It's Dangerous

It's Dangerous
Kata Cinta Tanpa Harus Mengucapkan Cinta



Alex pergi begitu saja setelah mendengar pernyataan yang menyakitkan dari Nadine. Nadine menyeka air matanya dengan cepat ketika Angel keluar dan mempertanyakan tentang keberadaan Alex.


"Dia sudah keluar." Jawab Nadine, yang sebisa mungkin mencoba menutupi kesedihannya.


"Keluar? Kemana perginya anak itu." Angel mencoba menghubungi Alex bahkan sampai beberapa kali namun tetap tak ada jawaban.


"Ngel..." Nadine menyodorkan ponselnya pada Angel, ada panggilan dari Papa Angel disana.


"Iya hallo Pa. Iya, aku segera kesana sekarang." Angel mengembalikan ponsel Nadine.


"Ayo, kita harus kembali ke perusahaan sekarang."


Angel menemui pemilik toko, setelah berbincang beberapa saat dia pun akhirnya kembali ke perusahaan bersama Nadine.


***


"Kamu langsung balik aja, Aku mau keluar kota sekarang."


"Aku anterin?."


"Gak usah, aku berangkat bareng Papa dan supirnya." Angel turun dari mobil, beranjak masuk kedalam perusahaan.


Nadine yang sempat termenung beberapa saat akhirnya memutuskan untuk kembali ke Apartemen Angel.


*


Nadine merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah ke atas sofa ruang tamu, tak lama Nadine terlelap disana.


Nadine dikagetkan dengan suara ketukan pintu, yang di ketuk berulang kali tanpa henti. Ketika terbangun, ternyata sudah gelap. "Berapa lama aku tertidur." Sambil mengucek-ngucek matanya Nadine bangkit, lalu berjalan ke arah pintu. "Siapa yang datang malam-malam begitu."


Cekleekk....


Tubuh Alex langsung jatuh ke pelukan Nadine, ketika pintu dibuka.


"Kau mabuk?" Bau Alkohol begitu menyengat. Nadine bisa langsung tahu, Alex pasti meneguk banyak minuman keras.


Dalam keadaan setengah sadarnya, Alex kembali menyeimbangkan tubuhnya. Lalu berjalan sempoyongan masuk kedalam Apartemen.


"Kau salah masuk, Apartemen mu ada di seberang sana." Nadine mengikuti Alex berjalan dan akhirnya merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Dengan mata terpejam, Alex tertawa. "Apa kau pikir, aku tidak tahu."


Alex membuka matanya, menatap Nadine dengan nanar. "Benarkah tak ada lagi sedikitpun rasa itu?" Lirih Alex dengan air mata mengalir di sudut matanya.


"Lepaskan aku Alex!" Nadine mencoba melawan, melepaskan dekapan Alex. Atau dia, sebenarnya sedang mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, sebelumnya kau menjawabnya."


"Bukankah sudah aku katakan semuanya? Apa itu masih kurang?"


"Tentu! Aku masih tidak percaya. Sebelum membuktikannya."


"Buktinya?" Nadine mengernyitkan keningnya.


Dan dengan cepat kecupan Alex mendarat di bibirnya.


Nadine yang mendapat kan kecupan tiba-tiba itu pun hanya terdiam. Menatap netra Alex yang juga sedang menatapnya dalam.


"Alex aku mohon, jangan lakukan ini padaku!"


Tatapan itu membuat Nadine melemah. Alex berbalik, merebahkan Nadine ke atas sofa dan menindih tubuhnya.


******* bibir Nadine lembut.


Seakan terhipnotis dengan ci*man Alex. Nadine tak melawan, spontan dia memejamkan matanya. Menikmati ci*man itu.


Menikmati setiap belaian Alex, yang Nadine pikiran. Alex tidak akan mengingat apapun besok.


Dalam keadaan mabuknya, Alex begitu menikmati setiap permainan yang sedang mereka mainkan. Seakan ingin membayar rasa rindunya. Ingin membalas waktu yang sudah memisahkan mereka.


******* Nadine, membuat Alex semakin bersemangat. Peluhnya berjatuhan.


Setelah puas, Alex terkapar di atas sofa dengan kelelahan. Nadine kembali meraih pakaiannya. Menyelimuti Alex, lalu menatap Alex dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Aku tahu kau masih mencintaiku!" Gumam Alex dalam lelapnya.


NEXT>>>