It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 31



“Mama!” Arnold berlari mendekati Annisa dengan mata yang sembap karena menangis. Annisa mendekatkan lagi dirinya untuk memeluk Arnold.


“Kamu tidak apa-apa, nak? Kamu baik-baik saja?” Tanya Annisa khawatir.


“Atut,” jawab Arnold memeluk leher ibunya dengan erat, Annisa mengusap punggung anaknya dengab lembut untuk menenangkannya.


“Annisa?” Tanya Ivy sedikit ragu.


“Ivy,” jawab Annisa canggung.


Mereka berdua terlihat sangat canggungbakan pertemuan mereka dimana mereka berdua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan masa lalu mereka.


“Sayang!” Suara laki-laki dari belakang arah Annisa, membuat kedua wanita itu terkejut.


“Papa!” Teriak Arnold melihat ayahnya yang berlari dengan khawatir tentang anaknya.


Sementara itu dada Ivy berdebar kencang, ia tidak siap untuk bertemu dengan Michael di saat seperti ini, di saat ia sudah melupakan Michael dan membangun kebahagiaan baru dengan tunangannya, Alex.


Tetapi saat laki-laki itu mendekat, Ivy terkejut. Ternyata laki-laki itu bukan Michael melainkan orang lain yang tidak ia kenal.


“Sayang, maafkan papa!” Ucap Reynold khawatir dan segera mengambil Arnold dalam pelukan Annisa. Arnold menumpahkan ketakutannya dalam pelukan ayahnya, ia menangis sangat keras.


“Sayang, ayo kita kemba…” kata-kata Reynold terhenti saat melihat Ivy ada di depan mereka. Reynold tahu tentang Ivy dari cerita Annisa tentang masa lalunya.


Reynold menatap Annisa dengan cemas, tapi Annisa tersenyum memandang suaminya dan mengusap pipi suaminya lembut.


Reynold yang seakan mengerti dengan keadaan yang ada, mengambil inisiatif untuk mengajak Arnold pergi agar Annisa dan Ivy dapat berbicara berdua.


“Kamu bisa mengabariku kapanpun, oke?” Ucap Reynold berkata kepada istrinya dan Annisa pun menganggukan kepalanya.


Setelah Reynold pergi bersama Arnold, Annisa menghembuskan napasnya dan menatap Ivy.


Ivy masih belum dapat memproses apa yang terjadi sekarang, ia bingung dengan apa yang dilihatnya sekarang dengan apa yang ada di pikirannya selama hampir dua tahun ini.


“Ivy,” panggil Annisa membuat Ivy tersentak dari lamunannya.


“I…iya?” Jawab Ivy yang masih terkejut.


“Dimana, Michael?” Tanya Annisa sedikit ragu.


Ivy langsung melihat Annisa dengab wajah bingung.


“Maksudmu?” Tanya Ivy bingung. Annisa tersenyum dengan pertanyaan Ivy.


“Aku bertanya dimana, Michael?” Tanya Annisa kali ini lebih pelan, Annisa berpikir mungkin Ivy merasa canggung karena ia menanyakan keberadaan Michael disaat merek berdua punya masalah yang rumit di masa lalu.


“Annisa, bisakah kita mencari tempat duduk terlebih dahulu? Aku membutuhkan minum.” Ucap ivy.


“Bagaimana kalau kita ke kafe kecil itu.” Ucap Annisa menunjukkan tangannya ke arah kafe di dekat mereka.


Ivy pun mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju ke kafe tersebut diikuti oleh Annisa.


Ivy langsung memesan air minum saat mereka sudah duduk di dalam kafe, setelah pelayan memberikan minum tersebut kepada Ivy, Ivy langsung meminumnya sampai habis.


“Ivy, apa yang terjadi mengapa kamu terlihat seperti orang yang kebingungan,” tanya Annisa khawatir melihat Ivy. Ivy menarik napas perlahan dan menghembuskannya dan menatap Annisa lekat.


“Annisa, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku pikir kamu dan Michael,” Ivy menghentikan kata-katanya saat melihat wajah bingung dari Annisa.


“Kamu dan Michael menikahkan?” Ucap Ivy.


“Apa maksudmu? Bukankah kamu dan Michael yang menikah karena kamu sedang mengandung anaknya?” Ucap Annisa lagi.


Kedua wanita cantik itu merasa bingung dengan keadaan yang ada, selama ini mereka berpikir Michael bersama wanita yang dipilihnya antara Annisa dan Ivy, ternyta pikiran mereka salah. Michael tidak bersama dengan mereka berdua.


