If You Met Me First...

If You Met Me First...
Closure



Ruang Kerja Thea Ramadhan


Hugo menatap gadisnya yang sibuk membereskan semua barang bawaannya. Tampaknya Thea sedang tidak ingin membicarakan soal keputusan Nelson mencopot gadis itu menjadi pengacara nya. Hugo tahu, mau dia adu debat dengan Nelson pun, dirinya memang sudah dalam posisi mempersulit Thea meskipun Nelson akhirnya mengijinkan tetap menjadi pengacaranya.


Suara ketukan di pintu membuat Hugo menoleh dan tampak Phoenix Hamilton, sepupu jauh Thea, berdiri disana.


"Mr Melker, Phoenix Hamilton" salam Phoenix sambil menghampiri Hugo.


"Nice to meet you, Phoenix. Tidak apa aku memanggilmu seperti itu kan?" balas Hugo sambil bersalaman dengan pria bermata biru itu.


"Thea, apa jadi ke gedung FBI?" tanya Phoenix.


"Jadi, P. Kita berangkat sekarang? Bang Omar sudah ready." Thea menyampirkan tas Louis Vuitton nya lalu berjalan menghampiri kedua pria itu usai membereskan mejanya.


"Yuk berangkat. Pakai mobilku saja" ucap Phoenix biar sekalian keluar karena habis dari gedung FBI, aku akan langsung ke klien lain. Kalian apa aku drop makan siang dimana gitu ya?"


"Gitu saja Phoenix. Aku dan Thea gampang, taksi atau Uber juga banyak. Santai saja. Kamu tidak keberatan kan Thea ?" Hugo menoleh ke arah gadis yang berjalan di sebelahnya.


"No problemo sih kalau aku" jawab Thea.


"Oke. Kalau begitu, masalah terpecahkan" senyum Phoenix.


***


Gedung FBI Federal Plaza Manhattan New York


Omar Zidane tersenyum saat melihat tamu-tamunya datang ke kantornya. "Selamat datang semuanya. Mr Larry Hughes, aku kira anda tidak bisa datang" sapa Omar ke manager Hugo.


"Aku harus bisa pergi diam-diam bukan Agen Zidane? Karena jika tidak, aku akan menjadi incaran mereka semua apalagi ada yang melaporkan aku lah yang mengambil permen karet di tong sampah." Larry Hughes tersenyum ke arah Omar Zidane.


"Anda benar. Mari, kita ke ruang meeting" ajak Omar sambil memencet tombol lift.


Thea hanya diam saja membuat Omar melirik ke arah iparnya yang tampak tidak bersemangat.


"Kamu baik-baik saja, Thea?" tanya Omar ke gadis itu.


"Hah? Oh, aku baik-baik saja bang. Don't worry" jawab Thea sambil tersenyum.


Omar hanya mengangguk karena tahu jika ada hubungan spesial antara Thea dan Hugo. Pria jangkung itu menatap Hugo yang tampak concern ke Thea.


Benar - benar hubungan yang complicated. Omar menghembuskan nafas panjang karena dirinya akan memberikan berita yang tidak mengenakan pada Hugo.


Pintu lift pun terbuka dan semua orang keluar mengikuti Omar yang sudah berjalan lebih dahulu. Phoenix melihat Maggie yang sedang menelpon lalu tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya membuat agen FBI itu mendelik judes karena tidak mau hubungan mereka tercium oleh para rekan kerjanya di gedung Federal.


Sudah enam bulan ini Phoenix dan Maggie berpacaran bermula dari pertemuan di pesta pernikahan Bayu dan Ajeng, mereka mengobrol dan saling cocok. Maggie tidak perduli jika Phoenix lebih muda darinya karena mereka berdua cocok. Dan setelah beberapa kali berkencan diam - diam, mereka memutuskan untuk berpacaran.


Rombongan itu pun masuk ke dalam ruang meeting dan mengambil tempat duduk yang sudah disediakan. Tak lama Billy Boyd pun bergabung dengan mereka.


"Selamat pagi" sapa Billy.


"First of all, kami sudah menangkap pembunuh Salsabila Melker" ucap Billy Boyd. "Mr Larry Hughes yang membantu kami selama tiga hari libur itu untuk menangkap semua orang."


Thea dan Hugo melongo. "Seriously?"


