
Ivy merenung di balkon apartemennya di Paris, pandangannya kosong ke langit biru yang seakan-akan tidak berakhir. Ia berpikir setelah pindah ke paris ia bisa dengan mudah melupakan Michael, tapi ternyata itu salah besar.
Setelah beberapa bulan yang lalu, Michael, kekasihnya selama empat tahun, pergi meninggalkannya secara tiba-tiba. Dia merasa hancur. Dia tidak dapat memahami mengapa Michael tiba-tiba mengambil keputusan itu. Setiap malam, ia merindukan suara lembut Michael dan kehangatan tubuhnya yang merangkulnya. Namun, kini dia harus menerima bahwa Michael telah meninggalkannya bahkan sudah menikah dengan orang lain.
Lisa, sahabat terbaiknya, memeluk Ivy dari belakang dan memelintirnya dengan lembut ke arahnya. "Aku tahu ini sulit, Ivy, tapi kau harus menatap kenyataan. Michael telah pergi dan tak akan kembali."
Ivy menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya. "Aku tahu," katanya lemah.
"Mungkin kau membutuhkan waktu untuk memulihkan diri," Lisa menambahkan. "Tapi kau harus berusaha bangkit dan melanjutkan hidupmu. Kau tidak bisa terus menerus meratapi kehilanganmu."
Ivy hanya diam, tidak ingin memikirkan apapun. Hidupnya telah berubah drastis sejak Michael pergi. Mereka berencana untuk membangun masa depan bersama, tapi sekarang semua itu hanya berupa kenangan. Ivy terlalu lelah untuk menangis lagi, dan hatinya terasa kosong.
Lisa mencoba mengalihkan perhatian Ivy dari kesedihannya. "Kau tahu, aku masih ingat ketika kita pertama kali bertemu Michael. Kau terlihat begitu bahagia saat itu."
Ivy tersenyum kecil. "Ya, aku ingat itu juga."
"Dan sekarang, kau harus meneruskan hidupmu tanpa dia. Tapi kau tidak sendiri, Ivy. Aku selalu ada untukmu."
Ivy meraih tangan Lisa dan menggenggamnya erat-erat. "Terima kasih, Lisa. Aku tahu kau selalu ada untukku."
Ivy mencoba mencari hal-hal baru selama kepindahannya ke Paris, tetapi setiap kali dia melihat pemandangan romantis di sekitarnya, seperti sepasang kekasih yang berjalan berpegangan tangan atau pasangan yang berciuman di depan toko bunga, dia merasa sakit dan kesepian.
Suatu hari, Ivy dan Lisa berjalan-jalan di sekitar kota Paris ketika mereka melewati toko bunga. Ivy tiba-tiba ingat bahwa Michael selalu memberinya bunga saat mereka bertemu. Dia merasa sakit hati karena tidak akan pernah lagi mendapatkan bunga dari Michael.
Lisa menyadari bahwa Ivy sedang merenungkan sesuatu. "Apa yang sedang kau pikirkan, Ivy?" tanya Lisa.
Ivy menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku mengingat Michael. Selalu terasa aneh bagiku berada di tempat ini tanpa dia."
Lisa mengangkat tangan dan meraih tangan Ivy dengan lembut. "Aku tahu ini sulit, Ivy. Tapi kamu telah membuat kemajuan besar sejauh ini. Kamu sedang belajar bahasa Prancis, mencari pekerjaan baru, dan mencoba bangkit dari kesedihanmu. Itu semua tidak mudah."
Ivy menoleh ke arah Lisa dengan wajah penuh kesedihan. "Tapi kenapa hatiku masih terasa sakit?"
Lisa mengangguk paham. "Karena kamu mencintainya, Ivy. Dan kehilangan seseorang yang kamu cintai sangatlah sulit. Tapi waktu akan menyembuhkan segalanya. Dan satu hari nanti, kamu akan melihat bahwa kamu dapat bahagia lagi tanpa Michael."
Ivy menarik nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak. "Aku harap begitu, Lisa."
"Sudahlah, Ivy," kata Lisa, meraih tangan Ivy. "Kita harus menghadapi kenyataan bahwa Michael telah pergi meninggalkanmu.”
Ivy menatap Lisa dengan wajah penuh kesedihan. "Aku tidak bisa mengerti, Lisa. Kenapa dia harus meninggalkanku?"
Lisa mengelus tangan Ivy. "Mungkin ini bukan saatnya untuk mencari jawaban. Yang penting, kamu harus menerima kenyataan dan memulai proses penyembuhanmu."
Ivy mengangguk, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tapi hatinya masih terasa sakit, dan dia merindukan Michael lebih dari apapun.
