If You Met Me First...

If You Met Me First...
Hugo Mencari Tahu



Rumah Hugo Melker


Hugo mengepak semua barang-barang milik istrinya menjadi banyak dus dan entah mengapa dirinya tidak mau ada semua barang Salsabila sampai hal yang kecil macam jepit rambut atau pun crunchy. Semuanya dia letakkan dalam dus dan berencana untuk disumbangkan ke shelter homeless ataupun sebagian dia buang.


Mendengar bahkan melihat sendiri istrinya berselingkuh, membuat dirinya merasa kebencian yang ada di dalam hatinya. Hugo lalu meminta manajer dan asistennya mengurus semua kardus-kardus itu.


"Hugo, benar-benar bersih? Tidak ada peninggalan lainnya dari Bila?" tanya Larry, manager nya selama tiga tahun terakhir ini.


"Hanya perhiasan yang aku ingin cek ke toko emas langganan aku karena aku curiga pasti sudah ditukar Bila ke imitasi..." jawab Hugo sambil memeriksa keuangan istrinya. Sejak setahun terakhir, Hugo memang sibuk dengan pembuatan trilogi novelnya jadi dirinya sedikit mengacuhkan Salsabila.


Ternyata berakibat fatal ! Hugo mulai membrowsing semua data bank milik Salsabila karena Hugo tetap ingin tahu digunakan untuk apa saja. Hugo tidak masalah jika uang itu dipakai untuk ibunya atau membeli barang yang disuka tapi pria itu tidak bisa memaafkan jika untuk narkoba.


"Larry...." panggil Hugo ke manajer nya yang sedang menginventaris kardus-kardus itu.


"Apa Hugo?" Larry menghampiri novelis itu.


"Ini klub apa?" tanya Hugo sambil menunjuk nama klub itu dan keduanya melihat hampir setiap Minggu dalam enam bulan terakhir Salsabila berada disana dan mengeluarkan uang rata-rata $2,000 sekali datang.


"Biar aku cari" ucap Larry sambil mencari di ponselnya. "Hugo..."


"Hhhmmm..." sahut Hugo sambil masih memeriksa pengeluaran istrinya.


"Itu klub strip*tease ... Penarinya para pria..."


Hugo menoleh ke arah Larry. "Apa?"


"Klub penari eksotis, buka baju, pamer body ..."


"Aku tahu apa itu klub strip*tease! Tapi apa yang dilakukan Bila disana?" potong Hugo sambil memeriksa semua tanggal transaksi kartu kredit dan debit Salsabila. "Larry, cek tanggal-tanggal ini."


"Kamu mencurigai sesuatu Hugo?"


"Sepertinya Blla pergi saat aku tidak ada di rumah."


Larry lalu mengcross check semua tanggal itu dengan jadwal Hugo pergi dan book tour keliling Amerika. "Hugo, Bila pergi saat kita keliling dan ingat dirinya tidak mau ikut ? Memilih bekerja? Rupanya ada agenda tersendiri..."


"Jadi tanggal-tanggal ini bertepatan saat kita ... aku pergi dari New York?" tanya Hugo.


"Yup. Lihat, tanggal ini saat kita ada jadwal ke California dari San Diego, Los Angeles, San Jose, Sacramento sampai San Francisco. Ingat Hugo, kita hampir dua Minggu disana dan Bila selama kita pergi sudah empat kali ke klub ini." Larry menunjukkan jadwal Hugo yang bertepatan dengan tanggal yang tertera di akun transaksi bank Salsabila.


"Ini saat kita di Texas, saat kita di Alabama..." lanjut Larry. "Memang enam bulan terakhir ini, kamu sangat-sangat sibuk Hugo. Nyaris jarang di New York..."


Hugo mencocokkan agenda di ponsel Larry dan di layar iMac nya. "Astaghfirullah..."


"Hugo, Salsabila mengkhianati kamu..." ucap Larry yang tidak sengaja melihat foto-foto yang sudah diperbesar olehnya berdasarkan foto dari Thea. "Ini... Bila dengan Jovan Malkovich kan?"


Hugo menoleh ke arah Larry. "Yup. Aku mencurigai Malkovich ada di balik semua ini."


"Larry, dia hanya tampak tertimpa reruntuhan gedung yang terkena bazooka tapi apakah mati atau tidak, kita tidak tahu."


"Apalagi saat itu kamu cidera parah dan saat aku kembali ke lokasi, banyak mayat yang terpanggang dan tidak bisa dikenali lagi" sambung Larry. "Tapi apa hubungannya Jovan Malkovich dengan Salsabila?"


"Itu aku ingin tahu. Seharusnya mantan ibu mertuaku tahu soal anaknya berhubungan dengan siapa. Aku yakin, mereka pasti ada cerita masa lalu yang belum selesai..." Hugo menatap geram foto Salsabila mengobrol dengan Jovan Malkovich.


"Kenapa pihak pemerintah Amerika Serikat tidak menangkap Jovan Malkovich? Dia kan salah satu penjahat perang dan mafia..." gumam Larry.


"Aku tidak tahu..." Hugo mengusap wajahnya. "Aku ada jadwal tour lagi tidak Larry?"


"Pihak penerbit dan editor memberikan waktu berkabung dua bulan padamu apalagi kamu masih harus berkonsentrasi dengan pihak berwajib. Jadi semua acara dibatalkan dan ditunda tiga bulan kemudian. Kita kosong jadwal, Hugo. Bagaimana?"


"Kita selidiki sendiri? Aku tahu kita salahi aturan tapi ini demi harga diri aku dan menunjukkan bahwa aku tidak bersalah!" ucap Hugo dengan nada keras.


"Hugo, apakah CCTV mu hanya mati saat kita ada acara di Manhattan? Apa saat kita pergi keluar kota juga ikut mati?" celetuk Larry tiba-tiba mengingat ucapan detektif Carissi yang memberitahukan bahwa setiap Hugo ada acara di New York, pasti CCTV rumah padam.


Hugo memeriksa cloud CCTV rumahnya dan mencocokkan dengan tanggal - tanggal dirinya mengadakan tour buku. "No Larry, tidak mati. Untuk kali ini Salsabila cukup cerdas karena sudah pastinya aku tidak akan pulang cepat, berbeda kalau aku di New York. Pasti aku bisa pulang cepat dan aku adalah orang yang jarang memeriksa CCTV..."


"Saking kamu percaya nya ke Bila" ucap Larry.


"Saking aku percayanya ke Billa" ulang Hugo.


"Hugo, kita mau cari kemana? Bagaimana jika NYPD mendengar? Bagaimana jika pengacara kamu yang cantik itu tahu?" Larry menatap Hugo serius.


"Jangan sampai NYPD dan Thea Ramadhan tahu siapa pria ini ! Kita mulai dari klub tempat Bila kesana."


"Tapi Hugo, wajah kamu sangat dikenal ..."


"Bukan aku yang masuk, tapi kamu ! Cari informasi, bagaimana caranya..." Hugo menatap Larry serius.


"Meskipun aku harus menyamar menjadi penari eksotis?"


"Meskipun kamu harus menyamar menjadi penari eksotis. Perut kamu kan kotak-kotak, badan kamu juga bagus, plus tattoo di lengan... Kurang apa lagi menariknya?" seringai Hugo.


Larry menatap judes ke Hugo. "Brengseeekkk kau !"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️