It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 10



Reynold tersenyum pada Annisa dan bertanya bagaimana kabarnya. Annisa merasa campur aduk. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan atau bagaimana merespons kehadiran Reynold. Dia merasa sedih karena dia teringat bahwa Reynold pernah memutuskan hubungan mereka.


Reynold mengambil tangan Annisa dan berkata, "Aku tahu kamu sedang kesulitan, Annisa. Aku ingin membantu kamu melewati masa-masa sulit ini."


Annisa merasa terharu dengan kata-kata Reynold. Dia merasa ada seseorang yang peduli padanya meskipun mereka tidak bersama lagi. Reynold memberi tahu Annisa bahwa dia akan selalu ada untuknya dan akan mendukungnya selama masa pemulihannya.


Keesokan harinya, Michael datang ke rumah sakit untuk menjenguk Annisa. Dia terkejut melihat Reynold ada di sana dan sedikit tidak nyaman dengan situasinya. Namun, Annisa merasa senang karena dia merasa bahwa Michael juga masih peduli padanya.


“Reynold, maukah kamu meninggalkanku berdua dengan Michael? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Ucap Annisa.


Walaupun dengan berat hati akhirnya Reynold melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Melihat kepergian Reynold, Michael duduk di sebelah tempat tidur Annisa dan terdiam untuk beberapa saat. Annisa akhirnya memutuskan untuk membuka suaranya.


"Michael, aku sangat menghargai bahwa kamu datang menjengukku," kata Annisa perlahan. "Tapi aku rasa lebih baik kalau kamu tidak menemuiku lagi."


Michael menggenggam tangan Annisa erat dan berkata, "Annisa, aku ingin membantumu. Aku tidak ingin kamu merasa sendirian dan terpuruk dalam kesedihanmu. Kamu selalu ada untukku dan aku ingin ada untukmu juga."


Annisa tersenyum lemah. Dia merasa tersentuh dengan kata-kata Michael, tapi dia tahu bahwa dia harus mengambil keputusan yang terbaik untuk kesehatan mentalnya sendiri. Dia memutuskan untuk tetap pada keputusannya.


"Maaf, Michael. Aku tahu kamu peduli padaku, tapi aku butuh waktu untuk menyembuhkan diri sendiri. Aku harap kamu bisa menghormati keputusanku," kata Annisa dengan lembut.


Michael merasa sedih dan kecewa, tapi dia mengerti bahwa dia harus menghormati keputusan Annisa. Dia memberikan senyuman lembut pada Annisa sebelum pergi, dan berjanji untuk selalu mendoakan kesembuhannya.


Setelah Michael pergi, Annisa merasa lega. Meskipun dia masih merasa kesepian, dia tahu bahwa dia sudah mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri. Dia berharap dia bisa memulihkan diri dengan baik dan akhirnya merasa bahagia lagi.


Setelah meninggalkan ruangan Annisa, Michael bertemu dengan Reynold di koridor rumah sakit. Reynold memberi salam pada Michael dan mereka berjabat tangan.


"Saya tahu kamu merasa peduli pada Annisa, Michael," kata Reynold dengan wajah serius. "Tapi aku sudah memutuskan untuk menjaga Annisa mulai dari sekarang. Aku akan memastikan dia mendapatkan perawatan yang terbaik dan membantunya pulih dari kesedihannya."


Michael terdiam untuk beberapa saat. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia merasa sedih dan kecewa, tapi dia mengerti bahwa Reynold mungkin tahu lebih baik tentang kondisi Annisa saat ini.


"Aku mengerti, Reynold," kata Michael dengan suara lemah. "Aku hanya ingin membantu Annisa, tapi jika kamu merasa lebih baik jika kamu yang menjaga dia, maka aku akan menghormati keputusanmu."


Reynold memberikan senyuman lembut pada Michael. "Terima kasih, Michael. Aku tahu kamu peduli pada Annisa, tapi aku juga peduli pada dia. Saya akan memastikan dia aman dan terawat dengan baik."


