
Michael duduk di ruang tamu apartemennya dengan wajah yang muram. Hatinya hancur berkeping-keping karena apa yang baru saja ia ketahui tentang kebohongan Ivy. Dalam benaknya, ia merenungkan semua momen yang mereka lewati bersama-sama, termasuk ketika Ivy memberitahunya bahwa dia mengandung anaknya.
Dia merasa dikhianati dan diremehkan. Ivy telah mempermainkannya seolah-olah ia hanya boneka dalam kehidupannya. Michael merenung dan merenung, mencoba memproses semuanya, dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa terjebak dan terluka. Sampai telepon genggamnya berdering menampilkan nama Annisa.
…
Michael tiba di kafe beberapa menit sebelum waktu yang dijanjikan. Dia melihat sekeliling dan menyadari kafe ini memang tempat yang sempurna untuk pertemuan mereka. Cahaya hangat dari lampu gantung di langit-langit membuat suasana terasa lebih intim. Sejumlah orang sedang asyik berkumpul, mengobrol, atau membaca buku di sudut-sudut yang berbeda. Ada perasaan yang damai dan tenang yang terpancar dari tempat ini.
Sementara dia menunggu Annisa tiba, Michael memesan secangkir kopi dan duduk di meja yang dikelilingi oleh tanaman hijau. Dia memandang keluar jendela dan melihat lampu jalan yang bersinar di seberang jalan. Dia berpikir tentang bagaimana pertemuan ini akan berlangsung. Akankah Annisa merasa senang melihatnya? Apakah dia akan terlihat cantik seperti yang dia bayangkan?
Setelah beberapa saat, Annisa akhirnya tiba di kafe. Michael merasa hatinya berdebar-debar ketika melihatnya memasuki pintu. Dia mengenakan gaun panjang biru gelap yang menonjolkan kecantikan alaminya. Rambutnya yang hitam diatur rapi dan wajahnya yang cantik berseri-seri.
Setelah mereka memesan minuman, Annisa memperhatikan bahwa Michael terlihat sedikit berantakan dan terlihat ada yang mengganggu pikirannya.
“Michael, apa yang terjadi? Kamu terlihat sangat berantakan." Tanya Annisa.
Michael mengangkat kepalanya dengan wajah yang lesu “Annisa, aku harus memberitahumu sesuatu."
“Apa itu?" Tanya Annisa.
“Ivy... dia berbohong padaku." Ucap Michael dengan terbata-bata.
“Berbohong bagaimana?" Tanya Annisa semakin penasaran.
“Dia berbohong tentang kehamilannya. Itu semua palsu." Jawab Michael.
“Apa maksudmu?" Tanya Annisa lagi.
“Dia bilang dia mengandung anakku. Tapi itu tidak benar, Annisa. Itu semua bohong."
Annisa terdiam. Dia merasakan air mata membasahi pipinya.
“Jadi selama ini, semuanya hanya bohong belaka?" Ucap Annisa dengan suara serak.
Michael hanya dapat menganggukkan kepalanya pasrah.
“Aku akan melakukan apapun untuk memperbaiki segalanya, Annisa. Aku tidak ingin kehilanganmu dan melepaskanmu lagi.” Ucap Michael berusaha menggapai tangan Annisa, tetapi Annisa menarik tangannya.
“Tapi bagaimana kamu bisa memperbaikinya? Bagaimana kamu bisa membuatku percaya lagi?" Tanya Annisa.
“Bagaimana kita bisa melupakan semua yang telah terjadi?" Tanya Annisa lagi.
“Aku tidak tahu, Annisa. Tapi kita harus mencoba." Jawab Michael.
“Michael. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi." Ucap Annisa.
“Aku mengerti, Annisa. Aku mengerti sepenuhnya." Ucap Michael.
Saat mereka berbicara, tanpa merek sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka. Dia adalah Reynold.
Reynold duduk di kafe itu sambil memperhatikan Annisa dan Michael berbicara. Dia merasa campur aduk dalam hatinya. Dia mencintai Annisa, tetapi dia juga tahu bahwa Annisa masih mencintai Michael. Reynold bertanya-tanya apakah dia seharusnya tetap mempertahankan hubungan mereka atau membiarkan Annisa bahagia bersama Michael.
