
Annisa kembali ke apartemennya dengan hati yang hancur. Dia merasa kehilangan dan kesepian tanpa Reynold. Ketika dia membuka pintu apartemennya, dia merasakan aroma harum yang biasanya datang dari dapur. Namun, kali ini aroma itu tidak membuatnya merasa nyaman seperti biasanya. Semua yang dia inginkan adalah Reynold yang berdiri di sampingnya.
Dia melepaskan sepatunya dan melangkah ke dalam ruangan. Dia melihat sekeliling apartemennya yang hampa dan kesepian. Annisa mengambil teleponnya dan mencoba untuk menelpon Reynold lagi, tetapi sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban.
Tiba-tiba, Annisa merasa kelelahan dan berjalan menuju sofa. Dia merenung dan merenung tentang keadaan mereka, tentang Reynold, tentang masa depan mereka. Kemudian, dia membiarkan dirinya menangis. Dia menangis dengan keras, mengeluarkan semua kesedihannya, menangis tanpa henti.
Dia menatap ke luar jendela, melihat hujan deras yang turun, mencerminkan keadaannya. Dia merasa seperti hujan itu akan terus turun selamanya. Dia merasa seperti dia telah kehilangan segalanya. Semua yang dia inginkan adalah Reynold yang berdiri di sampingnya, memeluknya dan memberinya rasa aman.
Dia mengambil bantal dan memeluknya erat-erat. Dia menangis lagi, menangis keras dan panjang. Setelah beberapa saat, Annisa berhenti menangis dan hanya merenung dalam kesedihannya yang mendalam. Dia merasa sepi dan kehilangan, seperti hidupnya tidak memiliki makna tanpa Reynold.
Annisa merasa bahwa seharusnya dia memantapkan hatinya untuk memilih Reynold dan meninggalkan semua kenangannya bersama Michael, Annisa sudah tidak mempedulikan tentang Michael. Dia merasa bahwa dia tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk terus hidup tanpa Reynold. Dia hanya merasa sedih, hancur dan kesepian.
Setelah menangis sepanjang malam, Annisa bangun dengan tekad yang baru untuk mencari Reynold. Dia tahu bahwa dia harus menemukan Reynold dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Annisa membuka lemari pakaian dan memilih pakaian yang nyaman dan hangat, karena cuaca hari ini sangat dingin. Dia kemudian mengambil kunci mobilnya dan berangkat menuju restoran Reynold, tempat Reynold biasanya bekerja. Ketika Annisa tiba di restoran, dia terkejut karena restoran itu kosong dan tidak ada satu orang pun di dalamnya. Annisa mencoba untuk menghubungi Reynold melalui telepon, tetapi sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban.
Setelah beberapa saat mencari-cari, Annisa memutuskan untuk bertanya kepada keluarga Reynold untuk mencari tahu keberadaannya. Dia bergegas menuju rumah keluarga Reynold yang terletak di pinggiran kota. Ketika dia tiba di rumah Reynold, dia mendapati rumah itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Annisa merasa kebingungan dan frustrasi. Dia tidak tahu ke mana lagi harus mencari Reynold. Dia kembali ke apartemennya dengan perasaan yang hampa dan kecewa. Dia duduk di sofa, merenung tentang apa yang harus dilakukannya selanjutnya.
Saat itulah dia teringat akn rencananya dengan Reynold yang setelah menikah akan pergi ke Paris. Annisa merasa bahwa mungkin Reynold sudah pergi ke Paris. Dia cepat-cepat membuka laptopnya dan mencari tiket pesawat ke Paris. Dia menemukan bahwa ada penerbangan langsung ke Paris dalam waktu tiga jam.
Annisa merasa tidak sabar dan langsung memutuskan untuk membeli tiket pesawat. Dia mengambil tasnya dan berangkat ke bandara dengan cepat. Setelah tiba di bandara, Annisa buru-buru menuju konter penerbangan dan melakukan check-in.
Setelah mendarat di Paris, Annisa mencoba menghubungi Reynold melalui telepon dan email, tetapi tidak ada jawaban. Dia merasa khawatir dan sedih, karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia terus berjalan di sekitar kota Paris, mencari-cari Reynold.
Dia kemudian melihat seorang pria yang tampak seperti Reynold, berdiri di depan toko bunga. Dia mempercepat langkahnya dan mendekati pria itu dengan cepat. Ketika dia mendekat, dia melihat bahwa itu bukan Reynold. Annisa merasa kecewa dan terus berjalan mencari Reynold.
Dia berkeliling di sekitar kota, menanyakan kepada orang-orang yang ditemuinya, tetapi tidak ada yang tahu keberadaan Reynold. Annisa merasa kecewa dan putus asa. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Annisa merasa hampir putus asa saat mencari Reynold di Paris. Kota yang besar dan asing membuatnya merasa terombang-ambing dan kehilangan arah. Namun, tekadnya untuk menemukan Reynold tidak pernah pudar.
