
Aku membanting stir dan mengambil jalur bahu jalan.
Menginjak rem dadakan sampai membuat Angel terkejut.
"Ada apa Nadine ?" Tanya Angel dengan ekspresi kaget nya.
Aku diam.. Tentu saja aku kehabisan kata-kata, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Alex akan menikah lagi, dengan orang yang aku kenal. Dan bagaimana mungkin Alex bisa secepat itu melupakan aku hanya dalam waktu kurang dari 7 bulan. Ini benar-benar konyol. Aku membatin... !!!!
"Nadine ada apa, apa yang yang terjadi ?" Tanya Angel lagi.
"Maaf Ngel." Aku kembali melajukan mobil, mengantar Angel pulang, dengan perasaan yang sudah tak karuan.
Aku kembali kerumah ku, dengan pertanyaan-pertanyaan yang entah siapa yang bisa menjawabnya.
Aku masih syok. Masih belum bisa menerima kenyataan. Masih belum bisa merelakan.
Walaupun Alex sudah melupakan aku dengan begitu mudah.
"Nadine, besok datang lebih awal yaa."
WhatsApp dari Angel.
"Apa aku keluar aja yaa dari pekerjaan ini. aku pasti akan sering jumpa dengan Alex kalau tetap bekerja dengan Angel. Tapi aku harus cari kerja kemana lagi, aku menemukan pekerjaan ini setelah bersusah payah berusaha mencari pekerjaan. Kalau aku keluar, aku belum tentu bisa menemukan pekerjaan yang cocok dengan ku lagi. Yaa Tuhan, aku harus apa."
"Baik Ngel." Balas ku..
Aku tidak punya pilihan lain, selain menghadapi apapun yang akan terjadi.
*Keesokan hari nya. Aku menyiapkan mental, dan melangkah menjalani hari.
Seperti biasa. Setelah naik bus untuk menuju kerumah Angel. Aku duduk dihalaman depan rumah nya, dan menunggu Angel keluar, dan tidak lupa mengirim WhatsApp pada Angel, untuk memberitahukannya kalau aku sudah sampai di rumahnya ...
"Okee, tunggu sebentar yaa Nad." Balas Angel.
Aku menunggu sekitar hampir 7 menit, setelah itu baru Angel keluar dari rumahnya.
Seperti biasa, dia keluar dengan senyum sapa nya yang ramah.
"Ayo kita berangkat." Ucap Angel sambil menyodorkan kunci mobil pada ku.
"Kita kemana ?" Tanya ku sesaat setelah melajukan mobil.
"Kita akan ke hotel, menjemput Alex." Ucap Angel, dengan jari nya yang sibuk mengetik di layar handphone nya.
"Sudah aku duga." Gumam ku dalam hati.
Dengan berat hati, aku mengikuti perintah Angel.
Sesampai di hotel. Aku menunggu di mobil, Angel turun dan masuk kedalam hotel, menuju ke kamar Alex.
Jantungku terus berdegup, memikirkan apa yang sedang di lakukan mereka didalam sana. Ada cemburu yang bersarang di dada ku. Rasa yang ingin aku musnahkan.
Aku sudah sangat berusaha melupakan dan merelakan Alex, rasa yang aku fikir sudah mulai menghilang ternyata bisa dengan mudah tergoyahkan hanya dalam waktu sedetik ketika melihat wajah Alex.
Aku melihat Angel dan Alex datang menuju ke arah mobil.
"Huffttt..."
Aku menarik nafas panjang..
"Nad, kita ke kantor dulu yaa." Ucap Angel setelah masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Alex yang duduk di samping nya.
*Didalam mobil menuju kantor.
"Kenapa kamu bisa menerima perjodohan ini ?" Tanya Angel pada Alex.
"Hemm entahlah. Hanya ingin saja. Kamu sendiri."
"Aku... ? Awalnya aku ingin menolak perjodohan ini, tapi setelah bertemu dengan mu dan sedikitnya tau tentangmu, entah kenapa rasa nya aku jadi tertarik dengan perjodohan ini."
"Benarkah ?"
"Aku percaya, kamu orang yang tepat untukku."
"Jangan terlalu percaya sama orang lain. Bayanganmu saja meninggalkanmu saat gelap."
