It’S Me Again

It’S Me Again
Chapter 6



Setelah berjalan selama beberapa menit, Annisa dan Michael akhirnya sampai ke ruangan atasan mereka. Ketika mereka masuk, suasana di ruangan menjadi canggung karena mereka pernah memiliki perasaan suka satu sama lain.


Atasan mereka, Mr. Thompson, duduk di meja besar dan memperhatikan mereka dengan serius. "Selamat pagi, Annisa dan Michael," ucapnya dengan suara tegas. "Saya memanggil kalian berdua karena saya memiliki proyek yang sangat penting untuk dilakukan di Paris."


Annisa dan Michael saling pandang, mencoba untuk menghindari kontak mata satu sama lain. Mereka tahu bahwa proyek ini akan membutuhkan kerja sama yang erat, tetapi mereka tidak yakin apakah mereka dapat bekerja bersama tanpa membawa perasaan mereka yang dulu kembali ke permukaan.


"Saya yakin kalian berdua masih ingat betapa suksesnya proyek fashion yang kalian lakukan di New York," kata Mr. Thompson sambil memandangi keduanya. "Kami ingin kalian melakukan hal yang sama di Paris, untuk majalah kami yang terkemuka di industri fashion."


Annisa dan Michael saling berpandangan lagi, kali ini dengan rasa khawatir dan ragu-ragu. Mereka tahu bahwa proyek ini akan memakan waktu dan usaha yang banyak, dan mereka juga tidak ingin mempengaruhi kinerja mereka dengan membiarkan perasaan lama mereka kembali muncul.


"Mari kita mulai bekerja pada proyek ini," kata Mr. Thompson dengan nada tegas. "Kalian berdua memiliki kemampuan yang hebat dalam bidang fashion, dan saya yakin kalian akan bekerja sama dengan sangat baik untuk mencapai tujuan kami."


Annisa dan Michael saling bertatapan sekali lagi, tetapi kali ini mereka tersenyum kecil. Mereka tahu bahwa proyek ini akan menantang, tetapi mereka juga yakin bahwa mereka bisa melakukan pekerjaan yang baik. Dalam hati, mereka berjanji untuk tidak membiarkan perasaan lama mereka mengganggu pekerjaan mereka dan fokus pada proyek ini dengan profesionalisme dan tekun.


Setelah tiba di Paris, Annisa dan Michael sangat terpesona dengan keindahan kota ini. Mereka keluar dari bandara dan menghirup udara segar. Mata mereka terbuka lebar saat melihat pemandangan sekitar yang spektakuler.


"Paris benar-benar memukau!" ucap Michael dengan takjub.


Annisa hanya bisa mengangguk setuju. Ia melihat sekitar dan mencoba menyerap setiap detail yang ada. Mereka berjalan-jalan melewati Jardin des Tuileries dan menuju jalan Rue de Rivoli. Annisa terkesima dengan pemandangan di sekitar.


"Tempat ini sangat cantik," ucapnya. "Aku suka betapa indahnya pohon-pohon ini."


Michael tersenyum dan mengangguk. "Ya, suasana di sini memang sangat menyenangkan."


Mereka terus berjalan dan berbicara tentang rencana mereka selama di Paris. Saat melewati Place de la Concorde, mereka terpana melihat Obelisk. Bangunan yang sangat besar dan indah, memenuhi pandangan mereka.


"Kita harus mengunjungi tempat ini nanti," kata Annisa. "Aku ingin melihat lebih dekat lagi."


Mereka berjalan melewati La Madeleine dan berhenti di depan Louvre. Annisa melihat ke arah bangunan dan merasakan kekaguman di hatinya.


"Wah, bangunan ini sangat megah," ucapnya sambil mengelus dinding Louvre. "Aku tidak sabar untuk mengunjungi museum ini nanti."


Mereka kemudian berjalan melewati Seine River dan melewati Jembatan Alexandre III. Michael mengambil tangan Annisa dan membawanya ke atas jembatan. Mereka berhenti sejenak dan menikmati pemandangan yang indah.


"Kita harus berfoto di sini," kata Michael sambil mengeluarkan kamera.


Annisa tersenyum dan mengangguk. Mereka mengambil beberapa foto bersama, dan terus berjalan melewati jalan-jalan yang indah.


"Paris benar-benar luar biasa," kata Annisa, melihat ke arah bangunan-bangunan yang tinggi.


"Ya, aku merasa sama," kata Michael sambil menarik Annisa lebih dekat kepadanya. Annisa merasakan perasaannya menjadi canggung karena saat ini ia dan Michael harus bekerja sama dalam waktu yang lama setelah mereka saling menyukai di masa lalu.


