
Apartemen Apsarini, Boston Massachusetts**
Apsarini mempersilahkan Shane masuk ke dalam apartemennya yang masih belum lengkap tapi setidaknya sudah ada kursi makan dan mereka bisa makan di meja bar.
"Masih belum membeli perabotan, Sari?" tanya Shane sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Masih kurang beberapa dan aku sudah melihat-lihat di toko online tapi aku lebih suka melihat sendiri" jawab Apsarini. "Boleh dibilang aku sedikit konvensional kalau soal membeli barang dan perabotan terutama."
"Perlu aku temani?" tawar Shane sambil meletakkan tas berisikan makanan diatas meja dapur.
"Tidak usah. Terimakasih" senyum Apsarini yang mengambil piring dan gelas. Gadis itu bersyukur setidaknya ada banyak minuman di dalam kulkasnya. Ternyata instingnya untuk membeli banyak minuman dan camilan berguna.
Shane membantu menyiapkan makanan yang dia bawa dengan makanan yang dipesan Apsarini dan pria itu tertawa.
"Kenapa Shane?" tanya Apsarini bingung.
"Look. East meet West. Aku membawa western food sedangkan kamu memesan sushi. Benar-benar east meet West bukan?" senyum Shane.
Apsarini tertawa lalu menuangkan air putih dan sparkling water ke gelas masing-masing. "Maaf tidak ada beer atau minuman beralkohol disini."
"Tidak apa-apa. Aku sudah terlalu kenyang dengan beer apalagi punya pabriknya" jawab Shane. "Yuk makan, aku lapar."
***
"Jadi kantor pengacaranya Nelson yang membela Hugo Melker?" tanya Shane.
"Iya, tadi aku lihat beritanya di tv dan mas Nelson diwawancarai oleh wartawan dan tampaknya Hugo bakalan bebas." Apsarini menatap Shane sambil memasukkan sushi ke dalam mulutnya.
"Apakah Nelson yang membelanya?"
Apsarini menggelengkan kepalanya. "Dari grup chat keluarga, Thea yang membela Hugo. Dan aku rasa Hugo tidak membunuh istrinya."
"Bagaimana kamu yakin?"
"Alibinya kuat, Shane. Saat kejadian itu berlangsung, Hugo sedang di Manhattan dengan puluhan saksi disana dan ditambah CCTV perpustakaan nasional juga merekam gerak gerik Hugo seharian. Tadi ada di berita online" jawab Apsarini.
"Bukannya itu seharusnya confidential?"
"Macam kamu tidak tahu wartawan dan netizen apalagi Hugo adalah selebritis" senyum Apsarini.
"Yeah. Sangat sulit dengan canggihnya teknologi sekarang tapi yang aku takutkan akan menjadi bias nantinya Sari saat di persidangan." Shane menyesap sparkling water nya sambil memandang Apsarini.
"Tampaknya tidak ada pengadilan untuk Hugo... Sementara... "
"Anything can happened, Sari. Memang kita mengataskan azas praduga tak bersalah tapi biarkan polisi NYPD menyelidiki lebih dalam."
"Kamu tampaknya yakin Hugo memang terlibat, Shane."
"Bisa jadi Hugo tahu perselingkuhan Salsabila dan menyewa orang untuk membunuhnya?"
"Atau memang Hugo tidak tahu dan yang membunuh Salsabila adalah selingkuhannya?" ucap Apsarini.
Shane mengedikkan bahunya. "Semuanya masih spekulasi Sari."
Apsarini mengangguk. "Semuanya memang masih spekulasi dan misterius."
***
Cemitary Moeslem New York
Dua hari kemudian Hugo Melker berada di komplek pemakaman dan melihat bagaimana para pelayat datang termasuk ibu Salsabila yang menatapnya tajam karena menuduh dirinya sebagai pembunuh putrinya. Hugo hanya terdiam tanpa ada keinginan menjelaskan apapun karena pihak NYPD sudah menjelaskan kepada mertuanya.
