It's Dangerous

It's Dangerous
Ep. 37



*Pov Nadine.


Aku melangkah menuju kerumah Momy nya Alex. Dengan perasan yang begitu sakit, rasa yang tidak dapat aku ungkap kan dengan kata-kata..


Aku mengambil keputusan, memilih meninggalkan Alex.


Aku tau itu yang sangat di ingin kan oleh ibu nya. Dan aku juga tidak sanggup membiarkan ibu ku menderita seorang diri...


"Aku akan meninggalkan Alex."


Mendengar ucapanku, Momy nya Alex tertawa terbahak-bahak kegirangan.


"Baik lah. Ini..." Dia melempar sebuah amplop di atas meja. Setelah sesaat, aku meraih amplop tersebut dan membukanya.


Ada tiket pesawat, alamat, dan sejumlah uang.


"Gunakan itu untuk menghidupi diri kalian selama di sana."


Aku mengambil alamat di dalam amplop tersebut dan meletakkan kembali amplop nya di atas meja berserta isi nya yang lain.


"Aku hanya perlu ini. Terimakasih." Aku menunjukkan alamat tersebut, setelah itu bergegas pergi.


Aku menuju ke bandara. Memesan tiket pesawat, dan setelah menunggu untuk beberapa lama, aku berangkat. Meninggalkan kota yang sudah memberiku beribu kenangan. Terutama bersama Alex.


Air mata ku mengalir. Hati ku terasa sakit sekali.


"Tuhan, jangan buat dia sampai membenciku."


Pintaku ....


Aku menyeka air mataku. Memandang ke arah luar jendela pesawat.


Pandanganku kosong.


Fikiran ku, tentu saja terus memikirkan Alex.


Lelaki yang sudah mengajari aku apa itu cinta yang sebenarnya. Lelaki yang begitu menyayangi aku. Lelaki yang akan ku pastikan, dia lah satu-satu cinta terakhirku.


Aku memejamkan mataku ..


Memilih untuk memikirkan ibu, alih-alih untuk melupakan Alex.


Mencoba untuk membayangkan, ibu sedang menunggu kedatanganku di sana. Ibu yang sedang membutuhkan bantuan ku. Ibu yang selama ini aku cari.


***


Dengan perasaan yang begitu deg-degan.


Dan ...


Aku langsung mengenali wanita paruh baya yang sedang berjalan di gang kecil itu. Air mata ku mengalir. Aku berlari menghampiri nya. Dan langsung memeluk nya dari arah belakang.


"Ibu maafkan aku." Lirih ku....


Ibu hanya terdiam. Membiarkan aku memeluknya, aku tahu dia juga sedang menangis.


Dia menggenggam kuat tangan ku yang melingkar di perutnya.


"Maafkan ibu." Dia berbalik dan kembali memelukku.


Setelah selesai dengan adegan nangis menangis dan haru biru. Ibu mengajak ku pulang kerumah yang selama ini dia tempati.


Aku meraih barang-barang yang ada di tangan nya. Membantu nya membawakan barang-barang tersebut.


Ibu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup kecil.


Aku mengikutinya masuk kedalam.


"Ibu .. berapa lama ibu sudah tinggal di sini ?"


"Sudah hampir satu tahun." Ucap nya sambil mengeluarkan isian yang berada di dalam kantong plastik yang aku bawakan.


"Apa rentenir-rentenir itu masih sering menemui ibu ?"


"Masih, mereka datang dalam satu bulan sekali. Ibu menyuruh mereka datang di akhir bulan karena Ibu gajian pada akhir bulan."


"Ibu kerja apa ?"


"Bantu-bantu cuci piring di rumah makan, itu yang ibu bisa. Memang gaji nya tidak seberapa. Namun paling tidak rentenir-rentenir itu sudah mau mengerti dan menerima jumlah yang ibu berikan setiap bulan nya."


Ada rasa sesak dalam hati ku. "Selama ini ibu berjuang sendirian."


"Ibu...." Aku memeluk ibu ku. menangis dalam pelukannya. sebenarnya bukan hanya karena bersalah pada ibu. Namun juga karena rasa sesak memikirkan Alex.


"Sudah.. Jangan merasa bersalah, ini semua keputusan ibu. Ibu memilih meninggalkan mu disana, ibu siap dengan segala resiko nya."


"Sekarang, kita berjuang bersama." Ucap ku sambil memandang dalam mata ibu yang begitu tampak lelah. Ku genggam erat tangannya. Memberinya harapan untuk menyosong hari-hari bersama.


Ibu tersenyum. Untuk pertama kali nya, aku bisa melihat lagi senyum nya setelah sekian lama terpisah.