Dia memutuskan untuk mencari Reynold di tempat-tempat yang mungkin Reynold kunjungi. Dia pergi ke Notre-Dame dan berkeliling di sekitar katedral, mencari-cari Reynold. Dia juga pergi ke Jardin du Luxembourg, dan Place Vendome, tetapi tidak menemukan jejak Reynold.
Annisa kemudian memutuskan untuk mencari Reynold di Montmartre, sebuah daerah yang Reynold katakan sering ia kunjungi. Montmartre terkenal dengan keindahan arsitektur kuno, kafe yang indah, dan suasana seni yang hidup. Annisa berjalan melewati jalanan yang sempit dan menanjak, melewati toko-toko seni dan kafe-kafe yang ramai.
Dia melihat banyak orang yang tampak seperti Reynold, tetapi setiap kali dia mendekatinya, dia kecewa karena orang itu bukanlah Reynold.
Sudah sore hari ketika Annisa berjalan-jalan di sekitar daerah Montmartre. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan dan suasana menjadi semakin ramai. Annisa merasa lelah dan kelaparan, jadi dia memutuskan untuk mencari tempat untuk makan malam.
Dia masuk ke sebuah restoran yang terletak di sudut jalan. Dia menikmati hidangannya dengan sendirian, tetapi dia merasa kesepian dan merindukan Reynold. Dia berharap Reynold akan muncul dan duduk bersamanya.
Namun, takdir berkata lain. Setelah makan malam, Annisa kembali melanjutkan pencarian Reynold. Meskipun dia kelelahan dan kecewa, tekadnya untuk menemukan Reynold tidak pernah pudar. Dia berjalan-jalan di sekitar kota sepanjang malam, mencari-cari Reynold dengan harapan bahwa suatu saat dia akan menemukannya.
Annisa terus mencari Reynold di Paris dengan tekad yang tak pernah pudar. Meskipun ia kelelahan dan kesepian, ia terus berjalan dan mencari. Ia bahkan pernah mendatangi tempat-tempat yang sudah menjadi bucket list untuk mereka kunjungi bersama, namun Reynold tak pernah ada di sana.
Hingga pada suatu pagi, ketika ia sedang berjalan-jalan di sekitar Trocadero, Annisa merasa tiba-tiba seolah-olah hatinya berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia melihat Reynold di kejauhan, berdiri di depan Menara Eiffel yang menjulang tinggi.
Annisa berlari menuju Reynold dan ketika keduanya bertemu, mata mereka saling memandang dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Reynold tersenyum dan memeluk Annisa erat-erat. "Aku menemukanmu aku mohon jangan tinggalkan aku lagi,” kata Annisa dengan suara serak.
Annisa membalas pelukan Reynold dengan erat. Ia tak bisa menahan air mata kebahagiaan dan kesedihan yang campur aduk. "Aku sangat merindukanmu, Reynold. Aku tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpamu," ucap Annisa dengan suara terbata-bata.
Reynold menatap Annisa dengan tulus dan berkata, "Maafkan aku, Annisa. Aku tahu aku meninggalkanmu, tapi aku melakukan semuanya untuk kebahagiaanmu, aku tidak mau menjadi seseorang yang menghalangi kebahagiaanmu, karena kebahagiaanmu lebih penting daripada kebahagiaanku sendiri.”
"Maafkan aku, seharusnya dari awal aku sudah memantapkan hatiku untuk memilihmu, sekarang aku baru tahu bahwa aku lebih membutuhkanmu, aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu,” ucap Annisa lembut.
Reynold tersenyum dan tidak dapat menahan air matanya, ia sangat bahagia dan lega karena Annisa memilih dirinya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya yang selalu disimpannya baik-baik. Sambil membuka kotak itu dan menunjukkan sebuah cincin berlian yang cantik. "Aku ingin meminta maaf dan memintamu untuk menjadi istriku, Annisa."
Annisa terkejut dan tak bisa berkata-kata. Ia melihat ke dalam mata Reynold yang penuh cinta, dan merasa seolah-olah dunia berputar lebih lambat dari biasanya. "Ya, aku mau," jawabnya akhirnya sambil tersenyum lebar.
Reynold melepas cincin itu dari kotak dan memasangkannya di jari Annisa. Ia kemudian membawa Annisa ke tempat yang sangat romantis, di bawah Menara Eiffel yang megah. Mereka berjalan-jalan di sekitar taman dan menikmati keindahan malam Paris yang mempesona.
Di bawah cahaya remang-remang lampu jalan, Reynold merangkul Annisa dan berkata, "Aku akan selalu mencintaimu, Annisa. Kamu adalah segalanya bagiku."
Annisa merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, sambil merangkul Reynold erat-erat. "Aku juga mencintaimu, Reynold. Kamu adalah segalanya bagiku juga."
Dalam suasana yang sangat romantis itu, Reynold dan Annisa saling berjanji untuk saling mencintai dan menyayangi satu sama lain selamanya.