
Ivy terlelap dalam tidurnya, ketika tiba-tiba ia merasakan sebuah guncangan di tubuhnya. Dia terbangun dan merasa kebingungan, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ketika ia membuka matanya, Ivy melihat Michael berdiri di depannya dengan wajah yang muram dan penuh luka.
"Dia telah meninggal, Ivy," kata Michael dengan suara lemah, "Dan ini semua adalah kesalahanku. Aku minta maaf."
Ivy merasa terkejut dan tak percaya. Dia mencoba untuk memeluk Michael, tetapi ia tidak merasakan kehadirannya. Ivy tiba-tiba menyadari bahwa Michael tidak lagi berada di dunia ini.
"Dia tidak akan pernah kembali, Ivy," sebuah suara yang terdengar dekat sekali dengan telinga Ivy. “Dia telah pergi untuk selamanya."
Ivy menangis, merasakan perih di dadanya. Dia merasa sangat sedih dan takut, merasa bahwa segala sesuatunya telah hilang begitu saja.
"Mama, apa yang terjadi?" Tiba-tiba, suara anaknya terdengar dari seberang pintu. Ivy memalingkan kepalanya dan melihat anaknya berdiri di depan pintu dengan tatapan khawatir.
"Tidak apa-apa sayang, hanya mimpi buruk," ujar Ivy dengan suara lembut.
Anaknya mencoba merangkul Ivy, tetapi Ivy merasa jarak yang sama seperti dengan Michael. Ivy merasa sendirian dan terpisah dari orang-orang yang dicintainya.
Ivy terbangun dari mimpinya dengan nafas terengah-engah, merasa lega bahwa itu hanya mimpi belaka.
…
Ivy duduk di ruang tunggu psikolognya, sambil menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Suhu udara cukup dingin pada pagi itu dan sedikit angin bertiup dari celah-celah jendela. Ivy mengenakan jaket hangat dan syal tebal, tetapi tetap merasa kedinginan.
Psikolognya, Dr. Andrews, memanggilnya masuk ke ruangan terapi. Ivy mengambil napas dalam-dalam dan mengikuti dokter tersebut. Mereka duduk di dua kursi bersebrangan, dengan meja bundar kecil di antara mereka. Ivy merasakan detak jantungnya semakin cepat, dia merasa sangat gugup untuk membuka mulut dan berbicara tentang perasaannya.
Dr. Andrews mengambil catatan dan berkata dengan suara lembut, "Halo Ivy, bagaimana perasaanmu hari ini?"
Ivy mengambil napas lagi, dan mencoba menjawab pertanyaan dokter tersebut, "Saya masih merasa sedih dan kesepian, dok. Terkadang saya masih memikirkan Michael, dan saya tidak tahu keberadaannya. Bahkan keluarga saya pun tidak tahu tentang dia."
Dr. Andrews mengangguk dan bertanya, "Bagaimana kamu menghadapi perasaan tersebut?"
Ivy menggelengkan kepala, "Saya merasa kesulitan untuk menghadapinya, dok. Terkadang saya merasa seperti saya tidak bisa melupakan dia dan melanjutkan hidup saya. Saya merasa seperti saya berada dalam kegelapan dan tidak tahu jalan keluar."
Dr. Andrews tersenyum lembut, "Itu normal, Ivy. Kamu sedang dalam masa pemulihan dan butuh waktu untuk menyembuhkan diri. Tapi saya yakin kamu akan melewati ini dengan baik."
Ivy merasa sedikit lega mendengar kata-kata tersebut. Dr. Andrews selalu memberikan dukungan yang dibutuhkan dan membantunya untuk merasa lebih baik. Ivy mengangguk.
Dr. Andrews mengambil catatan lagi dan berkata, "Baiklah, sekarang mari kita bicarakan tentang strategi yang bisa membantumu melewati masa sulit ini. Bagaimana jika kita mencoba untuk fokus pada hal-hal positif di hidupmu? Seperti teman-temanmu, hobi yang kamu sukai, atau hal-hal yang kamu banggakan tentang dirimu sendiri?"
Ivy mengangguk, "Saya akan mencoba itu, dok. Terima kasih atas sarannya.”
Sesi Terapi ke-2:
Ivy kembali ke ruang terapi setelah seminggu absen. Dr. Andrews menyambutnya dengan ramah dan mengajaknya duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya.
