It's Dangerous

It's Dangerous
Next>>>



"Sorry" Angel kembali menghampiri Alex yang sedang berada diruang tamu.


"Dia tinggal disini?" Tanya Alex dengan nada dinginnya sambil melihat-lihat rekomendasi Aula Pernikahan yang akan mereka gunakan untuk acara tunangan nantinya.


"Empp, aku butuh temen buat ngobrol atau tukar pendapat. Dan Nadine sangat cocok untuk itu."


"Lalu kenapa tidak minta dia untuk memilih gedung mana yang akan kita gunakan!"


"Biarkan dia membereskan barang-barangnya dulu. Dia baru saja sampai. Bagaimana dengan gedung ini, kamu suka?" Sambil menunjukkan salah satu foto aula.


Alex melihatnya sekilas lalu menggeleng.


"Tidak ada yang aku suka. Coba cari rekomendasi yang lain." Sambil meletakkan kembali gambar-gambar rekomendasi itu lalu menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Benarkah?" Angel kembali melihat-lihat gambar yang menurutnya semua bagus-bagus. Saking bagusnya dia sampai tidak tahu harus memilih yang mana. Dilirikknya ke arah Alex yang seakan tak acuh.


"Baiklah, nanti akan aku minta Nadine carikan rekomendasi lain." Angel merapikan meja yang berserakan dengan gambar-gambar rekomendasi Aula Pernikahan tersebut.


"Kamu mau makan disini? Akan aku siapkan makan siang." Tawar Angel.


Alex berfikir sejenak. "Baiklah."


Angel tersenyum puas, ajakannya kali ini berbuahkan hasil.


"Baiklah, buat dirimu senyaman mungkin. Aku akan siapkan makan siang sekarang."


"Tidak minta bantuan dia?" Sambil melirik ke kamar Nadine.


"Tidak perlu, biarkan dia istirahat." Angel langsung menuju dapur. Dengan begitu bersemangat, ingin menunjukkan keahlian memasaknya pada calon tunangannya itu.


***


Alex memilih untuk menunggu di balkon sambil menikmati pemandangan kota. Sebenarnya hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Pertemuannya kembali dengan Nadine membuat dia sedikit tergoyahkan. Rasa di hatinya tidak dapat dikontrolnya, dia ingin membenci Nadine dengan apa yang sudah dilakukan Nadine padanya. Namun, perasaan sayangnya masih terlalu besar.


begitu juga dengan Nadine.


Nadine sedang sangat-sangat berusaha mengontrol dirinya. Mencoba untuk mengikhlaskan Alex, mungkin mereka mereka berdua memang tidak di takdirkan bersama.


Pertemuannya kali ini dengan Alex, menyadarkan dia bahwa dia hanya segelintir kenangan yang bisa dengan mudah dilupakan Alex.


"Buktikan bahwa kamu mampu Nadine. Angel memang yang terbaik untuk Alex. Percayalah, mereka akan bahagia jika bersama."


Tok!Tok!


"Nad, ayo makan siang dulu."


Mendengar itu Nadine langsung keluar dari kamar, menghampiri Angel dan Alex di meja makan.


"Kamu yang masak?" Tanya Nadine yang baru tahu kalau ternyata Angel bisa memasak.


"Iya dong." Jawab Angel dengan bangga. "Ayo silakan dimakan, selamat menikmati." Dengan raut wajah bahagianya.


Disela-sela makannya, Nadine tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke arah Alex. Berbeda halnya dengan Alex yang tidak menoleh sedikitpun ke arah Nadine.


"Coba yang ini juga deh Lex." Sambil menaruhnya dalam piring Alex.


"Jangan!" Spontan Nadine melarang Angel memberikan Alex makanan itu. *"Dia alergi jamur." *Namun Angel sudah terlanjur menaruhnya didalam piring Alex.


"Kenapa Nad?" Tanya Angel tidak mengerti kenapa tiba-tiba Nadine melarangnya.


"Terimakasih." Alex langsung memakan jamur yang diberikan Angel itu.


Sedangkan Nadine hanya bisa melihatnya dengan gelisah. Takut Alex akan kenapa-kenapa.


"Tidak... Tidak apa-apa." Jawab Nadine atas pertanyaan Angel tersebut.


Setelah makan siang, Alex langsung pulang.


Sedangkan Nadine semakin gelisah, dia benar-benar merasa tidak tenang.


"Ngel aku ke luar sebentar ya. Mau beli sesuatu." NAdine berbohong.


"Empp... Baiklah." Angel masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


Nadine bergegas untuk keluar mencari Alex. Dia mempercepat langkahnya ketika melihat Alex di dalam lift, Nadine berhasil masuk sebelum pintu lift tertutup.


