dan terlihat bahwa dia baru saja bangun dari tidur. Ivy tersenyum ketika dia melihat Alex dan Alex juga tersenyum melihat wajah tunangannya.
"Hey, sayang. Apa kabar kamu?" tanya Alex dengan penuh perhatian.
"Baik, sayang. Bagaimana kabarmu? Sudah makan pagi?" jawab Ivy.
"Baik juga, sayang. Aku sudah makan pagi. Aku baru saja terbangun," kata Alex.
"Oh begitu. Aku juga baru saja bangun. Terima kasih sudah menelepon. Apa kabar di sana?" tanya Ivy.
"Aku khawatir dengan kondisi Michael. Bagaimana keadaannya?" tanya Alex.
Ivy mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Alex. Ivy merasa khawatir dengan kondisi Michael, namun dia mencoba untuk tidak terlalu menunjukkan rasa khawatirnya di depan Alex.
"Michael masih dalam proses pemulihan. Dia sedang menjalani terapi fisik dan semoga akan segera pulih," kata Ivy dengan suara lembut.
"Oh, aku sangat khawatir tentangnya," ujar Alex.
"Ya, aku juga. Tapi, aku tetap kuat dan berusaha positif. Aku tahu Michael akan segera pulih," kata Ivy sambil tersenyum ke arah Alex.
"Baguslah. Kamu hebat sekali, sayang," kata Alex.
"Sekarang, aku ingin tahu tentangmu. Apa yang kamu lakukan hari ini?" tanya Ivy.
"Hari ini aku akan bertemu dengan beberapa klien untuk membahas proyek-proyek baru. Aku berharap ini akan menjadi pertemuan yang produktif," kata Alex.
"Oh, semoga berhasil ya. Aku doakan kamu sukses," kata Ivy.
"Terima kasih, sayang. Sekarang, kapan kamu akan kembali ke Paris?" tanya Alex.
Ivy mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Alex. Ivy tahu Alex merindukannya dan ingin bertemu dengannya. Namun, Ivy tidak bisa meninggalkan Michael sendirian di sana.
"Belum bisa dipastikan, Alex. Aku harus tetap di sini sampai Michael benar-benar sembuh. Tapi aku akan selalu menghubungimu dan memberitahumu perkembangan terbaru," jelas Ivy.
"Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu. Ingatlah untuk selalu menjaga kesehatanmu juga, Ivy," ujar Alex sambil tersenyum lembut.
"Iya, Alex. Aku akan selalu menjaga kesehatanku. Terima kasih atas perhatiannya,” ujar Ivy dengan tersenyum.