"Dasar pembunuh !" maki ibu Salsabila usai acara pemakaman dan Hugo hanya menatap datar.
"Aku bukan pembunuh !" balas Hugo dengan nada dingin.
"Tak heran Jika Sasha tidak betah denganmu ! Kamu terlalu pelit jadi suami !" bentak ibu Salsabila itu.
Pria itu lalu pergi menuju mobilnya dan segera pergi dari komplek pemakaman. Nelson menoleh ke arah Thea yang masih termangu dengan ucapan ibu mertua Hugo.
"Cari tahu Thea. Apakah benar dia memang pelit dan akan menjadi salah satu pemicu Salsabila selingkuh... Jika memang benar" bisik Nelson.
"Iya mas. Aku akan menyelidiki semua keuangan Hugo dan Salsabila."
"Thea, memang tugas kita membela klien tapi kita juga harus tahu latar belakangnya supaya kita bisa memberikan pengertian kepada juri. Menjadi pengacara itu tidak harus selalu menang tapi setidaknya kamu tahu background klien kamu."
"Iya mas Nelson."
***
Rumah Hugo Melker
Usai dibebaskan dari semua tuduhan sementara, Hugo akhirnya bisa kembali ke rumah dan semuanya sudah dibersihkan oleh layanan pembersih rumah sehari sebelum dirinya pulang. Ada perasaan kosong, kesal, marah, sedih bercampur aduk dalam hati Hugo. Dirinya tidak menyangka istrinya yang dinikahinya empat tahun lalu, bermain api di belakangnya.
Hugo melihat ruang tengah tempat tubuh Salsabila dia temukan seminggu lalu tapi sekarang lantai marmer itu sudah tampak kinclong dan bersih dari segala genangan noda darah. Hugo pun masuk ke dalam ruang kontrol CCTV lalu mulai memeriksa rekaman cadangan yang disimpannya jika sewaktu-waktu ada kerusakan.
Pria itu mulai memeriksa enam bulan lalu dan memperhatikan pola perilaku istrinya. Hugo melihat bagaimana setiap dirinya ada acara ke Manhattan, CCTV rumahnya selalu padam. Hugo tidak terlalu memperhatikan karena menganggap semuanya baik-baik saja.
Pria itu lalu mengambil MacBook nya dan mencoba mencari tahu pria yang bertemu dengan Salsabila di tempat nya bekerja. Jadi bekerja di Channel itu hanya alibi mu saja Bila?! Brengseeekkk kau !
***
Boston Massachusetts
Apsarini akhirnya membeli sebuah mobil mini Cooper untuk berangkat ke kantor dan sekarang gadis itu berada di Ikea untuk membeli beberapa lemari dan peralatan yang dibutuhkan disana.
"Apakah bisa diantar?" tanya Apsarini. "Saya akan bayar ongkos kirimnya."
"Tentu saja Miss Neville. Bisa disebutkan alamat anda."
Apsarini memberikan alamatnya dan membayar semuanya dengan debit. Gadis itu memang lebih suka membayar dengan debit dibandingkan kartu kredit meskipun punya tapi setidaknya bagi Apsarini lebih terkontrol. Apalagi tabungannya banyak jadi baginya dirinya memilih debit untuk pembayaran atau cash.
Gadis itu lalu menuju tempat makan yang ada di Ikea dan memesan makanan favoritnya Swedish Meatballs with mashed potatoes. Sesaat dirinya hendak makan, ponselnya berbunyi dan Apsarini pun mengangkat nya.
"Ya Shane?"
"Kamu dimana Sari?" tanya Shane.
"Ikea. Di Stoughton."
"Oh my jauhnya. Kamu tunggu situ, biar aku kesana. Apakah kamu membeli banyak barang?"
"Iya dan mereka bersedia mengantar."
"Tidak usah Sari. Aku akan membawa truk aku dan kita bawa sendiri nanti. Okay? Bilang pada mereka untuk batalkan pengiriman."
"Tapi Shane... "
"Sudah tidak apa-apa..."
"Baiklah jika kamu memaksa" jawab Apsarini.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️