
*Klub Strip*tease*
Larry masuk ke dalam klub Strip tease pria itu dan mulai melihat - lihat sekelilingnya. Pria bertubuh besar dan atletis itu merasa risih saat para wanita di sana menatapnya dengan kagum dan mata yang agak nakal.
Oke, kalau pria genit itu biasa tapi kalau wanita menatap penuh n@fsu, kok aku malah merinding... Larry lalu menuju ke bar dan meminta minuman ke bartender.
"Kamu mau melamar jadi bagian penariku?" tawar Bartender saat melihat perawakan Larry. "Tattoo mu asli dude ?"
"Asli bro. Aku tidak bisa menari dude. Bagaimana?" ucap Larry.
Larry Hughes
"Nanti kamu akan terbiasa Dude. So, mau? Kebetulan aku sedang mencari pria dengan tattoo. Bisakah aku lihat perutmu?" Bartender itu memberikan kode ke Larry untuk mengikutinya.
Larry pun berjalan dan bersyukur dirinya berpenampilan seperti orang yang desperate mencari kerja.
Mereka tiba di belakang bar dan bartender itu meminta Larry memamerkan tubuhnya. Larry lalu membuka kaosnya dan tampak perutnya yang kotak-kotak disana. Bartender itu tersenyum.
"So, dude, mau bekerja disini? Cukup hanya pamer body dan cewek gratis..." rayu bartender itu.
"Well... " Larry bersikap seolah ragu-ragu.
"Bayaran mu $500 setiap penampilan sebelum tips. Jam kerja kamu hanya satu sampai dua jam. Bagaimana?"
Larry menatap bartender itu. "Oke" jawabnya kemudian. Keduanya saling berjabat tangan dan Larry menyetujui untuk datang besok guna mulai bekerja.
Setelahnya pria itu kembali bar dan mengobrol banyak dengan si bartender. Larry pun mempelajari gaya dan cara para penari itu demi totalitas penyamaran nya.
Hampir dua jam dihabiskan Larry disana dan matanya sempat melihat sosok yang dicarinya.
Jovan Malkovich.
Larry berusaha untuk tidak terpengaruh saat melihat pria yang dicurigai sebagai pelaku pembunuh Salsabila. Bagaimana pun dia tidak boleh gegabah demi nama baik Hugo.
Larry bersyukur saat dirinya terlibat kontak senjata dengan Jovan, dirinya memakai penutup wajah yang hanya memperlihatkan matanya. Kecil kemungkinannya dirinya akan dikenali Jovan apalagi Hugo lah yang berada di garis depan dan tanpa penutup wajah.
Setelahnya Larry berpamitan dan keluar dari bar itu menuju mobil Hugo yang tampak terkantuk-kantuk menunggu dirinya.
"Bagaimana?" tanya Hugo begitu Larry masuk dalam mobilnya.
"Kamu jalan dulu. Aku ceritakan di jalan..." jawab Larry.
Hugo menstater mobilnya dan pergi meninggalkan bar dan klub itu.
***
"Aku diterima kerja dan mulai besok aku pamer tubuhku ke wanita-wanita penuh n@fsu itu. Beruntung aku tampang dan tubuh meyakinkan jadi aku langsung disuruh nari besok..."
"Apa kamu sudah mempelajari soal itu?" goda Hugo.
"Soal apa ?" Larry balik bertanya.
"Menari dengan pamer body..."
Hugo mengerem mobilnya secara mendadak membuat Larry terkejut.
"Damn it Hugo ! Kamu mau buat aku mati ?" bentak Larry yang bersyukur jalanan kosong.
"Sorry ... Sorry. Serius Malkovich disana?" tanya Hugo sambil menjalankan mobilnya lagi.
"Iya. Aku akan cari tahu apa hubungannya si bartender pemilik klub dengan Malkovich..." Larry menoleh ke arah Hugo. "Kamu tenang saja, dia tidak mengenali aku. Kan aku selalu memakai penutup wajah sedangkan kamu tidak, Hugo."
"Apapun, kamu berhati-hati lah. Kalau pun kamu harus berhubungan $3ks dengan wanita itu, cari tahu dan aku yakin pasti ada pelanggan yang rutin datang ke klub itu serta hapal siapa saja disana" ucap Hugo. "Jangan lupa pakai pengaman !"
"Yup, it's only *3**. Lumayan aku bisa menyalurkan hasr@tku supaya tidak pusing..." cengir Larry.
"Terserah kamu tapi tetap sedia pengaman ! Aku tidak mau kamu kena herpes, sifilis atau parah lagi HIV/AIDS. "
***
Apartemen Thea
Thea melepaskan sepatunya dan mengganti nya dengan sandal rumahnya yang empuk. Gadis itu menyalakan lampu ruang tengah dan dapur lalu mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas.
Thea lalu menyalakan televisi dan mulai mencari Spotify di program android nya. Setelah nya, lagu - lagu favoritnya mengalun dari speaker ruang tengah nya.
Gadis itu mulai mengeluarkan semua isi tasnya, ponsel, iPad, notebook, agenda lalu mengambil permen kopi favoritnya dan mulai memakannya. Suara dering ponselnya membuat Thea mengambil dan berjalan ke balkon. Disana gadis itu menerima telepon nya.
"Selamat malam Mr Melker. Apa ada yang bisa saya bantu?" sapa Thea saat tahu siapa yang menelponnya.
"Malam Miss Ramadhan. Apakah kita bisa bertemu besok untuk makan siang ?" tanya Hugo.
"Apakah ada masalah Mr Melker? Saya rasa NYPD sudah membebaskan anda dari segala tuduhan karena anda terbukti tidak bersalah atas kematian istri anda."
"Saya tahu itu Miss Ramadhan tapi ini saya ikhin membicarakan banyak hal. Saya tahu anda tahu siapa pria itu. Dan ini yang ingin saya diskusikan."
"Jadi anda tahu kalau dia adalah Jovan Malkovich?" tebak Thea.
"Maka dari itu, saya ingin berbicara dengan anda berdua, Miss Ramadhan. Saya tunggu anda di cafe One Stop di Manhattan sekitar jam makan siang. Bagaimana? Bukankah cafe itu dekat dengan kantor anda, Miss Ramadhan" ucap Hugo.
Thea hanya terdiam. "Baiklah, jam makan siang saya akan ke cafe itu. Kebetulan saya besok tidak ada urusan ke pengadilan."
"Baik. Sampai besok Miss Ramadhan."
"Sampai besok Mr Melker" balas Thea sambil mematikan panggilannya.
Gadis itu tersenyum smirk. Ternyata perasaan aku benar. Kamu mengenal pembunuh nya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️