"Terima kasih, Lisa," kata Ivy, sambil menangis.
Lisa meraih tangan Ivy dan menggenggamnya erat-erat. "Aku akan selalu ada untukmu, Ivy. Kamu tidak perlu melalui ini sendirian."
Beberapa minggu kemudian, Ivy kembali ke apartemennya yang sepi dan sunyi. Dia merasa hampa tanpa Michael di sisinya. Dia duduk di sofa dan menatap ke hampa, mencoba mencari cara untuk mengatasi kesedihannya.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah foto Michael yang tergantung di dinding. Dia meraih foto itu dan memeluknya erat-erat, mencoba menemukan sedikit kenangan dari kehidupan yang mereka bagi bersama.
Tiba-tiba, telepon genggamnya berdering. Ivy mengambilnya dan melihat nomor yang tidak dikenal.
"Halo?" ucapnya, suaranya serak karena menangis.
"Ivy, ini John. Aku adalah teman Michael."
Ivy merasa aneh. Dia tidak pernah mendengar nama John sebelumnya.
"Maaf, aku tidak tahu siapa kamu," kata Ivy.
"Michael sering kali bicara tentangmu. Aku ingin bertemu denganmu," kata John.
Ivy ragu-ragu. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi dia merasa seperti dia harus menghadapi masa lalunya dan memulai proses penyembuhan.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Kita bisa bertemu di kafe di dekat apartemenku."
Beberapa saat kemudian, Ivy duduk di sebuah kafe kecil, menunggu John. Dia merasa gugup dan tidak sabar untuk bertemu dengannya. Dia tidak tahu apa yang harus diharapkan dari pertemuan ini.
Akhirnya, John tiba dan duduk di meja Ivy. Dia memperkenalkan dirinya dan mulai berbicara tentang Michael.
"Kami berteman sejak kecil," kata John. "Kami tumbuh bersama dan saling mendukung dalam hidup kami. Tapi ketika Michael pindah ke New York, kami kehilangan kontak.”
John mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya.
"Michael memberikan ini untukmu," kata John. "Dia selalu membicarakan tentang betapa hebatnya kamu dan betapa pentingnya kamu dalam hidupnya."
Ivy membuka kotak itu dan menemukan cincin emas di dalamnya. Dia mengenang saat Michael memberikannya padanya, dan hatinya penuh dengan kenangan yang manis.
“Tapi, bukankah Michael sudah menikah lagi?” Tanya Ivy heran.
“Menikah? Darimana kamu tahu? Aku hanya tahu bahwa dia sangat mencintaimu, Ivy. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, hanya saja aku ingin memberikan ini untukmu, sesuatu yang dulu dititipkan oleh Michael kepadaku.” Jelas John.
John menepuk bahu Ivy dengan lembut. "Kamu tahu, Ivy, Michael selalu ingin kamu bahagia. Dia selalu ingin yang terbaik untukmu."
Ivy mengangguk.
"Mungkin Michael sekarang tidak berada di sisimu, tapi kisah cintamu tidak berakhir di sini," kata John. "Kisah cintamu dengan Michael mungkin telah berakhir, tapi kamu masih bisa membangun masa depanmu sendiri.“
"Makasih, John," ujarnya. "Kamu membuatku merasa lebih baik."
John tersenyum. "Tidak ada masalah, Ivy. Aku hanya ingin membantumu meraih kesembuhan dan melanjutkan hidupmu."
Ivy merasa terharu. Dia merasa seperti dia telah menemukan seorang teman yang tulus dan yang peduli tentang kebahagiannya.
Sambil berjalan pulang ke apartemennya, Ivy merenungkan kata-kata John dan melihat-lihat cincin Michael. Dia tahu bahwa dia tidak akan pernah melupakan Michael atau cinta yang mereka bagi bersama, tapi dia juga tahu bahwa dia harus terus maju dan mencari kebahagiaan dalam hidupnya.
Saat Ivy sampai di apartemennya, ia memasuki ruang tamu dan melihat foto-foto Michael yang tersimpan di rak buku. Dia merenung sejenak dan kemudian memutuskan untuk memindahkan foto-foto itu ke sebuah kotak dan menyimpannya di lemari. Dia tahu bahwa dia tidak bisa terus hidup dalam kesedihan dan bahwa dia harus memulai babak baru dalam hidupnya.
Dia duduk di sofa dan memandang ke hampa. Dia merasa sedih dan kosong, tapi juga merasa harapan dan kesadaran bahwa ada masa depan yang lebih baik menantinya. Dalam hatinya, dia tahu bahwa dia akan selalu merindukan Michael, tapi dia juga tahu bahwa dia harus terus maju dan mencari kebahagiaan dalam hidupnya.