It's Dangerous

It's Dangerous
Ep. 32



"Sudah sarapan ?" Tanya Adit yang nyatanya masih sangat perhatian terhadap Nadine.


"Udah, selesai sarapan langsung kesini."


"Suamimu ?"


"Dia ke kampus. sekarang dia lagi sibuk banget karena kan hampir wisuda."


"Hemm... " Adit menganguk pelan.


"Yaudah lanjut aja dulu kerjanya. Aku mau santai dulu disini. gak usah perduliin aku.. Hehe"


"Yaudah, aku kerja dulu. Habis itu kita keluar."


"Kemana ?"


"Kemana aja yang kamu suka." Adit bergegas menuju meja kerjanya, dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Nadine melangkah menuju balkon yang berada di ruang kerja Adit. Memperhatikan setiap sudut kota sejauh mata memandang. Ruang kerja yang berada di lantai 25 dari gedung itu memperlihatkan pemandangan kota yang luar biasa.


Nadine menghela nafas panjang. Membuang semua fikiran-fikiran yang tidak menyenangkan dalam otaknya.


Nadine tidak tahu apa yang mengganggu fikirannya. Namun yang jelas, seperti ada sesuatu yang menyesakkan didalam dadanya. Entah apa itu.


Nadine melangkah menuju kursi santai yang berada disudut balkon tersebut.


Lalu dia mengirim WhatsApp untuk Alex ..


"Bii, Aku di kekantor sebentar yaa !"


"Ngapain ?"


"Suntuk dirumah, gak tau mau ngapain. Makanya kekantor."


"Kayaknya kita harus cepat-cepat punya anak deh Mii. Biar kamu nya betah dirumah. Haha!"


"Haha ada-ada aja kamu."


Dari dalam ruangan Adit terus memperhatikan Nadine yang senyum-senyum sendiri sambil sibuk dengan handphone nya.


"Pulang jam berapa ?" Tanya Alex.


"Belum tau nii. Kamu sendiri pulang jam berapa ?"


"Aku agak sorean, karna banyak tugas yang harus diselesaiin."


"Hemm iyaa iyaa.. pokoknya kamu pulang aku udah dirumah."


"Yaudah.. Love Mii..!"


"Love Bii."


Karena begitu sibuk dengan handphone nya Nadine tak sadar kalau Adit sudah duduk di samping nya dengan dihalangi meja yang berada ditengah-tengah kursi.


"Sibuk banget yang udah jadi istri orang."


Nadine yang kaget mendengar suara Adit karena tiba-tiba sudah berada disamping nya langsung menoleh.


"Buat kaget aja. sejak kapan kamu disitu ?"


"Sejak kamu senyum-senyum sendiri udah kayak orang gila."


"Jahat banget sih ngatain aku gila."


"Bukan kamu.. tapi orang !!" Ucap Adit menegaskan.


"Iya sama aja, inti nya kan kamu nyamain aku sama orang gila." Cerocos Nadine tak mau kalah dengan jurus andalannya yaitu wajah ngambek nya.


Adit yang menjadi serba salah jadi kehabisan kata-kata dibuatnya.


"Udah selesai kerjaannya ?" Tanya Nadine.


"Udah.."


"Cuma periksa file aja, lagian gak banyak juga."


"Terus sekarang mau ngapain."


"Gak tau sih, terserah kamu aja."


"Kalau seandainya tadi aku gak kesini, rencananya kamu mau ngapin siap nyelesain kerjaan."


"Paling ngopi."


"Yaudah hayokkk .." Ucap Nadine sambil bergegas bangun.


"Kemana ?" Tanya Adit penasaran.


"Ngopi .."


"Dimana ?"


"Di Caffe depan kantor aja." Ucap Nadine sedikit berteriak karena posisinya sudah agak jauh dari Adit. Adit pun langsung menyusul Nadine.


*Di caffe.


"Ada apa sih ? kamu lagi ada masalah ?" Tanya Adit setelah menyeruput kopi yang ada didepannya.


"Gak.. sama sekali gak.." Ucap Nadine sedikit terbata lalu juga ikut menyeruput Cappucino miliknya.


"Gak usah bohong. Aku kenal kamu udah lama. Dan aku tau muka kamu kalau lagi ada masalah tuu gimana."


"Kayak gimana memangnya ?"


"Yaa kayak gini. Murung, terus banyak bengong-bengongnya."


Yaa, untuk saat ini masih Adit yang begitu tau Nadine. Tanpa dia sadari, sedari dulu dia terus memperhatikan Nadine. Sehingga banyak hal yang bisa dia tau tentang Nadine tanpa Nadine memberitahunya. Walaupun rasa yang dia miliki pada akhirnya sudah terlambat dia sadari.


"Gak kok.. perasaan kamu aja." Nadine masih menutupinya. Karena dia sendiri juga tidak tahu, apa sebenarnya yang harus dia khawatirkan.


Adit berhenti bertanya, dia juga tidak ingin memaksa Nadine untuk jujur segala hal pada nya. Adit tidak ingin membuat Nadine merasa tidak nyaman ketika sedang bersamanya. Dan akhirnya dia memilih untuk membahas hal lain yang sedikit nya bisa membuat Nadine tertawa disela-sela permasalahannya.


Setelah mengobrol dengan Adit dan menghilangkan sedikit penat nya. Akhirnya Nadine memutuskan untuk pulang..


Dia melirik jam yang berada di dinding ruang tamu. pukul 2 siang.. Akhirnya Nadine memutuskan untuk tidur siang..


***


Saat sedang menuju arah pulang. Alex dihubungi oleh Momy nya. Dan dia pun memutar arah mengikuti permintaan Momy nya yang meminta dia untuk datang kerumah Momy nya.


"Momy di mana ?" Tanya Alex pada seorang karyawan yang bekerja dirumah Momy nya. Dan setelah tau Momy nya sedang berada dimana, Alex langsung menghampirinya.


Alex duduk berhadapan dengan Momy nya dan dihalangi meja besar ..


"Ada apa ?" Tanya Alex.


"Kamu gak rindu sama Momy ?"


"Untuk apa Momy tanya itu, bukannya Momy yang memutuskan hubungan dengan ku."


"Itu karena kesalahanmu."


"Jangan katakan menikahi Nadine adalah kesalahan. Itu akan menyakitiku."


"Alex.. sampai kapan kamu akan bermain-main dengannya ? Sekarang sudah waktu nya kamu pulang dan bersiap untuk fokus dengan perusahaan setelah itu menikah dengan wanita pilihan Momy."


"Sorry Mom.. Aku tidak sedang bermain-main. Dan jangan harap Momy bisa menjadikan aku boneka yang bisa Momy atur sesuka Momy."


"Baik.. Baik kalau itu keputusan kamu. Tapi ingat, wanita itu bukan yang terbaik untuk kamu."


Mendengar ucapan Momy nya mambuat Alex sangat emosi dan akhirnya bergegas pergi tanpa memperdulikan Momy nya yang terus saja memanggil-manggil namanya.


Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk melampiaskan emosinya.


****