Deggg... Hatiku terasa tersayat mendengar kalimat itu. "Apa dia menyindirku ?" Yang jelas kalimat itu sangat cocok untuk ku. Aku meninggalkannya tanpa se-patah katapun.
Walau sebenarnya itu semua karena Momy nya.
"Sepertinya Alex membenci ku karena kejadian itu." Yasudah lah, mungkin ini yang terbaik.
*Sesampainya di kantor.
"Sebentar yaa, gak lama cuma 5 menit." Ucap Angel sambil bergegas turun dari mobil dan masuk ke kantor.
Aku mengernyitkan kan kening. "Kok Alex gak masuk ?"
Hening..
Aku dan Alex sama-sama terdiam.
Jantung ku jangan di tanya lagi, sudah berdetak semenjak tadi.
Ingin rasa nya mengajak Alex berbicara, sekedar menyapa mungkin. Namun, entah mengapa rasanya bibir ku kelu sekali.
Akhirnya aku memilih diam.
"Bisa tolong hidupkan musik." Ucap Alex tiba-tiba. Dan cukup mengagetkan ku. Aku langsung salah tingkah.
Aku menghidupkan musik.
"Aku gak suka yang itu, ganti !"
"Itu juga gak suka." Cerocos Alex lagi setelah aku mengganti musik yang lain.
Aku mencoba mengganti musik yang lain lagi. Tapi..... !!
"Ganti ...!!!"
Aku menoleh ke arah nya.
"Ribet banget sih, cuma tinggal denger doang." Aku kembali ke posisi duduk ku semula. Bersandar dan mengarahkan wajah keluar jendela mobil. Memilih untuk tidak memperdulikannya lagi.
Alex turun dari mobil, dan duduk di jok depan. Dan memilih musiknya sendiri.
Dia bersandar di jok yang sudah sedikit di rebahkan nya. Dan memejamkan matanya, seakan menghayati musik yang sedang di dengar nya.
Ingin sekali rasa nya menoleh dan menatap wajah nya. Hal yang selama ini sangat aku inginkan.
Namun... Aku tidak sanggup !
Mungkin Alex menyadari dada ku yang kembang kempis karena menarik dan membuang nafas, mencoba mengontrol hati ku yang terus berdegup.
Untung Angel datang, membuat suasana tidak terlalu menegang.
"Sudah selesai ?" Tanya ku pada Angel yang baru saja duduk di jok tepat di belakangku.
"Sudah.."
"Lhoo kok udah berubah posisi ?" Tanya Angel pada Alex, yang masih duduk di jok depan sambil bersandar dan memejamkan matanya.
"Aku ingin istirahat sebentar." Jawab Alex tanpa menoleh atau pun membuka matanya.
Alex yang dulu nya aku kenal dengan sifat nya yang ceria dan pecicilan, kini berubah jadi dingin dan pendiam.
Mungkin keadaan yang merubahnya.
"Sekarang kita kemana ?" Aku bertanya.
"Kita ke GN hotel, ada pertemuan dengan klien disana."
Aku pun kembali melajukan mobil ketempat yang di maksud. Dengan Alex di samping ku. "Tuhan akunharus bagaimana?"
***
"Ayo Nadine, ikut masuk. Ini mungkin akan lama, tunggu di dalam saja." Ucap Angel.
Sedangkan Alex langsung turun dari mobil dan masuk ke hotel.
"Tidak apa-apa, aku tunggu disini saja."
"Ayolah Nadine."
Dengan terpaksa akhirnya aku ikuti kemauan Angel.
Aku mengikuti langkah Angel.
"Aku tunggu disini saja." Ucap ku setelah masuk ke restoran hotel. Aku memilih meja yang pertama kali jumpa ketika masuk ke restoran.
Aku tidak mau mengikuti Angel sampai ke meja tempat mereka bertemu klien, sebenarnya aku ingin menghindari Alex.
"Kamu yakin mau menunggu disini ?" Angel memastikan.
Aku hanya mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu aku menemui klien dulu. Pesan saja apa yang ingin kamu makan, Nanti aku bayar."
Aku mengangguk lagi.
Angel berlalu pergi.
.
.
.
.
NEXT>>>