If You Met Me First...

If You Met Me First...
Buat Apa Beli?



Boston Massachusetts


Apsarini dan Shane tampak asyik berjalan - jalan di sebuah pusat perbelanjaan kota Boston. Keduanya sudah sepakat untuk membeli rumah karena sebelumnya baik Shane maupun Apsarini tinggal di apartemen. Shane ingin mereka tinggal di rumah, bukan di apartemen dan mereka baru saja menyelesaikan pembayaran pembelian rumah di area yang sangat aman dan bagus untuk calon pengantin baru seperti mereka.


"Kan barang-barang macam tempat tidur dan perabotan lainnya bisa kita kompromikan, Sari. Mau dibawa dan dipakai yang mana. Kalau tidak terpakai, bisa disimpan atau didonasikan" ucap Shane ke Apsarini yang sedang memilih seprai.


"Oke. Kan kamarnya ada tiga, jadi kasur baru fi kamar utama, kasur kamu di kamar tamu satu, kasur aku di kamar tamu dua. Gimana? Jadi yang baru kan hanya kamar kita saja Shane..." senyum Apsarini sambil memasukkan beberapa seprai baru dan bantal baru.


"Good idea. Apalagi rumahnya juga masih kosong" timpal Shane. "Ada yang perlu kita rubah nggak?"


Hari ini mereka memang berencana boyongan ke rumah baru karena rencana usai menikah di Maine bulan depan, mereka akan langsung menempati rumah idaman keduanya.


"So far nggak tapi aku minta area basement dibuat agak terang, begitu juga area loteng. Aku selalu terbayang-bayang film horor kalau gelap ... " gumam Apsarini membuat Shane tertawa.


"Itu rumah baru, Sari. Beda cerita kalau rumah sudah puluhan tahun, maka akan terasa suasana horornya. Ini kan rumah baru dan belum ada enam bulan berdiri..." kekeh Shane sambil memeluk gadisnya yang ternyata takut hantu.


"Aku bukan macam Tante Freya yang dengan cueknya pergi ke tempat-tempat horor dan mencari penampakan. Aku lebih memilih untuk tidak bertemu dengan mereka deh..." ucap Apsarini.


"Tante mu itu memang nyeleneh..." senyum Shane.


"Super nyeleneh !" timpal Apsarini. "Kamu beli apalagi?"


Shane melihat sekelilingnya dan melihat belanjaan Apsarini. "Kayaknya sudah semua deh. Habis ini kita makan siang dan pulang ke rumah."


Keduanya berjalan menuju kasir dan Shane membayar semua belanjaan Apsarini.


***


Manhattan New York


Thea dan Hugo menikmati makan siang mereka di sebuah restauran Italia. Hugo tampak bersemangat bercerita tentang pengalaman nya pergi menemui Adrian dan Lovisa di Stockholm, Stefan di Coventry dan Arya serta Amberly di Jakarta.


"Aku tahu keluarga kamu lebih banyak berkecimpung di dunia otomotif tapi aku tidak menyangka mereka menempati jabatan yang cukup tinggi" ucap Hugo.


"Apakah kamu merasa minder?" tanya Thea.


"Nope. Aku malah senang bisa melihat pabrik Koenigsegg dan Land Rover. Kamu kalau dijejerkan dengan Stefan, tidak mirip tapi kalau tertawa ataupun tersenyum, baru kelihatan miripnya" komentar Hugo.


"Iya kah?"


Hugo mengangguk. "Kalau begitu baru kelihatan kembarnya kalian..."


"Bagaimana dengan Daddy dan Mommy serta Opa dan Oma?"


Hugo tersenyum. "Apakah kamu tahu Thea, mommy mu dan Oma mu adalah fans novel aku?"


Thea terkejut. "Iya kah? Serius?"!


Hugo mengangguk. "Aku malah dimarahi Omamu karena membuat beliau salah tebak siapa yang membunuh. Habis aku kena keplak omamu... "


"Alhamdulillah sehat dan dilarang mendekati kompor..."


Thea terbahak. "Opa dan kompor itu memang haram hukumnya... Bagaimana dengan keluarga aku lainnya? Sudah bertemu dengan siapa saja di Jakarta?"


