If You Met Me First...

If You Met Me First...
Sarapan Bersama



Cottage di Maine


Apsarini terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi pukul empat pagi. Gadis itu pun bersiap untuk melaksanakan ibadah subuh dan mandi pagi.


Setelahnya, gadis bermata biru itu keluar kamar dan menyiapkan kopi dan sarapan. Apalagi kemarin sebelum makan malam, Apsarini sudah memarinasi ayam untuk sarapan pagi ini.


"Lho? Kok masak?" tanya Shane yang baru keluar kamar.


"Memangnya mau sarapan dimana, Shane?" tanya Apsarini sambil menyiapkan kopi.


Shane hanya tersenyum lalu menghampiri gadis itu dan mencium pipinya. "Good morning."


Wajah Apsarini memerah. "Good morning. Kopimu, Shane."


"Terima kasih Sari. Kan ada diner dekat sini yang sedia menu breakfast."


"Tapi kan mereka ada menu bacon, Shane" jawab Apsarini membuat Shane yang hendak menyesap kopinya terdiam.


"Maaf, aku lupa..." ucap Shane kemudian.


Apsarini tersenyum. "Tidak apa-apa. Pagi ini sarapan dengan scrambled egg, sosis ayam, ayam goreng tepung dan mashed potatoes."


"No veggies?"


"Coleslaw ada, don't worry." Apsarini meletakkan semua makanan diatas meja.


"Bagaimana kalau kita ajak Hugo dan Thea sarapan disini?" tawar Shane.


"Coba saja" jawab Apsarini sambil duduk di kursi makan berhadapan dengan Shane.


Shane mengambil ponselnya dan menghubungi Hugo. Semalam kedua pria itu saling bertukar nomor ponsel.


"Morning Hugo, sudah bangun?" tanya Shane lewat loud speaker.


"Morning, Shane. Sudah lah. Aku sudah bangun dan sekarang sedang membuat kopi. Thea bagian pancake. Bagaimana?"


"Oh, aku menawarkan sarapan bersama di cottage kami. Apsarini memasak cukup banyak."


Terdengar suara Hugo bertanya pada Thea dan gadis itu mengiyakan.


"Oh Shane, kata Thea tunggu sedikit lagi kami datang dengan membawa pancake dan mapple Syrup. Oh serta bread toast. Ya ampun, banyak sekali Karbo nya" kekeh Hugo.


"Ok. Kami tunggu." Shane mematikan ponselnya dan menatap Apsarini. "Kita tunggu?"


"Okay. Lagipula aku belum terlalu lapar." Apsarini menyesap teh nya sambil menyendok mashed potatoes nya.


"Kamu masak banyak kan Sari?"


"Masih ada kok di dapur. Kalau ayam, memang aku goreng empat..." jawab Apsarini.


Shane mencoba scrambled eggs nya dan tersenyum. "Enak ini."


"Terima kasih" jawab Apsarini.


"Katanya kamu tidak suka memasak?"


"Hidup di Finlandia membuat aku harus bisa masak. Bukan apa-apa, tidak semua masakan disana aku bisa cocok. So, aku masak yang sesuai dengan lidah Inggris dan Indonesia aku" jawab Apsarini.


"Tapi dengan begitu, kemampuan kamu terasah kan?" goda Shane.


"Just simple delicious meal yang bisa aku buat karena aku tidak seperti mas Eagle yang memang menggeluti bidang culinary. Tapi memang soal resep dan cara yang paling mudah, minta sama dia sih..."


Suara bel cottage terdengar dan Shane pun berjalan untuk membukanya. Tampak Hugo dan Thea membawa pancake dan satu mangkok salad untuk sarapan.


"Ayo masuk. Kita sarapan dulu sebelum jalan-jalan" ajak Shane.


***


"So many Karbo, bro" kekeh Hugo.


"Aku salut kamu tetap menjaga tubuh kamu" senyum Shane.


"Olah raga membuat aku berpikir waras, Shane. Bukan apa-apa, mendapatkan berbagai macam cobaan dan tuduhan yang sangat serius hingga mengancam karier yang aku bangun susah payah itu sesuatu, bro. Apalagi semua bukti mengarah ke aku semua waktu itu" jawab Hugo.