Alex tidak memperdulikan Nadine.


"Kenapa kamu makan itu, jelas-jelas kamu alergi jamur."


"Peduli apa kamu? Tidak perlu bertingkah seakan kamu memperdulikan aku."


"Ch.. Kamu sengaja memakannya! Kamu ingin mati?"


Gejala alergi itu sudah mulai timbul, bintik-bintik merah mulai terlihat di tangan dan wajah Alex.


"Kamu ingin aku mati?" Alex melangkah mendekati Nadine, hampir tak berjarak.


Nadine hanya menatap Alex dalam. Tatapan penuh amarah itu membuat hati Nadine nanar.


"Urus saja urusan mu sendiri."


"Alex ...!" Bentak Nadine yang sudah tidak tahan. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Alex.


Alex memegang dadanya, Nadine sudah menduganya. Ini puncak dari gejala alergi itu. Alex akan sesak nafas.


Alex tak punya pilihan, dia benar-benar akan mati jika memilih untuk tetap keras kepala.


***


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Nadine kepada dokter yang baru saja memeriksa Alex.


"Untung Anda cepat membawanya kerumah sakit, pasien baik-baik saja saat ini. Anda bisa masuk dan menemuinya." Dokter tersebut langsung meninggalkan Nadine.


Nadine masuk dan menghampiri Alex yang terbaring dengan selang oksigen di hidungnya.


"Ternyata kamu masih perduli padaku." Dengan senyum kecutnya.


"Kalaupun itu bukan kamu, aku pasti akan tetap menolong orang sekarat dihadpanku."


"Kamu boleh pergi sekarang." Alex menoleh ke arah lain.


"Sebenci itukah kamu padaku? Sampai tidak ingin menatapku?"


"Apa menurutmu aku harus tetap baik pada orang yang sudah mengkhiatiku?"


"Tentu tidak. Kamu bisa membenciku sepuasmu! Aku permisi."


Nadine meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Alex seorang diri disana. Setelah memastikan Alex baik-baik saja cukup membuat Nadine lega.


Alex menoleh, namun Nadine sudah menghilang di bali pintu ruangan itu. "Aku membutuhkan kamu Nad!"


***


"Kok lama?" Tanya Angel yang sudah menunggu Nadine sedari tadi.


"Emm.. I-itu, tadi macet."


Angel mengernyitkan alisnya, heran kenapa tiba-tiba Nadine jadi terlihat gugup.


"Temanin aku yok." Ajak Angel.


"Kemana?"


"Cari rekomendasi Aula Pernikahan. Rekomendasi yang kemarin gak ada yang Alex suka."


"Hemm baik lah."


***


"Kenapa kamu?" Tanya Nadine yang mendapati Angel terlihat gelisah.


"Udah dua hari ini Alex gak ada kabar. Aku telpon nomornya gak aktif." Sahut Angel sambil terus mencoba menghubungi Alex.


"Ngel.."


"Emp!"


"Kok kamu akhirnya jadi mau dijodohin sama Alex. Bukannya awalnya kamu gak setuju dengan perjodohan ini?"


Angel menatap ke arah Nadine ketika mendapatkan pertanyaan yang tidak terduga itu. Dia meletakkan ponselnya lalu menjawab dengan serius pertanyaan Nadine tersebut.


"Awalnya aku gak tau Alex orangnya seperti apa. Dan ketika melihat dia untuk pertama kalinya, aku teringat sosok orang yang paling spesial dalam hidup aku dulu. Kami menjalin hubungan selama 5 tahun, tapi ternyata Papa aku tidak merestui hubungan kami. Apa pun yang di lakukan olehnya, Papa tetap tidak luluh." Sambil menatap kosong ke luar balkon. "Alex benar-benar mirip dengannya." Dengan senyuman tipis yang tergambar di wajah Angel. Dia melanjutkan kalimatnya. "Aku sempat bertanya, 'Apa Tuhan mengirimnya kembali padaku dalam sosok orang lain.' Aku benar-benar bersyukur bisa dipertemukan dengan Alex. Aku tidak perduli dia terpaksa atau tidak dengan perjodohan ini. Yang jelas, aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya."


"Memangnya, kemana pria itu sekarang?"


"Dia bunuh diri. Tepat di hari jadi kami yang ke lima." Air mata Angel mengalir.


Nadine jadi merasa tidak enak dengan pertanyaannya. Hatinya bak teriris pisau tajam. Pernyataan Angel membuat hatinya hancur sesungguhnya. Mengetahui jika orang yang dicintainya atau lebih tepat, suaminya! harus direlakan untuk orang lain.


Yap, status Nadine dan Alex sesungguhnya masih sah suami istri. Belum ada kata cerai dari keduanya.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT>>>