If You Met Me First...

If You Met Me First...
Pahala



Pabrik Beer O'Grady Boston Massachusetts


Apsarini bekerja seperti biasa sesuai dengan rutinitas dan dirinya pun sedikit dilanda kebosanan. Berbeda dengan kantor nya dulu di Rovio, yang jenuh bisa bermain game, tempat kerja Shane minus hiburan.


Gadis itu pun melihat kalender digitalnya dan tersenyum saat tahu ada libur tiga hari. Kemana ya ? Maine? Atau ke pantai Boston ?


"Sari, yuk makan siang" ajak Haley.


"Yuk!"


Kedua gadis itu pun menuju cafetaria dan mulai memesan untuk makan siang.


"So, kabarnya Hugo Melker tidak terbukti sebagai pembunuh istrinya ya Sari? Sepupumu kan yang membelanya?" tanya Haley sambil makan.


"Iya. Aku belum membaca novelnya. Apakah bagus?" Apsarini menatap Haley serius.


"Bagus ! Serius. Itu novel kamu akan terbawa ke dunia perang dan konflik."


Apsarini menatap Haley bingung. "Perang?"


"Hugo Melker kan mantan tentara Amerika jadi dia paham lah kehidupan tentara dan daerah konflik" jawab Haley.


"Macam Alistair Maclean kah? Novelis yang juga berisikan soal perang juga."


"Kamu baca itu?" Haley tertawa. "Novel klasik itu !"


"Hey, I'm a British jadi ya tahu lah, apalagi Daddy ku koleksi banyak novel lama-lama." Apsarini tersenyum. "Oh Haley, apakah di Boston ada tempat healing yang nyaman?"


"Ooohhh... Yang libur tiga hari itu. Hhhmmm... Kalau boleh aku kasih saran. Mending ke Maine saja. Banyak pemandangan indah dan kalau naik mobil sekitar empat jam lewat I-95."


Apsarini mengambil ponselnya dan mulai mencari tahu tentang Maine.


"Wah berbatasan dengan Canada ya?" senyum Apsarini.


"Yup. Kamu bisa mampir ke Quebec kalau mau."


Apsarini mengangguk. "That's a good idea Haley. Terimakasih."


***


Apsarini lalu mulai memesan hotel dan jadwal tour untuk menikmati healing day nya. Bagi gadis itu, liburan dan healing itu penting untuk merecharge semua mood booster dirinya untuk bekerja lagi.


"Kamu jadi ke Maine ?" tanya Haley yang sedang memfotokopi berkas.


"Yup. Aku lihat banyak tempat bagus ... Sometimes kita butuh recharge baterei setelah otak kita penuh dengan angka dan data" senyum Apsarini.


"Well, itulah kita. Bekerja di bagian keuangan, akuntansi yang penuh dengan data dan angka ..." kekeh Haley.


"Exactly" jawab Apsarini.


Haley mengambil kursi dan duduk disebelah Apsarini. "Apa kamu sudah punya pacar?"


Apsarini menatap Haley dengan heran. "Kamu mencoba mencari tahu aku Haley ?"


"Well, boleh dibilang aku melihat kamu masih ada yang mengganjal. Patah hati is pain in the a$$ ya?"


Apsarini tertawa. "Yeah, patah hati menyebalkan! Tapi aku berusaha untuk menata hati dan hidupku. Makanya aku butuh healing dan liburan tipis agar aku tetap semangat."


"Aku dulu seperti itu, Sari. Jatuh cinta, patah hati dan aku merasa tidak bisa move on. Tapi kalau bukan kita yang bisa mencari kebahagiaan kita sendiri, siapa lagi. Dengar Sari, bukan suatu musibah jika kita hidup sendiri yang penting I'm happy. Aku sudah tidak memikirkan soal asmara karena yang ada di otakku sekarang adalah bagaimana aku mendapatkan kebebasan finansial di hari tua nanti."


"Kamu tidak ingin menikah?" tanya Apsarini.


"Keinginan itu sudah aku coret lama. Usiaku sekarang sudah lumayan dewasa, single no kids. Dan aku bisa bebas melakukan apa saja. Kamu mau ke Disneyland, mau ke Las Vegas, mau belanja banyak, tidak ada yang protes. Lagipula, Sari, jaman sekarang wanita tidak menikah itu adalah pilihan karena tahu yang terbaik untuknya."


