It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 35



Ivy sudah menanti di dalam pesawat selama lebih dari enam jam dan dia merasa sangat lelah ketika akhirnya pesawat mendarat di bandara New York.


Setelah Ivy mengambil tasnya, dia melihat Annisa menunggunya di area kedatangan dengan senyum hangat di wajahnya. Annisa langsung mendekati Ivy dan memeluknya dengan erat.


"Ivy! Aku senang kamu sudah tiba. Bagaimana perjalananmu?" tanya Annisa.


"Iya, agak melelahkan tapi aku baik-baik saja," jawab Ivy dengan senyum lelah.


Annisa menawarkan untuk membawa Ivy ke apartemennya di pusat kota New York dan Ivy dengan senang hati menerimanya. Mereka bergegas meninggalkan bandara dan naik taksi menuju apartemen Annisa.


Ketika mereka sampai di apartemen, Ivy merasa terkesan dengan interior yang modern dan nyaman. Annisa menawarkan Ivy untuk duduk dan minum kopi, dan mereka pun mulai berbincang-bincang.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apa kabar denganmu, Ivy?" tanya Annisa sambil menyeruput kopinya.


"Iya, sudah lama sekali. Aku baik-baik saja, Annisa. Terima kasih sudah menemani aku hari ini," jawab Ivy.


Annisa menatap Ivy dengan perhatian. "Apakah ada yang membuatmu khawatir? Kamu tampak sedikit gelisah," tanya Annisa.


Ivy menghela nafas. "Ya, sebenarnya aku sedang khawatir tentang pertemuan dengan Michael besok di rumah sakit nanti. Aku takut hal itu akan membuatku terguncang dan membuatku terlibat dalam hubungan yang tidak sehat lagi," jelasnya.


Annisa mengangguk dan menyentuh tangan Ivy dengan lembut. "Aku mengerti betapa sulitnya situasi itu, tetapi kamu bisa melaluinya. Kamu kuat, Ivy," ujar Annisa.


Ivy merasa sedikit lega mendengar kata-kata Annisa. Mereka terus berbincang-bincang selama beberapa waktu lagi, kemudian Annisa menunjukkan Ivy kamar tempat dia akan menginap selama di New York.


Setelah menyelesaikan segala persiapan, Ivy merasa lebih tenang dan siap untuk menghadapi pertemuan besok dengan Michael. Dia memutuskan untuk tidur awal malam ini, dan Annisa mengantar Ivy ke kamarnya sambil berharap agar Ivy bisa tidur nyenyak.


Ivy terbangun dengan perasaan cemas di hari yang dinanti-nanti, hari dimana dia harus menghadapi mantan kekasihnya Michael di rumah sakit psikiatri. Dia merasa tidak nyaman dan tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan bagaimana pertemuan itu akan berjalan.


Setelah menyiapkan diri, Ivy berangkat menuju rumah sakit psikiatri dengan taksi. Dia merasa perasaannya makin cemas ketika tiba di tempat tujuan. Ivy mencari ruangan 302, dimana Michael sedang dirawat, dengan sedikit kebingungan. Ketika dia menemukannya, dia merasa hatinya seperti diremas.


Ivy merasa gelisah saat dia melangkah masuk ke ruang perawatan khusus tempat Michael dirawat. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Apa yang akan Michael katakan? Akankah dia menyambutnya dengan tangan terbuka atau akan memalingkan wajahnya?


Michael duduk di tempat tidur dengan wajah yang pucat dan lelah. Dia terlihat sangat berbeda dari saat Ivy terakhir bertemu dengannya. Wajahnya terlihat hancur dan Ivy melihat bahwa kaki Michael telah diamputasi dan dia merasa seperti jantungnya berhenti berdetak.


Wajahnya terlihat kosong saat Ivy memasuki ruangan. Dia tidak berbicara atau bahkan melihat ke arah Ivy. Ivy merasa sangat gugup dan terus menatap Michael, mencoba mencari tahu apa yang dia rasakan.