Dia tahu bahwa dia tidak bisa memaksakan cinta dan dia tidak ingin mengecewakan Annisa. Dia merasa sangat bimbang dalam hatinya. Dia ingin membuat keputusan yang terbaik untuk Annisa dan untuk dirinya sendiri.
Saat Annisa dan Michael berbicara, Reynold memutuskan untuk pergi ke luar kafe. Dia berjalan-jalan di sekitar jalan dan memikirkan keputusan apa yang harus diambil. Dia merenungkan tentang hubungannya dengan Annisa dan apakah dia siap untuk mempertahankan cinta mereka.
Akhirnya Reynold memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Annisa. Dia ingin memberinya kebahagiaan yang dia cari dengan Michael. Dia tahu bahwa meskipun dia merasa sedih, itu adalah keputusan yang terbaik bagi Annisa dan untuk dirinya sendiri.
Sementara itu Ivy merasa kesepian dan tertekan setelah ditinggalkan oleh Michael. Dia merasa kehilangan arah dan tidak tahu harus berbuat apa. Ivy merasa khawatir karena ia masih belum bisa menjelaskan keadaannya pada Michael dan takut Michael akan marah dan menyalahkan dirinya.
Setelah beberapa hari, kondisi kesehatan Ivy semakin buruk sehingga ia memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter memberitahukan bahwa Ivy sedang hamil dan kondisinya perlu dijaga dengan baik. Ivy merasa campur aduk mendengar berita tersebut. Dia merasa senang karena akan segera menjadi seorang ibu, namun dia juga merasa cemas karena tidak bisa membagikan kebahagiannya dengan Michael.
Setelah itu, Ivy berusaha menghubungi Michael, namun tak ada satu pun panggilan dan pesannya yang dijawab. Ivy merasa semakin sedih dan khawatir karena tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan keadaannya pada Michael. Dia merasa sedih karena merasa ditinggalkan begitu saja oleh Michael.
Di sisi lain, Reynold mulai merasa bimbang dalam hatinya tentang hubungannya dengan Annisa. Dia merasa tidak bisa mempertahankan hubungan mereka karena cinta Annisa yang begitu besar pada Michael. Namun, Reynold juga tidak ingin melihat Annisa sedih karena hubungannya dengan Michael terputus.
Sementara itu, Annisa dan Michael mulai berbicara lagi setelah kejadian Ivy terungkap. Michael mengaku bahwa ia masih mencintai Annisa dan tidak ingin kehilangan dia. Annisa merasa bimbang karena hatinya masih terluka akibat kebohongan yang dilakukan oleh Michael. Namun, di sisi lain, Annisa juga masih mencintai Michael.
Pada suatu hari, Ivy memutuskan untuk mengunjungi Michael di tempat kerjanya. Dia ingin memberi tahu Michael bahwa dia sedang hamil dan ingin meminta maaf karena telah berbohong. Namun, saat Ivy sampai di tempat kerja Michael, ia hanya menemukan selembar kertas yang berisi kata-kata perpisahan dari Michael.
Ivy merasa sangat sedih karena merasa Michael sudah tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi karena dia merasa tidak bisa menjelaskan keadaannya pada Michael. Ivy merasa sangat sendiri dan terpuruk karena tidak bisa membagikan kebahagiannya dengan Michael.
Keempat insan manusia tersebut merasakan kesedihan, kebimbangan dan keraguan akan hati mereka, mencari kebahagiaan masing-masing apakah harus dengan bersikap egois atau merelakan pasangan mereka bahagia bersama orang lain. Cinta memang terkadang membuat seseorang buta akan semua hal, melakukan semuanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan, baik itu dengan cara baik atau buruk tanpa tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Pilihan yang mereka ambil adalah cerminan yang akan terjadi di masa depan, apakah pilihan merek adalah pilihan yang tepat atau mungkin merupakan pilihan yang salah?