"Tapi akhirnya tidak terbukti kan?" Apsarini menatap Hugo yang duduk bersebelahan dengan Thea.


"Alhamdulillah alibiku terbukti dan ada DNA lain disana selain aku." Hugo menoleh ke Thea. "Sepupumu sangat serius dan profesional dalam menangani kasus aku. Dan aku yakin pasti didikan keluarga Blair."


"Thanks Hugo" jawab Thea membuat Apsarini melongo.


"Tunggu ! Kalau kamu memanggil Mr Melker nama depan... Berarti...?" Mata biru Apsarini melebar. "Kalian pacaran?"


Wajah Thea memerah sedang kan Hugo hanya tersenyum. "Technically, kami memang berpacaran tapi Thea tetap ingin selalu profesional dan kami diam-diam saja. Karena Thea tidak mau menyebar kemana-mana dan untungnya di Maine orang-orangnya cuek."


"Sebenarnya kalian berpacaran tidak masalah karena Hugo sudah dinyatakan bebas dan bersih dari tuduhan membunuh Salsabila. Dan kalian juga tidak salah kalau saling jatuh cinta" ucap Shane.


"Tapi kan, belum ada 40 hari Salsabila meninggal... Rasanya kok tidak etis ya..." ucap Thea.


"Kalian itu kan tidak berselingkuh saat Hugo masih menikah. Bertemu juga saat Hugo tersandung kasus. Lagipula Hugo move on pun, orang bisa maklum karena istrinya berselingkuh darinya" balas Shane lembut. "Kalau kamu memikirkan Bayu atau Travis, biar nanti aku yang bantu bicara karena aku yang jadi saksi kalian berdua.'


"Tapi Shane, apa tidak masalah?" tanya Apsarini.


"Kalau dari sudut pandang aku secara obyektif, Hugo mau pacaran lagi, not my business tapi secara etika iya benar. Hanya saja, Salsabila sudah meninggal sebulan lalu dan jika Hugo jatuh cinta dengan Thea, siapa yang mau melarang kalau panah cupid sudah mendarat?" senyum Shane ke Apsarini.


Apsarini menatap ke Thea. "Lalu, bagaimana rencana kamu?"


"Aku akan merahasiakan hubungan aku dan Hugo. Kami baru mempublikasikan jika semuanya sudah selesai termasuk persidangan pembunuh yang sebenarnya" jawab Thea.


"Apakah Omar Zidane sudah mendapatkan pelakunya?" tanya Shane.


"Kita tunggu dan lihat saja nanti." Thea menatap serius ke ketiga orang di sana. "Dan aku berharap, tidak pakai lama, kita semua akan mendapatkan penutup dari kasus ini."


"Aamiin. Karena bagaimana pun, aku ingin semuanya segera selesai, lalu aku bisa menentukan langkah apa yang harus aku ambil termasuk berbicara serius dengan keluarga Ramadhan di Stockholm Swedia" sambung Hugo. "Bagaimana pun, aku sempat dituduh membunuh istriku meskipun akhirnya aku terbebas dari segala tuduhan tapi tetap saja keluarga Thea akan keberatan jika putrinya berhubungan denganku..."


"Karena kamu duda?" celetuk Apsarini. "Dengar Mr Melker, keluarga kami tidak masalah kamu duda atau single, yang penting status marital jelas. Dan yang paling terpenting adalah, kesungguhan dan perasaan cinta sayang kamu itu tulus. Bukan sesuatu yang dibuat-buat.."


"I know. Aku bisa memikirkan hal ini karena jika aku memiliki anak perempuan, pasti memikirkan hal yang sama" jawab Hugo serius.


Shane tersenyum mendengar percakapan di meja makan. "Ternyata aku dan Hugo sama-sama harus berjuang untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari kalian dan keluarga besar."


"Tentu saja, Shane. Kami ingin agar tidak salah memilih pasangan" jawab Apsarini sambil memegang wajah pria Irlandia itu.


"Semua orang pun, pasti menginginkan mendapatkan pasangan yang sangat mencintainya. Hanya saja, aku yang salah menilai pasanganku" timpal Hugo dengan nada getir.


***


Yuhuuuu Up Siang ya Gaeeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️