Annisa mulai menceritakan tentang ia dan Michael yang dulu memang berjanji untuk bersama, tetapi akhirnya Annisa lebih memilih Reynold dan Michael pun tidak memberikan kabar apalagi setelah pertemuan terakhir mereka dan ia berpikir bahwa Michael sudah bersama Ivy.


Sedangkan, Ivy pun bercerita tentang keguguran anaknya bersama Michael dimana Michael sama sekali tidak muncul saat Ivy sedang kesakita di rumah sakit. Saat mendengar kabar bahwa Annisa akan menikah, ia berpikir bahwa Annisa menikah dengan Michael.


Annisa terkejut mendengar cerita Ivy, sekaligus merasa sedih dengab kehilangan yang Ivy rasakan, dia juga menjadi khawatir akan keberadaan Michael yang tidak diketahui kemana perginya. Dia selalu merasa bersalah karena memiliki perasaan untuk Michael meskipun dia tahu Ivy bersamanya. Sekarang dia menyadari bahwa Michael tidak bersama salah satu dari mereka, dan sudah waktunya baginya untuk melanjutkan hidup.


"Ivy, aku sangat minta maaf. Aku tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan kamu dan Michael, bahkan tentang kehilanganmu,” kata Annisa dengan simpati.


"Tidak apa-apa, Annisa. Aku sudah menerima kenyataan itu. Aku sudah melanjutkan hidupku dan sekarang aku sudah bertunangan dengan orang lain," jawab Ivy.


Annisa senang mendengar bahwa Ivy telah menemukan orang lain untuk dicintai, tetapi dia tidak bisa membantah bahwa dia khawatir dengan keberadaan Michael.


"Ivy, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Annisa dengan ragu.


"Tentu saja, silakan," jawab Ivy.


"Apakah kamu tahu di mana Michael berada?" tanya Annisa, berharap Ivy mungkin memiliki informasi tentangnya.


Ivy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Setelah dia meninggalkanku, aku tidak pernah mendengar kabar darinya lagi."


Annisa menghela nafas. Dia berharap Ivy mungkin memiliki informasi tentang Michael, tetapi sepertinya dia benar-benar menghilang dari kehidupan mereka.


Kedua wanita itu duduk dalam keheningan untuk sementara waktu, terlena dalam pemikiran mereka sendiri. Annisa mencoba menerima kenyataan bahwa Michael tidak lagi menjadi bagian dari hidupnya, sementara Ivy memikirkan kehidupan barunya dengan tunangannya.


Tiba-tiba, ponsel Annisa berdering. Dia melihat ID panggilan dan melihat bahwa itu adalah Reynold, suaminya. Dia menjawab telepon dan suara khawatir Reynold terdengar.


"Annisa, di mana kamu? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Reynold.


Annisa meyakinkan suaminya bahwa semuanya baik-baik saja, dan ia memberitahunya bahwa ia masih bersama Ivy. Reynold kaget mendengar bahwa Ivy ada di sana, tetapi ia tidak mengajukan pertanyaan apa pun.


"Baiklah, beritahu aku jika kamu membutuhkan sesuatu. Aku akan selalu ada untukmu," kata Reynold sebelum mengakhiri panggilan tersebut.


Annisa tersenyum pada Ivy. "Itu suamiku. Dia khawatir tentangku."


Ivy tersenyum balik. "Kamu beruntung memiliki suami yang begitu peduli padamu."


Annisa mengangguk. "Aku tahu. Reynold luar biasa. Dia selalu ada untukku, bahkan saat hal-hal sulit terjadi."


Ivy melihat Annisa, ada rasa iri di matanya. Dia ingin memiliki seseorang seperti Reynold dalam hidupnya, seseorang yang selalu ada untuknya apa pun yang terjadi.


Kedua wanita tersebut melanjutkan pembicaraan mereka untuk beberapa saat lagi, saling bertukar cerita tentang pekerjaan mereka, keluarga, dan harapan mereka untuk masa depan.


Seiring berjalannya waktu, Annisa menyadari bahwa saatnya ia pulang. Ia memeluk Ivy dan mengucapkan selamat tinggal, berjanji akan tetap berhubungan.


Saat ia berjalan pergi, Annisa tak bisa menahan rasa syukur atas pertemuan tak terduga tersebut. Walaupun itu percakapan yang sulit, ia merasa telah menemukan kedamaian. Ia akhirnya mengetahui kebenaran tentang Michael dan bisa melanjutkan hidupnya.


Annisa memikirkan Reynold dan merasa beruntung memiliki dia dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu Michael untuk bahagia. Ia sudah memiliki seseorang yang mencintainya tanpa syarat dan itulah yang ia butuhkan.