
Disaat Nadine sudah dipindahkan kedalam ruangan. Adit dan Alex rebutan dan beradu argumen, karena keduanya sama-sama ingin menjaga Nadine.
"Aku Bos dia, aku yang seharusnya jagain dia." Ucap Adit saat ingin masuk ke dalam ruang rawat Nadine dan dihalangi oleh Alex.
"Tapi untuk satu tahun ini, dia adalah bawahanku. Dan dia bekerja untukku, aku yang lebih berhak untuk jagain dia."
"Lebih baik kamu urus saja pacar kamu itu, dia penyebab semua ini!"
"Lalu kamu sendiri? apa kamu tidak merasa bersalah meninggalkan istri yang baru beberapa jam lalu kamu nikahi dan datang kesini untuk merawat wanita lain?"
Adit terdiam, tak ada bantahan. karena yang dikatakan Alex benar adanya.
Untuk sesaat dia lupa akan statusnya sebagai suami orang!
Adit mengalah, dan membiarkan Alex masuk kedalam ruang rawat Nadine.
Untuk beberapa saat dia terdiam, termenung diluar ruang rawat Nadine. Dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri karena sudah memberikan Nadine perkejaan yang berbahaya.
Lamunannya dibuyarkan oleh suara ponselnya.
"Kamu dimana? papa kamu nyariin kamu." Ucap Zia dari seberang telfon sana.
"Iya, aku akan segera kesana." Adit bergegas meninggalkan rumah sakit dan menuju kerumahnya, karena papa nya diizinkan pulang untuk satu hari saja karena menghadiri pernikahan Adit.
Namun saat mendengar Adit meninggalkan acara pernikahannya begitu saja, kesehatan papa nya menurun drastis.
*Didalam ruang rawat Nadine.
"Bodoh! kenapa kamu gak mau dengar perkataan ku. Seharusnya kamu tidak keluar dari mobil, jadi semua ini tidak akan terjadi." Ucap Alex pada Nadine yang masih terbaring belum sadarkan diri.
Tanpa Alex sadari air mata nya menetes, ada kecemasan yang tidak dapat ia gambarkan. Tidak tau mengapa dia merasa begitu khawatir dengan keadaan Nadine. Alex menggenggam tangan Nadine yang terasa begitu dingin.
Alex terus mengutuk dirinya sendiri karena hal bodoh yang dia lakukan. Seandainya dia tidak lagi berhubungan dengan Zoya mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi.
"Maafkan aku Nadine, Maafkan aku." Suara Alex mulai terdengar serak karena menangis. Dia menunduk sambil terus menggenggam tangan Nadine. Enggan untuk meninggalkannya walau sebentar saja.
Hampir 4 jam kemudian Nadine mulai siuman. Saat dia membuka mata, dia melihat Alex yang sedang menunduk didekatnya.
Raut wajah Alex berubah drastis. Dia begitu bahagia melihat Nadine sudah siuman.
"Dasar bodoh!" Ucap Alex kesal, dengan sifat keras kepala Nadine yang tak mau mendengarkannya untuk tetap didalam mobil.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Nadine saat melihat wajah Alex memar bekas pukulan. Dan ada sedikit darah yang sudah mengering disudut bibirnya.
"Kamu yang tidak baik-baik saja bukan aku." Jawab Alex ketus.
"Apa kamu gak ngobatin luka kamu?" Nadine merasa bersalah, karena dia Alex jadi direpotkan.
"Dasar! Benar-benar bodoh! seharusnya kamu lebih mengkhawatirkan dirimu terlebih dulu sebelum mengkhawatirkan orang lain."
"Tapi tugas aku untuk lindungi kamu. Maaf !!" mata Nadine mulai berkaca-kaca.
Alex yang menyadari itu langsung mencoba untuk menghibur Nadine agar tidak larut dalam rasa bersalahnya.
"Udah-udah aku gak apa-apa kok, cuma memar sikit."
"Zoya gimana? apa ada kabar tentang dia?"
"Entahlah, aku tak peduli. Seharusnya aku mendengarkan perkataanmu, mungkin semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak berhubungan lagi dengan Zoya." Tampak raut penyesalan diwajah Alex.
Nadine hanya membalas dengan sedikit senyuman, wajahnya masih terlihat begitu pucat dan kondisinya masih begitu lemah.
"Sebaiknya kamu lihat keadaan Zoya dulu." Ucap Nadine sambil memejamkan matanya.
"Bagaimana dengan kamu?"
"Disini banyak perawat yang akan menjagaku. Dan aku sangat ngantuk sekarang, aku akan tidur sebentar. Kamu sebaiknya melihat keadaan Zoya dulu, takutnya dia kenapa-kenapa."
"Baiklah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Ucap Alex menyetujui permintaan Nadine walau sebenarnya sangat berat rasanya meninggalkan Nadine dalam keadaan yang masih sangat lemah.
Nadine hanya mengangguk dengan mata yang masih terpejam..
***