Apsarini termenung. "Yeah kamu benar."


"Jika kamu ditakdirkan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari yang membuatmu patah hati, jangan kamu sia-siakan." Haley menepuk bahu Apsarini lembut.


Apsarini tersenyum. "Kita lihat kemana takdir berjalan."


"Tapi kalau aku tidak bilang aku tidak menikah karena takdir tapi sudah pilihanku" jawab Haley.


***


Thea tampak menunggu Kopi pesanan nya ketika ponselnya berbunyi. Tampak Dina, resepsionis Blair and Blair Advocate menghubungi dirinya.


"Yes Dina?"


"Miss Ramadhan, anda dicari dua orang pria... Yang satu sangat tampan dengan tattoonya..." bisik Dina dengan nada riang yang tidak bisa disembunyikan.


"Siapa Dina?" senyum Thea yang menerima kopinya.


"Mr Melker dan Mr Hughes. Aku tahu Mr Melker tapi yang Mr Hughes baru pertama kali aku lihat" jawab Dina heboh sendiri. Resepsionis itu memang lemah dengan pria bertattoo.


"Oke. Suruh tunggu sebentar dan aku akan segera sampai. Terimakasih Dina" tutup Thea yang bergegas melangkah menuju kantornya.


Sepuluh menit kemudian Thea tiba di kantornya dan melihat dua pria itu di ruang lobby.


"Maafkan saya Mr Melker, Mr Hughes. Saya baru saja datang..." sapa Thea.


"It's okay Miss Ramadhan" senyum Hugo yang membuat jantung Thea berdetak kencang.


Hanya gara-gara jalan cepat, bukan karena melihat senyum pria tampan ini. Sadar Thea, ini klien kamu !


"Mari kita ke ruang meeting" ajak Thea yang diikuti kedua pria tampan itu.


Di dalam ruang meeting, Thea membuka coatnya dan mempersilahkan Hugo dan Larry duduk.


"Bagaimana Mr Melker, Mr Hughes... Ada sesuatu kah?" tanya Thea sambil memberikan kode ke Dina untuk membuatkan kopi. Tentu saja Dina kegirangan bisa melihat Larry begitu dekat.


"Larry mendapatkan DNA Jovan Malkovich" jawab Hugo serius.


Thea melongo. "Dimana?"


Larry mengeluarkan kantong plastik dan terdapat gumpalan yang Thea yakini adalah permen karet.


"Jovan makan permen karet dan dia buang ke tong sampah dekat aku berdiri bersiap untuk tampil. So, dengan hati - hati aku mengumpulkan barang bukti ini" jawab Larry.


"Bang Omar dan Bang Billy harus tahu soal ini..." ucap Thea sambil mengambil ponselnya.


"Apakah kita harus bekerjasama dengan FBI?" tanya Hugo.


"Absolutely Mr Melker, saya kira kita tidak boleh melanggar prosedur dan hukum." Thea langsung menghubungi Omar. "Pagi bang Omar. Apakah bang Omar bisa kemari? Ke kantor aku. Ada penemuan yang sangat menarik."


***


Setengah jam kemudian, Omar Zidane dan Billy Boyd tiba di kantor Thea. Keduanya pun saling berkenalan dengan Hugo dan Larry.


"Bagaimana anda bisa mendapatkan?" tanya Omar bingung.


"Aku harus mengorbankan tubuhku dipegang oleh para cougar..." sungut Larry manyun membuat Omar dan Billy melongo.


"Anda menyamar menjadi penari disana ?" seru Billy takjub. "Tapi anda memang cocok sih..."


Larry menatap Billy sebal. "Kalau Hugo bukan sahabat aku dan aku juga penasaran dengan semua ini, aku tidak mungkin mau melakukan tarian dengan pamer tubuhku yang berharga ini."


"I'm sure anda akan mendapatkan pahala yang banyak karena membantu Mr Melker" jawab Omar santai membuat Thea cekikikan.


Hugo menoleh ke arah gadis yang memiliki wajah dan kulit eksotis itu.


Ternyata Thea Ramadhan manis juga lama-lama. Sabar Hugo, Bila belum ada sebulan meninggal ! Tanahnya masih basah ! Jangan sampai kamu tertarik dengan pengacara kamu sendiri !


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️