It's Dangerous

It's Dangerous
Ep. 24



Ada rasa sakit yang tidak dapat diungkapkan oleh Nadine.. Rasa sakit yang hanya dapat disimpannya sendiri..


Nadine tidak ingin membuat Alex cemas dengan perasaannya..


"Udah bangun ? kok gak turun ?" Tanya Alex.


"Empp iyaa, Ini baru aja mau turun." Ucap Nadine, lalu melangkah mendekati Alex.. mengandeng lengannya dan mengajaknya untuk turun bersama..


"Aku udah buatin kamu sarapan." Ujar Alex saat menuruni tangga sambil sebelah tangannya merapikan rambut Nadine yang masih berantakan..


"Thank's Love.." Sambil mengecup pipi Alex.


Saat sarapan mereka sama-sama terdiam.. Sama-sama tenggelam dalam fikiran masing-masing.. Sama-sama bersandiwara kalau semuanya baik-baik saja.. sama-sama tidak ingin menyusahkan satu sama lain..


"Emm Alex.." Ucap Nadine sambil mengumpulkan keberanian..


"Yaapp .. Ada apa ?"


"Emm.. gimana kalau kita tunda dulu untuk menikah.."


"Kok tiba-tiba ??? Ada apa ???"


"Gak .. Aku cuma mau fokus sama pekerjaan aku aja dulu."


"Kamu masih tetap bisa kerja walaupun udah nikah.."


"Tapi bakalan beda rasanya .."


"Gak perlu banyak alasan dehh .. Aku gak suka."


"Tapi .."


"Gak ada tapi-tapi.. Aku gak terima apa pun alasannya.. kalau kamu tetap mau nunda pernikahan ini.. sebaiknya batalkan saja sekalian.." Terlihat jelas raut emosi diwajah Alex.. entah apa yang membuat dia begitu marah dengan rencana Nadine tersebut.. Alex tidak menyelesaikan sarapannya, dia memilih pergi meninggalkan Nadine seorang diri di meja makan.. dengan segala pemikirannya yang kacau..


Alex masuk kekamarnya.. berniat untuk meredam sedikit emosinya..


Sedangkan Nadine memilih untuk tidak menemui Alex dulu.. Nadine memberikan Alex waktu untuk menenangkan fikirannya.. Nadine mengerti saat ini fikiran Alex lebih kacau dari pada dirinya..


***


*Ditempat yang berbeda.


Adit sedang beradu argumen dengan Zia..


"Zia, aku sama sekali tidak mencintaimu.. dan aku tau kamu juga tidak mencintaiku.. jadi sebaiknya kita bercerai saja.. dengan begitu kamu bisa menikahi orang yang kamu cintai dan juga mencintai kamu juga.. jangan siksa dirimu sendiri dengan terus memaksa diri untuk tetap bersama ku.. aku tau kamu juga tersiksa selama ini dengan sikapku yang selalu mengacuhkanmu.. jadi aku mohon, kita bercerai saja.. itu yang terbaik."


"Aku yang tersiksa... tapi kenapa kamu yang ngotot untuk bercerai.. jujur saja, kamu menceraikan aku demi wanita j*lang itu kan."


Plakkkk .. sebuah tamparan melayang diwajah Zia..


"Jaga ucapanmu..!!!" Bentak Adit mulai emosi.


Zia menangis.. bukan karena tamparan itu, tetapi karena rasa sakit di hatinya..


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu."


"Terserah !! yang jelas aku sudah menyampaikan keputusanku." Adit masuk kekamarnya. memasukkan bajunya kedalam koper, dan pergi meninggalkan Zia ... Zia hanya bisa menangis, memaki-maki Adit walaupun hanya tinggal dirinya sendiri didalam rumah itu..


Adit memilih untuk tinggal dihotel.. Dia membiarkan rumahnya ditempati oleh Zia.. Sejujurnya dia merasa bersalah karena sudah menyakiti Zia.. Namun Adit juga tidak ingin terus larut dalam perasaan yang menyiksa..


***


*Ditempat yang berbeda.


Alex dan Nadine sudah 2 hari saling diam-diaman..


Alex masih marah dengan ucapan Nadine tempo hari..


Sedangkan Nadine, masih berusaha mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan dengan Alex.. dia takut kata-kata nya malah justru membuat Alex semakin marah..


Sampai akhirnya ........


Tok tok tok ..


Nadine mengetuk pintu kamar Alex, Namun tak ada jawaban..


Nadine melirik jam di tangannya, masih menunjukkan pukul 9 malam..


"Dia gak mungkin tidur jam segini"


Gumam Nadine dalam hati..


Nadine mencoba membuka pintu kamar Alex.. berharap pintu itu tidak di kunci..


Dan benar saja, pintu itu tidak di kunci.. perlahan Nadine masuk kekamar Alex ..!!!