
"Sayang, aku punya ide. Bagaimana jika kita pergi ke Jepang untuk beberapa waktu?" ucap Reynold dengan semangat.
Annisa yang sedang bermain dengan Arnold yang sudah berusia 1 tahun lebih dan sedang belajar berjalan menatap suaminya dengan rasa penasaran. "Apa maksudmu? Mengapa kita harus pergi ke Jepang, sayang?” tanya Annisa.
"Aku ingin membuka restoran di sana. Jadi kita bisa pergi bersama, bermain dan mengeksplorasi negara itu," ujar Reynold dengan lembut.
Annisa tersenyum lebar dan melihat ke arah suaminya. "Sungguh, Reynold? Kita bisa pergi ke Jepang bersama?”
Reynold mengangguk tegas, "Ya, benar. Kita bisa pergi ke Jepang bersama, menikmati makanan enak dan mengunjungi tempat-tempat indah di sana, sekaligus.” Reynold mendekat dan berbisik di telinga Annisa. “Kita bisa berbulan madu yang kedua kalinya.”
Annisa tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya. “Kapan kita bisa berangkat?”
Reynold mengambil ponselnya dan mulai mencari tiket pesawat. "Mungkin dalam tiga minggu lagi. Itu akan memberi kita cukup waktu untuk mempersiapkan semuanya."
Annisa dan Reynold tersenyum senang dan mereka mulai merencanakan perjalanan mereka ke Jepang. Mereka berbicara tentang tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi, makanan yang ingin mereka coba, dan hal-hal seru yang ingin mereka lakukan di sana.
…
Ivy sedang menikmati kesuksesannya di Jepang. Akhir-akhir ini, ia semakin sering tampil di iklan televisi dan billboard di seluruh negeri sakura itu. Ivy sangat bersemangat dan senang bisa menjadi bagian dari industri ini, dan ia sangat berdedikasi dalam pekerjaannya.
Pagi itu, Ivy terbangun dengan cepat dan bersemangat. Ia memeriksa jadwalnya, dan melihat bahwa hari itu ia akan syuting iklan terbaru untuk salah satu merek kosmetik ternama. Ivy sangat senang dengan pekerjaannya, terutama karena ia tahu bahwa iklan tersebut akan ditayangkan di seluruh Jepang.
Setelah mandi dan sarapan pagi, Ivy bergegas menuju lokasi syuting. Ia tiba di sebuah studio besar di pusat Tokyo, di mana iklan tersebut akan difilmkan. Setelah memberikan salam pada para staf produksi, Ivy langsung menuju ruangan rias untuk disiapkan.
Di ruangan rias, ia bertemu dengan tim make-up dan hair-stylist, dan mereka mulai bekerja dengan serius. Ivy senang bisa duduk tenang sambil menikmati pijatan di rambutnya. Ketika semua persiapan selesai, Ivy duduk di kursi rias dan memperhatikan gaya rambutnya, dengan wajah yang ceria.
"Apa kalian senang dengan hasilnya?" tanya Ivy.
"Kamu terlihat cantik sekali, Ivy!" kata hair-stylistnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, aku senang sekali dengan gaya rambutnya," kata Ivy sambil tersenyum.
Ketika tiba waktunya untuk syuting, Ivy dan para staf produksi menuju set syuting. Set itu sendiri terlihat sangat megah dan mewah, dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Tokyo yang menjulang tinggi.
Ivy memakai gaun putih yang sangat elegan, dengan sepatu hak tinggi warna silver yang membuatnya terlihat semakin tinggi. Ia merasa sangat percaya diri dengan penampilannya dan siap untuk memulai syuting.
Sesampainya di set, Ivy langsung duduk di kursi make-up dan mulai memperhatikan detailnya. Setelah beberapa menit, sutradara memberikan instruksi pada Ivy tentang bagaimana ia harus berpose dan bergerak.
"Oke Ivy, untuk adegan pertama, kita akan memotret kamu dari sudut yang tinggi. Aku ingin kamu berdiri tegak, dengan tanganmu di pinggul, dan tersenyum ke arah kamera," kata sutradara.
"Baiklah," jawab Ivy sambil mengangguk.
Ia berdiri tegak di tengah set, dengan tangan di pinggul, dan melihat ke arah kamera. Ia tersenyum dengan penuh percaya diri, seolah-olah menunjukkan kecantikan yang luar biasa pada setiap penonton. Fotografer dan sutradara sangat senang dengan hasilnya, dan mereka memberikan pujian pada Ivy.
"Kamu sangat hebat, Ivy! Teruskan.” Ucap sutradara tersenyum puas.
Setelah adegan pertama selesai, para staf produksi mengubah latar belakang set, dan memberikan instruksi baru pada Ivy. Ia harus bergerak dan berpose dengan lebih dinamis, seperti sedang berjalan di atas runway.
Ivy berdiri di atas set yang sudah dibersihkan dari perlengkapan syuting sebelumnya. Ia memakai gaun merah yang sangat elegan, dengan rambut yang diikat ke belakang. Ivy melangkah dengan percaya diri di atas set, menunjukkan gerakan-gerakan yang anggun dan memukau.
"Ayo, jangan ragu! Tunjukkan pada kami bahwa kamu adalah seorang bintang," kata sutradara sambil memberikan instruksi.
Ivy tersenyum dan melanjutkan gerakan-gerakan yang indah. Ia berjalan ke depan, ke belakang, dan berputar dengan sangat elegan. Para staf produksi memberikan tepuk tangan dan pujian pada Ivy, karena ia memang benar-benar berbakat dalam bidang ini.