Tetapi kemudian, setelah beberapa saat, Michael mengangkat kepalanya dan melihat langsung ke arah Ivy. Mata mereka bertemu dan saat itulah, Ivy melihat air mata mengalir di pipi Michael. Dia terus menangis, seperti air yang mengalir begitu saja.


"Mi-Michael," kata Ivy dengan suara serak.


Dia tersenyum lemah tapi Ivy tahu itu bukan senyum yang tulus. Ivy bisa melihat rasa sakit dan kehancuran yang tergambar di wajah Michael.


Ivy mengambil tempat duduk di samping tempat tidur Michael. Dia mencoba untuk menahan tangisannya tetapi dia merasa seperti tidak bisa menahannya lagi ketika dia melihat kondisi Michael yang sangat buruk.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang keadaanmu? Kenapa kamu tidak mengatakan padaku kalau kamu butuh bantuan?" tanya Ivy, sambil menangis.


Michael meresponnya dengan tangisan yang lebih kuat, "Aku sangat merindukanmu, Ivy. Aku merindukanmu begitu sangat. Aku merindukan semua yang telah kita lalui bersama."


Ivy memeluk Michael dan mengatakan, "Aku juga merindukanmu, Michael. Aku juga sangat merindukanmu."


Keduanya berpelukan erat selama beberapa saat, dan saat mereka berpisah, Michael menatap wajah Ivy dengan mata penuh air mata. "Aku sangat menyesal telah kehilanganmu, Ivy. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpamu."


Ivy tersenyum lembut dan berkata, "Kita tidak perlu membicarakan hal itu sekarang, Michael. Yang penting sekarang adalah bahwa kamu sehat dan kita bisa bersama lagi."


Michael menatap Ivy dengan tatapan yang sulit dipahami. Ivy tahu bahwa dia merasa sangat sedih dan malu karena keadaannya saat ini. Ivy mencoba menguatkan hatinya dan memberikan dukungan yang terbaik untuk Michael.


Mereka terus berbicara selama beberapa saat, mengingat kembali kenangan mereka bersama. Ivy bercerita tentang hidupnya dan apa yang terjadi sejak mereka putus, sementara Michael mendengarkan dengan cermat.


Namun, suasana mereka tetap sedih dan tegang. Ivy bisa merasakan rasa sakit di hati Michael, dan ia tahu bahwa perjalanan untuk memulihkan diri Michael tidaklah mudah.


"Aku sangat menyesal telah meninggalkanmu, Ivy. Aku tahu bahwa aku telah merusak hubungan kita dengan sikapku yang buruk," ucap Michael.


Ivy menatap Michael dengan penuh kasih sayang. "Itu sudah lama, Michael. Saya sudah memaafkanmu dan ingin membantumu memulihkan dirimu. Aku ingin kita dapat menjadi teman yang baik, dan aku selalu di sini untukmu."


Michael tersenyum kecil, "Terima kasih, Ivy. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu."


Ivy tersenyum dan mencium punggung tangan Michael, "Kita akan melewati ini bersama-sama, Michael. Aku akan selalu ada untukmu."


Saat itulah seorang perawat masuk dan memberitahu bahwa waktu kunjungan Ivy telah habis. Ivy merasa sangat sedih untuk meninggalkan Michael sendirian di sana, tetapi dia tahu dia harus pergi. Dia mencium Michael di kening dan meninggalkan ruangan dengan hati yang berat.


Di luar ruangan, Ivy merasa seperti dunia runtuh. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa membantu Michael untuk pulih dan menghadapi masalah kejiwaannya. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap bersama dan membantunya selama dia bisa.


Ketika Ivy tiba di rumah Annisa, Annisa melihatnya dengan wajah sedih dan bertanya, "Bagaimana kabarmu? Bagaimana kondisi Michael?"


Ivy terisak dan menceritakan semuanya kepada Annisa, dari kondisi Michael yang buruk hingga percakapan mereka yang sedih.


Annisa merangkul Ivy dan mengatakan, "Kita harus tetap kuat dan mendukung Michael. Dia butuh kita."


Ivy tersenyum lemah, "Ya, kita harus melakukan yang terbaik untuknya. Dia sudah cukup menderita."