
Cottage tempat Hugo dan Thea menginap...
Thea menatap pria tampan di hadapannya sambil memberikan mug berisikan teh panas ke Hugo. Keduanya hanya dipisahkan dengan meja bar dan Thea mengambil kursi untuk duduk berhadapan dengan Hugo.
"Anda mau bicara soal apa, Mr Melker?" tanya Thea sambil memegang mug nya.
Mata coklat Hugo menatap mata coklat Thea. "Thea, stop panggil saya dengan resmi."
"Tapi..."
"Thea, please?"
Thea akhirnya mengangguk. "Anda mau bicara soal apa... Hugo?"
Hugo tersenyum. "Mau membicarakan tentang aku dan kamu."
Thea melongo. "Saya dan anda?! Ada apa?"
"Apa kamu tahu ... Aku sudah tertarik padamu." Mata Hugo menatap lurus ke Thea membuat gadis itu terkejut dan pipinya memerah.
"Tapi... Anda kan.."
"Apa? Istriku baru meninggal sebulan lalu? Lalu kamu merasa tidak pantas kalau aku memiliki perasaan sama kamu?"
"I...iya. Bagaimana pun, anda kan klien saya. Dan saya tidak mau jika terjadi bias pada saat kita tahu siapa yang membunuh istrimu... Secara etika, saya harus profesional... Dan pergi dengan anda sekarang itu sudah melanggar prinsip saya ..." jawab Thea.
Hugo menyesap teh nya. Dia tahu bahwa di balik wajah cantik Thea, tersimpan sifat keras kepala disana. Setelah meletakkan mugnya, Hugo menghampiri Thea dan berlutut di depan gadis itu.
"Thea, jika semuanya sudah selesai dan pembunuh Bila sudah dihukum serta aku bukan klienmu lagi, apakah kamu memikirkan perkataan ku tadi?" tanya Hugo sambil memegang tangan Thea.
"Hugo, apa kamu yakin? Bukankah kamu tahu siapa keluarga besar aku?" Thea menatap ragu ke Hugo.
"Apa kamu tidak ada perasaan padaku?"
Thea hanya menghela nafas panjang. "Bohong jika aku tidak tertarik dengan anda..."
"So?"
"Kamu harus tahu posisi aku, Hugo. Aku adalah junior partnership Blair and Blair Advocate dan aku tidak mau Oom Travis dan Mas Nelson menganggap aku tidak bisa profesional..."
Hugo memberanikan diri mengikis jarak antara dirinya dan Thea. "Kamu sangat profesional, Thea..."
"Tapi kalau begini tidak profesional, Hugo..." bisik Thea.
"Kita tidak sedang dalam ruang kerja kamu atau ruang sidang atau pun ruang meeting, Thea.." Wajah Hugo semakin dekat dengan wajah Thea membuat gadis itu sedikit memundurkan tubuhnya tapi dia lupa. Kursi bar itu tidak ada sandaran punggungnya dan gadis itu nyaris terjengkang jika kedua tangan kekar Hugo dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Thea mencengkram kemeja Hugo dan nafasnya tampak terengah karena terkejut hampir jatuh.
"Jangan... Membuat saya ... Kaget..." bisik Thea dengan pipi memerah karena wajah tampan Hugo sangat dekat dengannya.
"Kamu hampir saja celaka..." bisik Hugo.
"Salah siapa coba?"
"Salahku..." senyum Hugo. "Maaf tapi yang ini aku tidak akan minta maaf, Thea..." Bibir Hugo mencium bibir Thea yang sedikit terbuka. Gadis itu terkejut karena duda ini berani menciumnya dan Thea terhanyut dengan permainan bibir serta lidah Hugo di dalam mulutnya.
Hugo mengetatkan pelukannya dan tangan Thea pun merangkul leher pria itu. Entah berapa lama keduanya saling berciuman sampai akhirnya Hugo melepaskan pagu*tannya.
"See Thea... We have the same feeling..." bisik Hugo sembari menempelkan keningnya di kening Thea.
"Aku... Hanya terbawa suasana... " jawab Thea dengan nada gemetar.
