If You Met Me First...

If You Met Me First...
Amberly Terkejut



Jakarta Indonesia


"Apa maksudmu Radyta? Pasangan haram?" tanya Hugo


"Jadi begini. Dari jaman muda, Opa Arya itu kalau sama kompor itu tidak pernah cocok. Asal kamu tahu, rumah opa buyut ku itu sudah berapa kali nyaris kebakaran gara-gara Opa Arya lupa mematikan kompor entah membuat mie instan atau pun hanya masak air. Jadi semua generasi keempat sudah mewanti-wanti agar opa Arya jangan ke dapur dan bertemu dengan kompor" ucap Radyta panjang lebar.


Hugo tertegun. "Bisa begitu ya? Apa kamu yakin bukan kompornya yang mengalami phobia pada opa Arya?"


Radyta terbahak. "Oh my God Hugo, bagaimana bisa kepikiran bilang begitu..."


Hugo tersenyum. "Aku author jadi terkadang otakku berpikir sering out of the box."


Radyta menoleh kearah Hugo. "I'm so glad you didn't kill your wife ( aku lega kamu tidak membunuh istrimu ). Sebab kalau sampai memang kamu pembunuh nya, sudah jelas kamu dilarang berhubungan dengan Thea. Kamu pasti akan dihukum maksimal Hugo. Dan hukumannya adalah hukuman mati yang masih berlaku di New York."


"Jika aku tahu soal perselingkuhan itu, aku tidak akan membunuhnya tapi aku akan menceraikannya. Lagipula sudah ada klausal pre nup wedding jika Bila ketahuan selingkuh, dia tidak akan mendapatkan sepeser pun" jawab Hugo.


"I see. Banyak orang mencari jalan pintas dengan membunuh pasangannya daripada cerai" timpal Radyta.


"Tidak denganku Radyta. Meskipun aku marah jika tahu perselingkuhan itu tapi aku masih memikirkan karier aku... Setidaknya aku bisa berpikir waras." Hugo menoleh ke arah Radyta.


"Cool."


Mobil sport mewah itu pun tiba di sebuah rumah yang cukup mewah meskipun tidak terlalu besar. Rumah dua lantai dengan style Mediterania, memiliki cat dinding berwarna broken white.


Satpam yang berjaga membukakan pintu pagar saat tahu siapa yang datang. Mobil itu pun masuk ke dalam halaman rumah cantik tersebut dan Radyta memarkirkan di dekat garasi.


"Ayo turun. Aku perkenalkan pada Opa dan Omanya Thea serta Stefan" ajak Radyta sambil membuka pintu mobilnya.


Hugo pun membuka pintu mobilnya dan berjalan mengikuti pria berdarah Turki, Indonesia dan Chinese itu.


"Lho mas Radyta. Sama siapa mas?" sapa salah satu pelayan yang membukakan pintu utama.


"Sama calonnya Thea. Opa Arya dan Oma Amberly ada?" Radyta bertanya ke pelayan itu.


Hugo yang tidak paham bahasa Indonesia, hanya tahu nama Thea disebutkan oleh Radyta.


"Ada mas. Mari masuk. Mas nya itu namanya siapa?" tanya pelayan itu ke Radyta.


"Namanya Hugo."


"Kok wajahnya seperti aku sering lihat tapi dimana" gumam pelayan itu.


"Kasus pembunuhan istrinya?" tanya Radyta.


"Nggak kok mas. Aku pernah lihat tapi bukan di TV" eyel Pelayan itu.


Ketiganya pun tiba di halaman belakang yang terdapat kolam renang disana. Radyta dan Hugo melihat pasangan suami istri yang sudah lanjut usia tapi masih tetap sehat dan segar, duduk bersama. Keduanya berada di gazebo yang berada di ujung kolam renang di bawah pohon tapbebuya yang bewarna pink.


Keduanya melihat bagaimana Amberly masih asyik membaca sebuah novel sedangkan Arya lebih memilih asyik mengutak-atik sesuatu diatas mejanya.


"Assalamualaikum Opa Arya dan Oma Amberly. Aku bawa tamu dari jauh hari ini..." salam Radyta ke Arya dan Amberly.


"Wa'alaikum salam ... Aaakkk !" seru Amberly saat melihat Hugo. "Astaghfirullah ... Pengarang novel ini kamu kan?" Amberly memperlihatkan cover belakang novel yang di bacanya.


