
Ivy merasa hatinya hancur saat mendengar kabar bahwa Annisa akan menikah dan ia yakin calon suaminya adalah Michael, ia merenung dan memikirkan segala kemungkinan yang ada. Ivy merasa seolah-olah semua orang di dunia ini bahagia kecuali dirinya.
Ivy berjalan pelan-pelan di taman, mencari tempat yang tenang untuk merenung. Ia terus memikirkan Annisa dan Michael, mengapa mereka bisa bersama sedangkan dirinya tidak? Apakah dirinya tidak layak mendapatkan cinta sejati?
Ketika Ivy sedang berjalan di taman, ia melihat sepasang pasangan sedang berjalan bersama. Mereka tersenyum dan terlihat bahagia, Ivy merasa seperti dihantui oleh bayang-bayang kesedihan dan kekecewaan yang mengelilinginya.
Ivy pulang ke rumah dengan hati yang hancur. Ia menangis sepanjang jalan, tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Ketika tiba di rumah, Ivy langsung menuju kamarnya dan memeluk bantal sambil menangis.
Ibunya mendengar suara tangisan Ivy dan segera mendatangi kamarnya. "Ivy, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya ibunya dengan khawatir.
Ivy hanya bisa menangis dan tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Ibunya duduk di sampingnya dan memeluknya, mencoba menenangkan anaknya yang sedang hancur ini.
"Ivy, katakan pada ibu apa yang terjadi. Ibu di sini untukmu," ucap ibunya dengan lembut.
Ivy mencoba menghentikan tangisannya dan akhirnya berkata, "Annisa...menikah dengan Michael. Aku...aku sangat sedih."
Ibunya memeluk Ivy lebih erat lagi. "Oh, sayangku. Aku tahu itu sangat sulit bagimu. Tapi kamu harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kamu pasti akan menemukan seseorang yang mencintaimu dengan segenap hatinya."
Ivy menggelengkan kepala dan menangis lebih keras lagi. "Tapi aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan cinta sejati seperti Annisa dan Michael?"
Ibunya mengelus punggung Ivy dengan lembut. "Tidak ada yang salah denganmu, sayang. Kamu adalah gadis yang hebat dan berharga. Kamu hanya belum menemukan orang yang tepat untukmu. Tapi kamu pasti akan menemukannya suatu saat nanti."
Ivy menangis lebih keras lagi, "Tapi...aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku merasa begitu sedih dan sendirian."
Ibunya tersenyum dan mencoba menghibur Ivy, "Tidak usah khawatir, sayang. Mama selalu di sini untukmu dan akan selalu mendukungmu. Kamu juga punya teman-teman yang peduli padamu. Mama yakin suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaanmu sendiri."
Ivy hanya menganguk dan melepaskan kesedihan dalam pelukan ibunya.
Malam harinya, Ivy menghubungi Lisa melalui video call dan menceritakan apa yang terjadi dengan Annisa dan Michael. “Lisa, aku benar-benar merasa sedih dan hancur. Annisa menikah dengan Michael dan aku merasa seperti aku kehilangan segalanya." Ucap Ivy
“Oh, Ivy. Aku tidak tahu harus berkata apa, berita ini juga mengejutkanku, kamu pantas mendapatkan lebih dari ini Ivy, kamu berhak untuk bahagia dan kamu jangan khawatir, aku selalu di sini untukmu." Ucap Lisa lembut.
"Tapi, Ivy. Kamu tahu, aku memiliki ide untukmu. Kamu harus pindah ke Paris! Aku yakin kamu akan menyukainya di sini, dan kamu bisa melupakan Michael dan mulai hidup yang baru." Lanjut Lisa.
Ivy mengangkat alisnya dan bertanya, "Pindah ke Paris? Apa maksudmu?"
“Ya, Ivy. Paris adalah kota yang indah dan penuh keajaiban. Kamu bisa melupakan semua hal buruk yang terjadi di sini, dan menemukan kebahagiaan baru di sini. Selain itu, kamu bisa fokus pada pekerjaanmu sebagai model dan mengejar karier yang lebih baik." Ucap Lisa bersemangat.
Ivy merenung sejenak, dan akhirnya tersenyum. "Mungkin kamu benar, Lisa. Mungkin pindah ke Paris adalah hal yang tepat untukku. Aku perlu mulai hidup yang baru dan melupakan Michael."
Lisa senang mendengarnya dan berkata, "Bagus sekali, Ivy! Aku akan membantumu menemukan tempat tinggal dan membantumu menyesuaikan diri di Paris. Kamu tidak akan sendirian di sini."
Ivy tersenyum dan merasa bersyukur memiliki teman seperti Lisa. "Terima kasih, Lisa. Kamu selalu menjadi teman terbaikku."
Lisa juga tersenyum dan berkata, "Tidak perlu berterima kasih, Ivy. Aku senang melakukan ini untukmu!”
Merekapun merencanakan semua hal terkait dengan kepindahan Ivy ke Paris.
Dua hari sebelum kepindahan Ivy, Ivy berencana untuk mengunjungi tempat-tempat yang pernah dia kunjungi bersama Michael dan merelakan kenangan mereka.
Bahkan Ivy juga pergi ke restoran yang biasanya mereka makan bersama, tetapi kali ini, dia makan sendirian. Ivy duduk di meja yang biasanya mereka gunakan dan menatap kosong ke arah jendela, memikirkan kenangan mereka yang hilang.