Hugo tersenyum lalu mencium kening gadis itu. "Suasana yang indah..."
"Ini bukan nafsu Thea, ini cara aku membuat kamu tahu bahwa aku sayang sama kamu..." Hugo memegang wajah Thea yang sudah memerah macam kepiting rebus. "Kamu... Belum pernah pacaran?"
Thea menggelengkan kepalanya pelan.
"Ciuman?"
"Ka...mu yang pertama..."
Hugo melongo. "Serius? Tapi bagaimana kamu bisa membalas ciuman aku seperti itu?"
"Hasil nonton drama Korea..." jawab Thea malu-malu.
Hugo terbahak dan memeluk Thea erat. "Suatu kehormatan buat aku mendapatkan ciuman pertama kamu... " Dan aku tidak akan melepaskan kamu sampai kapanpun Thea karena aku sudah jatuh cinta padamu sebenarnya.
"Hugo... Kita tunggu sampai kamu benar-benar bersih namanya ya. Aku ingin kasus kamu selesai... Baru kita memikirkan langkah apa yang harus kita ambil..." Thea menatap serius.
"Kamu pasti sudah tahu kan itu DNA siapa?" tebak Hugo sambil menatap Thea serius.
"Biar itu ranah bang Omar ... Seperti aku bilang..."
"Kamu takut terjadi bias kan?" potong Hugo. "Aku paham Thea. Aku mempersulit kamu ya, sayang?"
"Lumayan..." Hugo mencium bibir Thea lagi.
"Kamu tahu, aku tidak bosan mencium bibirmu..."
"Apakah kamu sudah tidak pernah memikirkan istrimu...?" tanya Thea yang sebenarnya tidak mau bertanya tapi dirinya penasaran.
"Setelah tahu dia berselingkuh... Semua rasaku padanya langsung hilang tidak berbekas Thea. Bayangkan, aku yang berusaha tetap setia sesibuk apapun dengan banyak godaan para pembaca ku, aku yang malah diselingkuhi oleh Bila. Istriku sudah bekas orang lain, Thea. Dan aku tidak bisa menolerir akan hal itu. Sebagai suami, harga diriku tidak ada artinya Dimata Bila jadi saat tahu dia seperti itu, aku sudah tidak ada perasaan apapun..." jawab Hugo tegas. "Dan aku sudah bertekad jika suatu saat aku mendapatkan wanita yang membuatku jatuh cinta lagi, aku berharap dia setia padaku seperti halnya aku akan setia padanya seumur hidupku..."
Thea menatap wajah Hugo yang tampak serius. "Dan kamu merasa akulah wanita itu?"
"Yes Thea. Apalagi aku adalah yang pertama bagimu dan aku tidak mau kamu jauh dariku... Dan kamu adalah gadis yang punya prinsip bahwa kamu tidak akan melakukannya sebelum menikah. Benar?"
Thea mengangguk. "Kami semua mau pria atau wanita di keluarga Pratomo memang sudah diwanti-wanti untuk selalu menjaga kehormatan kami..."
Hugo tersenyum. "Keluarga kalian memang patut menjadi panutan..."
"Hugo... Bolehkah aku tidur... Jujur aku lelah. Apalagi dengan banyaknya kejadian yang membuat aku terkejut..." pinta Thea.
Hugo tersenyum. "Kamu pasti memikirkan banyak hal ya? Thea, just enjoy it. Jangan terlalu dipikirkan... Kita ikuti arus saja..."
Thea tersenyum. "Maybe. Aku tidur dulu..." Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Hugo. "Good night" ucapnya sambil mengelus pipi Hugo yang ada brewok disana.
Hugo mencium tangan Thea. "Good night Thea."
Gadis itu pun masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Hugo tersenyum karena tahu, Thea takut dirinya khilaf.
Setelahnya Hugo pun mengunci pintu cottage dan masuk ke dalam kamar tidurnya. Keduanya sama-sama membersihkan diri dan sama-sama meletakkan tubuhnya diatas kasur.
Mata keduanya sama-sama masih nyalang dan tersenyum jika mengingat bagaimana ciuman mereka berdua.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️