"Ketahuan deh !" senyum Hugo.


"Nah ini ! Saya baru ingat. Mas Hugo di sampul belakang novel yang sedang dibaca oleh nyonya ..." celetuk pelayan itu dengan heboh.


***


Arya dan Amberly menatap Hugo yang duduk bersebelahan dengan Radyta. Mereka semua sudah pindah ke patio yang biasa dipakai Arya dan keluarganya untuk mengadakan barbeque termasuk ada mini bar dan peralatan makan lainnya.


Arya meneliti Hugo secara detail apalagi pekerjaan nya sebelumnya adalah CEO Ramadhan Securitas sebelum dia serahkan ke menantunya David Hakim Satrio, suami Anandhita putrinya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia keamanan, Arya sudah terbiasa menilai bahasa tubuh seseorang.


"Iya Mr Ramadhan. Saya yang jatuh cinta dengan cucu anda" jawab Hugo.


"Kamu kan yang kena kasus hukum itu kan?" tanya Arya lagi.


"Iya Mr Ramadhan."


"Pernah masuk sel dong berarti."


"Hanya semalam saat awal Bila ditemukan tewas dan saya harus diinterogasi."


"Thea jadi pengacara kamu?" kali ini Amberly yang membuka mulut.


"Iya Mrs Ramadhan. Saya memang salah satu klien Blair and Blair. Dan saat saya terkena kasus itu, saya memang meminta Nelson yang datang tapi karena bertepatan Nelson ada kasus jadi dia mengirimkan Thea" jawab Hugo.


"Kenapa tidak Nadya?" tanya Arya.


"Nadya sedang maju di persidangan" jawab Hugo lagi.


"Lalu, kamu datang jauh-jauh ke Jakarta dalam rangka minta restu begitu?" Mata hitam Arya menatap tajam ke Hugo.


"Iya Mr Ramadhan."


"Siapa yang suruh?"


"Stefan."


Arya dan Amberly saling berpandangan. "Stefan? Stefan yang suruh kamu datang kemari?" tanya Arya Ramadhan. "But why ( tapi kenapa )?"


"Stefan bilang kedua opa dan omanya tidak bisa perjalanan jauh jadi saya harus datang kemari untuk meminta restu atas hubungan saya dengan Thea." Hugo menatap serius ke arah Arya dan Amberly. "Saya tahu, saya bukan calon cucu menantu yang diharapkan karena saya duda, pernah terkena kasus hukum bahkan istri saya baru meninggal belum ada enam bulan. Tapi saya benar-benar serius pada Thea."


"Iya benar, kaum pria tidak ada masalah untuk menikah lagi setelah istri meninggal karena tidak ada masa Iddah. Tapi Hugo, apa perasaan kamu ke almarhum istrimu sudah tidak ada?" Amberly menatap Hugo dengan tatapan penasaran. "Aku tidak mau jika Thea harus hidup bersamamu yang masih terbayang - bayang istrimu sebelumnya."


"Mrs Ramadhan, rasa saya ke Bila langsung lenyap saat mengetahui dia berselingkuh dari saya. Saya juga sudah mengatakan ini pada Mr Adrian Ramadhan saat saya datang ke Stockholm."


"Kamu ke Stockholm? Bertemu Dengan Adrian dan Lovisa?" seru Arya dan Amberly.


"I...iya. Apakah ada yang salah?" tanya Hugo bingung membuat Radyta tertawa kecil.


"Opa, Oma, Hugo itu serius sama Thea jadi dia nekad terbang ke Stockholm dan Coventry demi ketemu Oom Adrian, Tante Lovisa dan Stefan. Bayangkan, demi Thea, duda satu ini nekad melintasi samudera Atlantik dan Hindia guna mendapatkan restu keluarga nya Thea" ucap Radyta.


Arya dan Amberly menatap Hugo tidak percaya. "Wong gendeng bin nekad ( orang gila bin nekad )" ucap Arya sambil menggelengkan kepalanya.


"Hah? Apa itu Radyta?" tanya Hugo ke putra Aji Yung dan Falisha Hassan.


"You're crazy son of the b***h !" gelak Radyta yang langsung mendapatkan pelototan Arya dan Amberly.


"Radyta !"


***


Yuhuuuu Up Malam


Edisi Revisi dari yang semalam up


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️