Annisa merasa lega, setidaknya saat ini mereka bisa fokus pada tugas mereka dan mengeksplorasi Paris bersama. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat dan kegembiraan.


Annisa dan Michael merasa antusias saat memulai proyek fesyen mereka di Paris. Mereka memiliki rencana yang matang dan siap untuk menghadapi tantangan baru. Pertama-tama, mereka memutuskan untuk mewawancarai beberapa narasumber terkenal dalam industri fashion di Paris.


Pertama, mereka bertemu dengan Jean-Paul Gaultier, salah satu desainer fashion paling terkenal di dunia. Wawancara berlangsung di kantor Gaultier yang terletak di jantung kota Paris. Mereka sangat terkesan dengan suasana kantor yang elegan dan penuh gaya.


Gaultier sangat terbuka dan ramah kepada Annisa dan Michael. Dia berbicara tentang inspirasinya dan bagaimana ia mendapatkan ide-ide baru untuk koleksi fashion-nya. Annisa dan Michael memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Gaultier, mencatat setiap detail untuk menggunakannya dalam artikel majalah mereka.


Setelah wawancara dengan Gaultier, Annisa dan Michael menuju ke acara Paris Fashion Week, yang diadakan di Carrousel du Louvre. Mereka sangat terkesan dengan keindahan bangunan bergaya klasik dan taman yang indah. Mereka menghabiskan waktu berkeliling melihat pameran dan menemui banyak orang penting dalam industri fashion.


Di sana mereka bertemu dengan Karl Lagerfeld, salah satu desainer fashion terkenal lainnya. Wawancara mereka berlangsung di area VIP, di mana mereka bisa merasakan suasana yang mewah dan glamor. Lagerfeld sangat cerdas dan menginspirasi, dengan banyak cerita menarik tentang dunia fashion.


Selain itu, Annisa dan Michael juga mengunjungi beberapa toko fashion terkenal di Paris, termasuk Chanel dan Dior. Mereka mengambil banyak foto dan mencatat setiap detail untuk artikel mereka.


Setelah menyelesaikan wawancara dan kunjungan ke toko fashion, Annisa dan Michael kembali ke kantor majalah mereka untuk menulis artikel mereka. Mereka berdiskusi tentang setiap detail, mengedit dan merevisi setiap kalimat untuk memastikan artikel tersebut sempurna.


Dalam prosesnya, Annisa dan Michael terkadang merasa canggung di antara satu sama lain, teringat akan perasaan suka mereka di masa lalu. Namun mereka berusaha untuk fokus pada tugas mereka dan mengabaikan perasaan pribadi mereka.


Dimalam terakhir mereka di Paris, Annisa dan Michael menghadiri sebuah fashion show yang sangat spektakuler di Paris. Mereka duduk di barisan depan, di mana mereka dapat melihat setiap detail dari busana yang dihadirkan dalam pertunjukan tersebut. Cahaya sorot yang cantik dan indah memancar di atas runway yang terangkat, membuat suasana semakin terasa magis.


Saat show dimulai, Annisa dan Michael menyadari bahwa mereka masih merasakan ketegangan antara satu sama lain. Namun, kegembiraan melihat model-model cantik berjalan di atas runway, dan karya desainer yang indah membuat perasaan mereka menjadi lebih santai dan hangat.


Setelah pertunjukan, mereka keluar dari gedung fashion show dan berjalan-jalan di sekitar Paris malam. Mereka berjalan-jalan di sepanjang Rue de Rivoli, sebuah jalan yang indah dan ramai di Paris. Cahaya dari lampu jalan dan dekorasi toko-toko memberikan suasana yang romantis.


"Sudah lama aku tidak merasakan suasana yang indah seperti ini," ujar Annisa dengan suara lembut.


Michael menoleh ke arah Annisa dan tersenyum. "Aku juga merasakan hal yang sama, Annisa. Paris memang selalu menyajikan suasana yang sangat indah."


Annisa dan Michael terus berjalan-jalan dan berbicara, menikmati pemandangan yang indah di sekitar mereka. Ketika mereka melewati sebuah toko bunga, Michael mengambil sebuah bunga lalu memberikannya kepada Annisa.


"Untukmu," kata Michael sambil memberikan bunga itu pada Annisa.


Annisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Mereka terus berjalan-jalan hingga akhirnya mereka tiba di sebuah kafe kecil.


Mereka memesan minuman dan duduk di meja yang nyaman, berbicara tentang apa yang mereka rasakan satu sama lain.


"Annisa, aku tahu kita pernah memiliki perasaan untuk satu sama lain," kata Michael dengan suara tegas. "Aku masih merasa ada yang tersisa antara kita."


Annisa menatap Michael dengan penuh harap. "Aku juga merasakan hal yang sama, Michael."