Michael mengangguk dan berjalan pergi dari koridor rumah sakit. Dia merasa sedih dan hancur, tapi dia tahu bahwa dia harus menghormati keputusan Annisa dan Reynold. Dia berdoa untuk kesembuhan Annisa dan berharap dia akan bisa kembali bahagia suatu saat nanti.


"Annisa?" panggil Reynold dengan lembut.


Annisa menoleh ke arah Reynold, terkejut melihat Reynold di sana. Dia merasa tidak nyaman karena dia tidak mengharapkan Reynold akan datang menemuinya.


"Maaf kalau aku mengganggu, Annisa," kata Reynold sambil duduk di kursi yang tersedia di samping tempat tidur Annisa. "Aku hanya ingin mengecek keadaanmu dan memastikan kamu baik-baik saja."


Annisa hanya mengangkat bahunya dengan lemas. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Reynold. Dia masih merasakan sakit hati dan kecewa atas kejadian yang baru saja terjadi.


Reynold merasakan ketegangan di antara mereka, dia bisa merasakan betapa sakitnya hati Annisa. Dia memutuskan untuk mengambil inisiatif dan memulai percakapan untuk memudahkan suasana hati Annisa.


"Annisa, aku tahu kamu merasa sedih dan terluka," kata Reynold dengan lembut. "Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjaga dan merawatmu dengan baik."


Annisa menatap Reynold dengan tatapan kosong. Dia tahu Reynold berusaha memberikan dukungan dan menghibur dirinya, tapi Annisa merasa sulit untuk menerima kata-kata Reynold setelah dia memutuskan hubungan mereka.


"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, Reynold," ucap Annisa dengan suara lemah. "Aku hanya merasa sedih dan kecewa atas semua yang terjadi."


Reynold mengangguk dengan penuh pengertian. "Aku mengerti, Annisa. Kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk merasa lebih baik, tapi aku harap kamu bisa mencoba untuk menerima kenyataan dan berusaha untuk pulih dari kesedihanmu."


Annisa mengangguk pelan. Dia tahu bahwa Reynold berbicara dari hati yang tulus dan mencoba membantunya melewati masa-masa sulit ini. Meski begitu, Annisa masih merasa terluka dan kecewa. Dia hanya berharap semua masalah bisa segera teratasi dan dia bisa kembali bahagia seperti dulu kala.


Reynold terus menjaga Annisa selama di rumah sakit, membantunya dengan segala kebutuhan sehari-hari. Dia senantiasa memberikan perhatian dan dukungan untuk membantu Annisa pulih dari kesedihan dan sakit yang dirasakannya.


Selama beberapa minggu, Reynold selalu ada di samping Annisa setiap saat. Dia membawa makanan favorit Annisa, membacakan buku kesukaannya, dan bahkan mengajaknya berjalan-jalan di taman rumah sakit. Dengan segala upayanya, Reynold berusaha membuat Annisa merasa nyaman dan bahagia.


Waktu terus berjalan, dan kondisi Annisa perlahan mulai membaik. Para dokter memberikan kabar baik bahwa Annisa sudah semakin pulih dari sakitnya. Akhirnya, setelah beberapa minggu menjalani perawatan di rumah sakit, Annisa dinyatakan siap untuk kembali pulang.


Reynold senang mendengar kabar tersebut dan memberikan dukungan sepenuh hati untuk Annisa selama masa pemulihannya. Dia menemani Annisa selama proses pulang ke rumah, membantunya dengan segala hal yang dibutuhkan selama proses pemulihan di rumah.


Ketika mereka akhirnya sampai di apartemen Annisa, Reynold membantu Annisa masuk ke rumah dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan apartemn Annisa. Reynold menyiapkan segala kebutuhan Annisa, dari makanan hingga obat-obatan yang harus diminum Annisa.


Annisa merasa bersyukur memiliki seseorang seperti Reynold yang selalu ada di sampingnya dalam masa-masa sulit tersebut. Meskipun awalnya Annisa merasa tidak nyaman dengan kehadiran Reynold, tapi perlahan-lahan Annisa mulai merasa nyaman dan berterima kasih atas semua yang dilakukan Reynold untuknya.