If You Met Me First...

If You Met Me First...
Masih Kepo



Kantor Blair and Blair Advocate Manhattan New York


Thea sedang membuat laporan ke Travis tentang keberhasilan nya membebaskan seorang anak yang dituntut karena penganiayaan akibat sering di-bully oleh temannya. Gadis itu tidak habis pikir, anak baru usia sepuluh tahun main bully temannya yang baru berusia sembilan tahun.


Bocah yang dibully pun lama-lama tidak tahan dan melawan tapi endingnya malah kedua orangtuanya si pembully menuntut si korban dan orangtuanya. Thea berkerja sama dengan detektif Muncy, berusaha mencari tahu bagaimana kejadiannya. Rupanya sejak kelas dua elementary school, si korban sudah di bully oleh pelaku.


Di pengadilan anak dan keluarga, Thea memperlihatkan bagaimana si pelaku membully kliennya dan ada banyak saksi mata yang merekam diam-diam. Mereka tidak berani karena si pelaku adalah putra letnan NYPD jadi memilih diam. Tapi seperti kata pepatah, semut pun akan menggigit jika diinjak. Setahun lebih klien Thea dibully, akhirnya tidak tahan juga dan menjadi gegeran karena si pembully dihajar oleh korbannya.


Chris Bradford yang mengetahui ada anak buahnya yang menuntut ke orang tua korban karena tidak terima anaknya dihajar, mendatangi ruang sidang beberapa kali untuk melihat bagaimana sikap anak buahnya. Melihat petinggi NYPD datang, membuat orang tua si pelaku pun terkejut.


Thea tidak tahu apa yang dilakukan Oom nya tapi gadis itu yakin pasti anak buahnya kena amuk olehnya. Semua keponakannya tahu kalau Chris Bradford adalah pria kalem tapi jangan remehkan pria kalem kalau marah. Bisa jauh lebih mengerikan dari pria panasan.


"Thea !" panggil Nadya yang masuk sembari ngemil coklat. Istri Omar Zidane itu memang tukang ngemil supaya tetap bisa berpikir dengan waras katanya.


"Ya mbak?" jawab Thea yang melihat kakak sepupunya datang dengan coklat di tangannya.


Nadya memang belum hamil karena sempat menunda dan sekarang sedang program hamil. ( Setting Thea dan Apsarini ini setahun sesudah Bayu menikah )


"Bagaimana kasus pembully itu?" tanya Nadya sambil duduk di kursi depan meja kerja Thea.


"Hanya harus wajib lapor saja mbak dan wajib dikonseling ke psikolog anak. Sedangkan pelaku wajib konseling di psikolog keluarga karena ada pengaruh dari orang tuanya" jawab Thea.


"Apa orang tuanya mau?"


"Mau tidak mau mbak, wong Oom Chris datang ke gedung pengadilan dengan memasang wajah dingin... Tahu sendiri kan mbak, Oom Chris kalau marah bisa horor" kekeh Thea.


"Issshhh mbak ingat waktu Oom Chris ngamuk ke pelaku mutilasi. Mungkin kalau nggak ada Oom Sam Tutuola, sudah habis tuh orang..." ucap Nadya yang harus membela keluarga korban untuk menuntut pengembalian uang asuransi dan semua harta korban yang dialih namakan oleh pelaku.


"Makanya itu mbak... Setahunan lho dia di-bully."


Nadya mengangguk. "Lalu bagaimana dengan kasus Hugo Melker?"


"Makin kacau mbak. Salsabila berselingkuh dengan orang tidak baik..."


"Thea, mana ada orang berselingkuh dengan orang baik? Selingkuh itu pasti dilakukan dua orang yang tidak baik. Jika kamu setia dengan pasangan kamu, tidak bakalan kejadian..."


"Iya sih mbak. Tapi aku dilarang bang Omar menyelidiki lebih lanjut..."


Nadya terkejut. "Kenapa?"


"Orang itu dalam pengawasan FBI mbak."


"Waduh !"


***


Boston Massachusetts


Apsarini masih lembur karena memang ini akhir bulan dan akuntan yang biasanya mengurus tidak masuk karena mengalami flu perut, membuat Apsarini yang menjadi asistennya harus menyelesaikan semuanya. Haley, salah seorang teman satu divisinya sudah pulang terlebih dahulu karena ibunya masuk rumah sakit akibat terjatuh di kamar mandi.