Setelah beberapa jam, syuting akhirnya selesai. Ivy merasa sangat lelah setelah berpose dan bergerak di atas set selama beberapa jam, tetapi ia juga sangat senang dengan hasilnya. Ia membungkus pakaian dan perlengkapan syutingnya dan mengucapkan terima kasih pada para staf produksi.
Para staf produksi juga memberikan pujian pada Ivy, mengatakan bahwa ia memang benar-benar seorang profesional yang berbakat dan mempesona.
Setelah selesai dari set syuting, Ivy melanjutkan harinya dengan berbagai tugas lainnya. Ia memiliki jadwal yang padat, dengan berbagai pertemuan dengan agennya, seleksi pakaian untuk acara pemotretan, dan tawaran iklan baru yang harus ditinjau.
Setelah itu, Ivy kembali ke apartemennya di Tokyo. Ia melepas sepatu hak tingginya dan mengistirahatkan kakinya yang lelah. Ivy melihat jadwalnya untuk besok dan merencanakan hari berikutnya. Ia harus berangkat ke lokasi syuting di luar kota, dan harus mempersiapkan dirinya dengan baik.
Pada hari berikutnya, Ivy berangkat ke lokasi syuting di luar kota. Setelah beberapa jam perjalanan, Ivy akhirnya sampai di lokasi syuting yang indah di sebuah kota kecil di Jepang.
Ivy disambut oleh para staf produksi yang sudah menunggu di lokasi syuting. Mereka memperkenalkan Ivy pada pemilik tempat dan mempersiapkan set syuting.
"Kamu akan berpose di tengah lapangan bunga, di depan air terjun," kata sutradara sambil memberikan instruksi pada Ivy.
Ivy merasa sangat senang dengan latar belakang set yang indah tersebut. Ia memakai gaun putih yang anggun dan memukau, dengan rambut terurai dan perhiasan yang elegan.
"Oke, siap-siap!" kata sutradara, menandakan bahwa syuting akan dimulai.
Ivy berdiri di tengah lapangan bunga dan berpose dengan sangat cantik. Ia tersenyum dan memperlihatkan keindahan gaun putihnya yang elegan.
"Bagus sekali, Ivy! Kamu sangat cantik!" kata sutradara.
Ivy melanjutkan berpose dan bergerak dengan sangat anggun dan mempesona. Ia sangat berbakat dalam bidang ini, dan setiap gerakan dan pose yang ia lakukan terlihat sangat alami dan indah.
Setelah beberapa jam, syuting akhirnya selesai. Ivy sangat senang dengan hasilnya, dan juga merasa sangat puas dengan pekerjaannya. Ia memberikan ucapan terima kasih pada para staf produksi dan pemilik tempat, dan kembali ke Tokyo.
Ivy sampai di Tokyo pada sore hari, ia duduk di restoran sushi favoritnya dan menikmati makan malam. Ia sedang membaca skrip untuk iklan baru yang akan ia syuting besok, sambil menikmati makanannya.
"Permisi, apa ada yang ingin dipesan?" tanya pelayan restoran.
"Iya, aku ingin pesan set menu sushi dan teh hijau, terima kasih," kata Ivy dengan ramah.
Sambil menunggu makanannya, Ivy kembali melihat-lihat skrip iklan barunya. Ia memikirkan bagaimana ia akan mengekspresikan produk kosmetik baru tersebut dengan cara yang menarik dan memukau. Ivy sangat terampil dalam mengekspresikan produk kosmetik, dan ia ingin membuat iklan tersebut menjadi yang terbaik.
Setelah makan malam, Ivy pergi ke toko-toko di distrik mode Shibuya. Ia mencari pakaian dan aksesori baru untuk digunakan di acara pemotretan berikutnya.
Ivy berjalan di sepanjang toko-toko yang ramai, dan memilih berbagai item yang sesuai dengan gaya pakaian dan citra dirinya sebagai model. Ia memilih gaun-gaun elegan, sepatu hak tinggi, dan aksesori yang indah untuk digunakan di pemotretan berikutnya.
Ketika Ivy keluar dari toko, ia terkejut melihat beberapa orang yang berkerumun di depannya. Mereka semua berusaha untuk mendapatkan tanda tangan atau foto bersama Ivy.
"Ivy, bolehkah aku minta tanda tanganmu?" tanya seorang penggemar dengan wajah bersemangat.
"Ya, tentu saja!" jawab Ivy dengan senyum ramah.
Ia menandatangani buku catatan dan kamera, serta berfoto bersama para penggemarnya. Ivy sangat menyukai penggemar-penggemarnya, dan selalu berusaha untuk memberikan sedikit waktu untuk mereka setiap kali bertemu.
Setelah memberikn fan service kepada para penggemarnya, Ivy dikejutkan dengan seorang anak kecil laki-laki yang memeluk kakinya sambil menangis. Ivy menundukkan dirinya untuk mensejajarkan tingginya dengan anak kecil tersebut.
“Hei, mengapa kamu menangis?” Tanya Ivy lembut dengan mengusap air mata di pipi merah anak kecil itu.
“Mama…Papa,” rengek anak kecil tersebut yang sepertinya belum terlalu lancar berbicara.
“Kamu tersesat? Ayo kita cari mama dan papamu, tapi tante harus tahu dulu siapa nama kamu,” tanya Ivy lembut.
“Aynold.”