"Aku bertemu dengan semua sepupu priamu sebab kamu tidak ikut jadi sepupu perempuan kamu tidak ikut. Dan kamu tahu, mereka lebih seram daripada aku diinterogasi oleh NYPD ataupun FBI."


Thea menatap Hugo dengan tatapan kasihan. "Memang seperti itulah mereka..." cengir gadis itu. "Mereka apain kamu?"


"Mereka bertanya sejak kapan aku jatuh cinta sama kamu, apa aku masih ingat Bila, aku sudah move on belum dan pertanyaan lainnya yang jauh lebih teliti di bandingkan dengan pertanyaan Omar Zidane dan Billy Boyd. Terus apakah aku akan mengekang kamu bekerja atau tidak..."


"Jawaban kamu?" mata coklat Thea menatap kepo ke Hugo.


"Jelas aku tidak mengekang kamu bekerja, karena menjadi pengacara adalah passion kamu. Kecuali kamu sendiri yang memutuskan untuk berhenti, maka itu lain cerita..." jawab Hugo lugas. "Lagipula, aku masih sanggup untuk memberikan nafkah lahir sesuai dengan standar kamu. Uang yang kamu miliki adalah milik kamu. Aku akan bertanggungjawab sama kamu dan kalau perlu kamu buat perjanjian pra nikah untuk memisahkan harta mu dan hartaku... "


Thea mengerenyitkan dahinya. "Apakah kamu dulu juga melakukan hal yang sama dengan almarhum?"


"Honestly, iya. Entah mengapa saat itu aku ingin melakukan perjanjian pra nikah. Dan otomatis gugur kan karena Bila meninggal..." jawab Hugo.


"Sekarang aku mau tanya. Kamu mau membuat perjanjian pra nikah dengan aku itu isinya apa? Apakah kamu merasa kita akan berpisah suatu saat nanti?" Thea menatap serius ke arah Hugo.


"Bukannya aku berharap kita berpisah, Thea, tapi lebih mempertegas secara legal dan hukum perdata bahwa semua harta yang kamu bawa sebelum menikah denganku, aku tidak berhak utak Atik tapi hartaku, kamu berhak mendapatkan nya... Karena kamu adalah istriku dan aku mencari nafkah untukmu, Thea, dan kamu berhak mendapatkan semuanya..." jawab Hugo membuat Thea melongo.


"Kamu dapat bonus, dapat gaji, dapat warisan misalnya, aku tidak akan minta dan tidak akan ikut campur dengan finansial kamu. Itu milik kamu, celengan kamu. Tapi, uang yang aku hasilkan, kamu berhak dan wajib menggunakan dan aku yakin kamu bukan tipe wanita yang boros" sambung Hugo lagi.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Thea.


"Bagi orang yang sudah lahir dari keluarga Old Money dan terbiasa dengan sendok emas... Mereka sudah biasa melihat dan memiliki barang branded entah mereka dapatkan dari beli sendiri atau hadiah atau malah lungsuran dari keluarganya. Macam tas Hermès kamu ini... Yakin ini milik mommymu kan?" Hugo mengedikkan dagunya ke tas Birkin milik Thea.


"Bagaimana kamu tahu?" Thea tidak menyangka Hugo bisa menebaknya.


"Sayang, aku tahu karena dulu saat Bila ulang tahun, aku belikan Hermès. Dan saat aku melihat katalog, tas mu ini adalah limited edition... Saat itu sudah berusia hampir sepuluh tahun kan?" senyum Hugo.


"Iya punya mommy. Mommy dan Oma punya banyak koleksi tas berbagai brand dan saat aku lulus pengacara, mereka tanya mau dibelikan apa... Aku hanya minta tas Birkin punya mommy. Dan jadilah aku pakai Birkin limited edition meskipun usianya sudah lama."


"Mau tas lama tapi karena Hermès, akan berbeda. See, kamu malah memilih tas yang sudah ada daripada beli baru. Itulah yang aku suka dari kamu Thea. Kamu memilih praktis nya bukan malah memboroskan uang untuk barang - barang yang di rumah kamu juga ada..." senyum Hugo.


Thea tampak tercenung. Iya ya, aku malas beli ... Buat apa beli kalau di rumah mommy dan Oma berderet tas branded ?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️