Shane yang sedang berjalan keluar dari ruang kerjanya untuk pulang, terkejut melihat divisi keuangan masih menyala lampunya padahal sudah pukul delapan malam. Pria Irlandia itu lalu menuju ruangan tempat para akuntan dan manajer keuangannya berkerja.


Mata biru Shane terbelalak saat melihat Apsarini sibuk bekerja di depan iMac nya. Gadis itu tampak memakai mantel berbulunya karena dinginnya AC di ruangan itu.


"Sari ? Kenapa masih lembur ? Mana Haley dan Jerome?" tanya Shane uanb tidak melihat tim akuntan lainnya.


"Oh hai Shane" sapa Apsarini yang memanggil Shane dengan nama karena sudah diluar jam kerja dan mereka hanya berdua.



Apsarini Neville


"Haley harus ke rumah sakit karena ibunya jatuh di kamar mandi dan Jerome tadi kena flu perut kebanyakan makan tiram..." jawab gadis cantik itu.


"Jadi kamu yang harus menyelesaikan pembukuan akhir bulan?" Shane pun duduk di kursi yang ada disana.


"Nope, aku temani kamu. Pabrik dan kantor memang aman, tapi kamu gadis sendirian dan aku tidak mau Oom Tristan ngamuk padaku kalau ada apa-apa" senyum Shane.


"Ini sebentar lagi selesai kok" jawab Apsarini.


"Apakah kita mendapatkan surplus?"


"Alhamdulillah... Lebih banyak 3% dari tri semester sebelumnya."


Shane tersenyum puas apalagi dia juga mendapatkan laporan dari para sales dan manajer pemasaran jika bir O'Grady semakin disukai banyak bar dan cafe baru di seluruh negara bagian Amerika Serikat.


"Pabrik kami yang di Irlandia juga mendapatkan laporan yang memuaskan" ucap Shane sambil membaca pesan dari sepupunya yang memegang pabrik bir di Dublin.


"Tapi bir kamu memang enak kok Shane..." celetuk Apsarini. "Aku kan sudah mencicipi berbagai macam bir tapi bir buatan O'Grady lebih mantap rasanya."


Shane menatap Apsarini bingung. "Kamu minum bir?"


"Aku bekerja di perusahaan bir dan secara tidak langsung aku juga mempromosikan bir buatan kantor ku. Bagaimana aku bisa promosi kalau tidak tahu rasanya kan?" senyum gadis cantik itu.


"Touché ( benar )" sahut Shane.


Pria itu menunggu sampai Apsarini menyelesaikan semua pekerjaannya dan lima belas menit kemudian gadis itu mematikan iMac nya.


"Sudah Sari?" tanya Shane yang menemani sambil bermain ponselnya.


"Sudah." Apsarini lalu mengambil tas nya dan memasukkan barang-barang yang dibawanya tadi termasuk botol minum.


"Yuk pulang. Aku antar ke parkiran." Shane pun berdiri dan memberikan jalan ke Apsarini untuk berjalan di depannya. Gadis itu mematikan AC dan lampu lalu menutup pintunya setelah mereka berdua sudah keluar dari ruang kerjanya.


"Sudah dikunci?" tanya Shane.


"Sudah."


Keduanya lalu berjalan keluar dari gedung kantor itu sebelumnya Apsarini menitipkan kunci ruangannya ke pos penjaga lalu bersama Shane, mereka berjalan menuju parkiran mobil.


***


Klub Strip***tease Pria


Hugo dan Larry tiba di klub yang tercatat di kartu kredit milik Salsabila. Keduanya melihat bagaimana banyak wanita dengan berbagai usia mendatangi klub itu, membuat keduanya saling berpandangan.


"Hati-hati Larry, jangan sampai mereka memegang asetmu ..." kekeh Hugo sambil menatap sahabatnya yang sudah manyun karena dirinya harus masuk dan mencari tahu disana.


"Si@l@n ! Aku lakukan ini demi kamu, Hugo." Larry pun bersiap untuk turun dari dalam mobil. "Kamu tidak akan meninggalkan aku bukan?"


"Selama kamu masih waras dan ingat aku disini, aku tidak akan meninggalkan kamu."


Larry mengangguk lalu turun dari mobil. "Wish me luck !" ucap Larry dari jendela mobil.


"Good luck !"


Hugo melihat bagaimana Larry berjalan masuk ke dalam klub itu. Semoga kamu mendapatkan jawaban disana.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️