Ivy menghabiskan hari itu mengelilingi New York untuk merelakan kenangan mereka dan menangis untuk kehilangan yang dia rasakan. Meskipun Ivy sedih, dia akhirnya menyadari bahwa dia harus melanjutkan hidupnya dan membuka babak baru di tempat baru, seperti yang diusulkan oleh ibunya dan Lisa.
Ivy telah menyelesaikan packing dan sekarang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan New York.
Ivy memasukkan baju-baju yang ia kenakan ke dalam koper sambil menangis pelan. Ia merasa sedih meninggalkan kota yang telah menjadi rumahnya selama beberapa tahun terakhir. Ivy teringat saat pertama kali ia tiba di New York, saat ia mulai menjalankan karirnya sebagai model, dan ketika ia pertama kali bertemu Michael.
Ivy merasa sedih saat mengingat bagaimana ia dan Michael sering berjalan-jalan bersama di kota ini. Dia merasa kesepian akan kehilangan teman berbicaranya, dan saat itu ia merindukan kehangatan Michael yang pernah menjadi bagian hidupnya.
Tiba-tiba, ponsel Ivy berdering, dan ia meraihnya untuk menjawab panggilan itu. Ivy melihat panggilan dari Lisa dan memutuskan untuk menjawabnya.
Ivy: "Halo Lisa."
Lisa: "Halo Ivy. Bagaimana keadaanmu di New York? Apa kamu siap untuk pergi ke Paris?"
Ivy: "Aku akan pergi dalam beberapa jam. Aku sedih meninggalkan New York. Aku merindukan Michael dan kota ini."
Lisa: "Aku tahu rasanya sangat sulit, tapi kamu perlu melanjutkan hidupmu. Aku yakin bahwa kamu akan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. Paris menunggumu, Ivy. Aku akan menemuimu begitu kamu tiba di sini.”
Ivy: "Terima kasih, Lisa. Aku akan mencoba untuk melupakan masa laluku dan membuka babak baru di Paris."
Lisa: "Kamu pasti bisa melakukannya. Jangan lupa untuk menghubungi aku jika kamu butuh teman bicara atau bantuan apa pun.”
Ivy: "Aku pasti akan melakukannya. Terima kasih telah menjadi temanku yang baik selama ini, Lisa."
Lisa: "Sama-sama, Ivy. Aku menunggumu disini, aku yakin kamu akan baik-baik saja di Paris."
Ivy: "Oke, Lisa. Sampai jumpa."
Setelah menutup panggilan dengan Lisa, Ivy melanjutkan packingnya dan menutup koper dengan erat. Ivy mengambil napas dalam-dalam dan berjalan ke arah pintu, mengucapkan selamat tinggal pada New York yang ia cintai dan pergi mencari kebahagiaan di Paris yang baru.
Ivy tiba di tempat keberangkatan untuk menuju Paris. Di sana, ia berjumpa dengan ibunya yang datang untuk menemani dan berpamitan dengan Ivy sebelum ia pergi ke Paris.
“Sayangku, aku tahu ini sangat sulit bagimu. Tapi, kamu harus mengambil langkah ini. Kamu perlu menemukan kebahagiaanmu sendiri." Ucap ibu Ivy.
“Ibu, aku sangat sedih meninggalkanmu dan New York. Aku pasti akan merindukanmu dan segala hal tentang kota ini." Ucap Ivy menahan tangisnya.
“Aku juga akan merindukanmu, sayang. Kamu tahu, kamu selalu menjadi kebanggaanku. Aku bangga dengan semua yang telah kamu capai dan kamu akan selalu menjadi anakku yang paling berharga." Ucap ibu Ivy.
“Terima kasih, Ibu. Aku berharap kamu bisa datang ke Paris untuk mengunjungiku suatu hari nanti." Ucap ivy memeluk ibunya erat.
“Tentu saja, sayang. Ibu akan sangat senang bisa melihat kamu lagi. Ingatlah bahwa kamu selalu memiliki ibu sebagai pendukungmu, Ivy. Ibu menyayangimu.” Ucap ibu Ivy dan mengusap lembut punggung putri kesayangannya.
“Aku juga menyayangimu, Ibu. Terima kasih untuk semuanya." Ucap Ivy.
Ibu Ivy memeluk Ivy dengan erat, merangkulnya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Ivy merasa sedih dan lelah, tapi dia tahu ini adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan New York dan mencari kebahagiaan baru di Paris.
I”Waktunya untuk kamu pergi, sayang. Aku tahu kamu akan melakukan yang terbaik dan menemukan cinta sejatimu di Paris." Ucap ibu Ivy.
“Terima kasih, Ibu. Aku menyayangimu.” Ucap Ivy.
“Aku juga menyayangimu, sayang. Selamat tinggal dan selamat jalan." Ucap ibu Ivy.
Dengan mata berkaca-kaca, Ivy membalas ucapan selamat jalan ibunya dan menuju pintu pesawat. Dia merasa sedih dan kehilangan, tetapi dia tahu ini adalah keputusan yang tepat untuknya. Ivy menatap ke arah ibunya yang sedang melambai kepadanya dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memulai babak baru di Paris dan mencari kebahagiaan baru.