"Yup. Kami harus bergerak cepat, Mr Melker karena mereka hendak kabur ke Belgrade Serbia. Karena Jovan Malkovich dan Lace Malkovich sudah memesan tiket pesawat kembali ke negaranya" jawab Billy.


"Karena keduanya dalam incaran interpol dan europol, jadi FBI menangkap mereka termasuk bartender si pemilik klub. Motif utama perselingkuhan, persaingan saudara dan perampokan."


Hugo menatap Billy dan Omar bergantian dengan perasaan bingung. "Bagaimana?"


"Mr Melker, mendiang Salsabila memang berselingkuh dengan Jovan Malkovich tapi adik Jovan, Lace Malkovich juga ingin bersama dengan istri anda. Rupanya dia jatuh cinta dengan Salsabila dan ingin merebutnya dari Jovan. Saat kejadian, Salsabila memang sedang menunggu Jovan di rumah anda tapi yang datang adalah Lace. Pada saat itu awalnya Lace mengajak Salsabila berhubungan intim..." Billy menahan nafasnya untuk melihat reaksi Hugo Melker.


"Lanjutkan. Toh saya sudah tidak perduli..." jawab Hugo dingin.


"Ehem..." Billy pun melanjutkan lagi. "Salsabila menolaknya karena dia tidak suka Lace. Saat itu, Lace sudah gelap mata dan kemudian dia ... Kalian tahu. Setelah Salsabila tewas, Lace mulai mencari uang atau barang berharga lainnya. Tapi seperti yang anda bilang sebelumnya, semua barang berharga anda disimpan di lemari besi yang hanya anda dan Salsabila yang tahu. Merasa tidak mendapatkan apa-apa... Lace pun pergi meninggalkan mayat Salsabila disana."


"Apakah ada bukti darah atau apapun di kamar Hugo tempat brankas itu tersimpan?" tanya Phoenix.


"Lace adalah orang yang cerdas. Dia sudah mempersiapkan semuanya termasuk baju ganti.


Usai membunuh Salsabila, dia mandi di kamar mandi tamu dan bajunya yang terkena noda darah dia simpan di duffle bag yang memang sudah dibawanya."


"Bagaimana dengan uang Salsabila? Dan bagaimana dengan perhiasan yang FBI yang dibawa saat penyelidikan kedua ?" tanya Hugo.


"Mr Melker, semua perhiasan yang anda berikan pada Salsabila, semuanya sudah diganti dengan yang imitasi delapan bulan lalu saat Salsabila bertemu dengan Jovan yang merupakan mantan pacarnya saat SMA. Semua perhiasan itu sudah dijual dan yang ada di brankas anda adalah replikanya" jawab Omar Zidane. "Kami sudah mendapatkan semua perhiasan yang asli di toko tempat Salsabila menjual. Dan sang pemilik toko pun menyimpannya karena tahu, bagaimana anda membeli nya dengan penuh cinta. Rasa sentimentil itu, membuat kami bisa melacak semuanya."


Hugo mengusap wajahnya kasar hingga Larry mengelus punggungnya karena tahu sahabatnya dalam kondisi emosi perpaduan antara marah dan kecewa.


"Uang itu digunakan untuk apa ?" tanya Phoenix Hamilton.


"Biaya organisasi mafianya di Serbia. Mereka masih beroperasi di sana tapi karena pergerakannya mendapatkan pengawasan dari pihak pemerintah Serbia, mereka membutuhkan biaya tambahan dan Jovan berhasil merayu Salsabila untuk memanfaatkan kebaikan anda, Mr Melker" jawab Billy yang merasa kasihan dengan Hugo. Kepercayaan dan Kesetiaannya harus dibayar dengan pengkhianatan.


"Apakah semua bukti sudah ada?" tanya Larry.


"Sudah. Termasuk klub strip*tease yang menjadi tempat money laundry agar pendapatan nya bisa dikirim ke Serbia tanpa menimbulkan kecurigaan." Omar menatap Larry. "Intinya semua orang yang terlibat sudah ditangkap dan mereka akan menghadapi hukuman maksimal, yaitu hukuman mati. Karena Amerika tidak menolerir ******* sebab ada bukti organisasi Jovan akan membuat ulah disini. DA Marisol Braga akan sangat senang menuntut mereka dengan pasal berlapis."


Hugo hanya menatap arah jendela.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️