Dr. Andrews bertanya, "Bagaimana keadaanmu minggu ini, Ivy?"
Ivy menjawab, "Agak lebih baik, dok. Saya mencoba untuk lebih fokus pada hal-hal positif dan tidak memikirkan Michael terlalu banyak. Tapi kadang-kadang masih sedikit sulit.”
Ivy menjelaskan, "Saya mencoba untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan, seperti membaca buku atau menonton film yang saya suka. Saya juga berbicara dengan teman-teman saya dan mereka membantu saya merasa lebih baik."
Dr. Andrews mengangguk, "Itu bagus sekali, Ivy. Fokus pada hal-hal positif dan mencari dukungan dari orang-orang terdekat memang bisa membantu kita melewati masa sulit."
Dr. Andrews kemudian membahas dengan Ivy tentang teknik relaksasi yang bisa membantunya meredakan stres dan kecemasan. Ivy tertarik dan akan mencoba untuk menerapkannya di rumah.
Sesi Terapi ke-3:
Ivy memasuki ruang terapi dengan senyum di wajahnya. Dr. Andrews menyambutnya dengan senyum juga, "Halo Ivy, bagaimana keadaanmu minggu ini?"
Ivy menjawab, "Lebih baik lagi, dok. Saya merasa lebih tenang dan bisa lebih fokus pada pekerjaan dan aktivitas lainnya."
Dr. Andrews bertanya, "Apa yang kamu lakukan untuk mencapai hal itu?"
Ivy menjawab, "Saya mencoba untuk membagi waktu dengan baik antara pekerjaan, hobi, dan waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman. Saya juga berlatih teknik relaksasi yang telah kita bicarakan sebelumnya."
Dr. Andrews memberikan pujian, "Itu sangat baik sekali, Ivy. Kamu menunjukkan kemajuan yang positif. Apakah ada hal lain yang ingin kamu diskusikan hari ini?"
Ivy mengangguk, "Ada satu hal yang membuat saya sedikit khawatir, dok. Saya merasa sulit untuk mempercayai orang lain setelah pengalaman yang saya alami dengan Michael. Saya takut disakiti lagi."
Dr. Andrews mengerti dan bertanya, "Apa yang membuat kamu merasa sulit untuk mempercayai orang lain?"
Ivy menjelaskan, "Saya merasa seperti saya dikhianati oleh Michael dan itu membuat saya takut untuk membuka diri lagi pada orang lain. Saya takut akan disakiti dan kecewa lagi."
Dr. Andrews membantu Ivy untuk memahami bahwa kepercayaan memang bisa dicabut oleh orang lain, tetapi itu bukan berarti bahwa dia harus menutup diri selamanya. Mereka membahas tentang cara untuk membangun kembali kepercayaan pada orang lain dan bagaimana cara untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan.
Sesi Terapi ke-4:
Ivy masuk ke ruang terapi dengan senyum lebar di waj
Dr. Andrews tersenyum melihat Ivy yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. "Halo Ivy, kamu terlihat ceria hari ini. Apa yang membuatmu merasa senang?"
Ivy menjawab, "Saya mendapat tawaran pekerjaan baru yang sangat saya impikan, dok. Saya merasa senang dan bersemangat untuk memulai pekerjaan baru itu."
Dr. Andrews memberikan pujian, "Itu sangat hebat, Ivy! Kamu telah bekerja keras dalam mengatasi masalah dan memperbaiki kondisimu. Bagaimana kamu merasa sekarang tentang masa depanmu?"
Ivy menjawab, "Saya merasa lebih optimis dan yakin, dok. Saya merasa seperti saya bisa menghadapi apa saja yang datang ke depan dan mengambil kendali atas hidup saya."
Dr. Andrews tersenyum, "Itu sangat positif, Ivy. Kamu telah mengatasi banyak hal selama beberapa minggu terakhir dan saya sangat bangga denganmu. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu diskusikan hari ini?"
Ivy menjelaskan, "Saya masih terkadang merasa sedih dan merindukan Michael. Meskipun saya tidak tahu apa yang terjadi padanya, saya masih merasa kesepian dan kehilangan."
Dr. Andrews membantu Ivy untuk mengatasi perasaan tersebut dengan memberikan beberapa saran dan teknik yang bisa membantunya merasa lebih baik. Mereka juga membahas tentang cara untuk memperkuat hubungan dengan orang-orang terdekat dan membangun kembali kepercayaan pada orang lain.