
Restauran Rusia Halal di Area Queens
Hugo menelan salivanya susah payah karena dirinya memang menyelidiki Thea Ramadhan, gara-gara bukan Nelson yang membelanya karena pengacara kondang itu sedang menangani klien yang lebih rumit.
"Nelson yang bilang. Karena aku pernah bertanya kenapa kalian berbeda kulitnya. Kamu hampir mirip dengan beberapa suku di Rusia. Rupanya ibumu yang memiliki kulit eksotis meskipun orang Swedia dan separuh Skandinavia" jawab Hugo akhirnya.
"Ternyata anda kepo juga ya Mr Melker..." senyum Thea sinis.
"Hei, aku harus tahu siapa pengacara aku bukan? Apakah Nelson memberikan pengacara yang cakap dan pintar tidak..."
"Dan ternyata...?"
"Dan ternyata, kamu memang pantas menjadi bagian Blair and Blair Advocate, Thea."
Thea menatap wajah Hugo seolah mencari sesuatu yang membuatnya bisa membuatnya berdebat dengan kliennya.
"Apakah itu benar Mr Melker? Anda bertanya dengan mas Nelson dan tidak menyelidiki nya sendiri?" Thea meletakkan wajahnya diatas tangannya. "Mr Melker, saya memang baru sebentar menjadi pengacara anda, tapi saya harap anda berbicara jujur... Saya lebih suka anda berkata apa adanya."
Hugo tertawa. "Kamu memang gadis cerdas, Thea. Oke, aku minta maaf. Aku memang bertanya pada Nelson tapi aku juga menyelidiki sendiri siapa dirimu. Maafkan aku Thea."
Thea mengangguk karena dirinya lebih suka Hugo berbicara apa adanya.
"So, saudara kembar kamu di Inggris?" tanya Hugo setelah mereka kedatangan main course.
Thea yang melihat porsi daging yang mirip kebab itu sangat besar, hanya menatap bingung ke arah Hugo. "Ini bukan daging sapi kan?"
Chicken Shashlik
"Bukan, Thea. Ini ayam."
"Macam chicken tandoori India." Thea tampak menyelidiki makanan di hadapannya.
"Sengaja aku pesan ayam supaya lebih banyak... " Hugo menatap Thea yang sibuk menyelidiki makanan itu. "Kamu kenapa Thea?"
"Melihat makanan ini. Tampaknya enak..." gumam Thea.
"Yuk dimakan..." Hugo memotongkan shashlik itu dan meletakkan diatas piring Thea.
Gadis itu tersenyum lalu memakannya. "Hhhmmm... Enak! Aku belum pernah makan makanan seenak ini ..."
"Kamu suka?"
Thea mengangguk. "Aku dan keluarga aku sangat suka makan makanan enak. Kan seperti aku bilang tadi selama halal, bukan makanan dari bahan aneh-aneh dan exotic, aku masih bisa memakannya."
Hugo mengangguk. "Thea. Apakah kamu ada kecurigaan lain selain JM?"
"Bang Omar dan Bang Billy sudah kesana sebelum Mr Hughes. Dan bagi mereka semua, semuanya mencurigakan. Tapi kalau perasaan aku, JM memang berselingkuh dengan Mrs Melker tapi sepertinya bukan dia pembunuhnya."
Hugo terkejut. "Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Jika memang tujuannya membalas dendam ke anda, Mr Melker... Pasti dia akan menyerang anda secara langsung, dan setelah anda tewas, Mrs Melker dan harta kekayaan anda, bisa dikuasai oleh JM. Kalau hanya membunuh Mrs Melker, dia tidak mendapatkan apa-apa, hanya anda yang kehilangan istri anda. Tapi saya yakin, anda pun akan bisa move on dari kasus ini sebab ada kemarahan pada diri anda merasa dikhianati oleh istri anda... Itu argumen saya, Mr Melker." Thea menatap Hugo serius.
Hugo tampak berpikir. "Bisa jadi argumen kamu benar Thea. Jika memang dia dendam padaku saat kejadian saat aku masih menjadi tentara dan aku lah orang yang membuatnya terpojok sebelum bangunan itu hancur, pasti dia akan menyerang aku secara frontal..."
"Tapi yang dibunuh malah istri anda" ucap Thea sambil memasukkan daging ayam itu ke dalam mulutnya.
"Memang siapa lagi yang kamu rasa pelakunya?"
"Pemilik klub."
Hugo terkejut. "Bagaimana bisa kamu berpikiran ke sana ?"
Hugo mengangguk. "Sebaiknya kita menunggu hasil test DNA yang dilakukan FBI dan jika sudah mendapatkan, aku tarik Larry dari sana."
***
Hugo mengantarkan Thea kembali ke apartemennya di Manhattan, bahkan ikut masuk ke dalam gedung lima lantai itu.
"Apakah ada keluarga kamu yang tinggal di gedung apartemen ini?" tanya Hugo saat bersama Thea di dalam lift. Apartemen Thea berada di lantai lima.
"Tidak ada. Tapi Mas Bayu sekeluarga tinggal di lima gedung dari apartemen ku. Oom Travis sekeluarga di seberang lebih dekat dengan Central Park."
"Kenapa kamu memilih apartemen disini, Thea?" tanya Hugo yang melihat apartemen itu tampak tipikal apartemen modern untuk lajang profesional.
"Lebih dekat dari kantor. Aku tinggal berjalan kaki, tidak harus keluar uang buat transportasi dan lagipula, aku terbiasa di Stockholm untuk berjalan kaki. Apalagi semenjak bekerja, aku nyaris jarang ke Gym jadi caraku berolahraga ya begini" senyum Thea.
Hugo melirik ke arah gadis yang tingginya hampir sama dengan dirinya padahal Thea hanya memakai sepatu kerja tiga Senti. Hugo tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 178 cm dan dia memperkirakan Thea sekitar 170-172 cm.
Pintu lift pun terbuka dan keduanya keluar lalu menuju unit apartemen milik Thea yang berada dekat lift.
"Terimakasih Mr Melker, sudah mentraktir saya makan malam yang enak dan lezat." Thea menatap Hugo sebelum membuka pintu apartemennya.
"Kamu tidak mengajak saya masuk, Thea?" tanya Hugo.
Thea menggelengkan kepalanya. "Maaf Mr Melker, tapi ini sudah malam dan saya masih harus bekerja pagi besok."
Hugo mengangguk dan bisa melihat perbedaan Thea dengan Salsabila. Saat kencan pertama malah dirinya dan Salsabila sudah langsung melakukan hubungan intim sedangkan gadis di hadapannya ini, tetap menjaga marwahnya.
Memang berbeda... Classy dan biasa.
"Baiklah Thea. Aku rasa kita harus sering-sering menikmati acara kuliner seperti ini" senyum Hugo.
Thea memicingkan matanya. "Kenapa anda meminta saya ..."
"Kamu suka makan dan wisata kuliner kan?"
"Iya... Tapi..."
"Good ! Kita harus buat jadwal Thea. Ada kalanya kita harus menikmati hidup agar tetap waras dan bisa move on. Aku butuh itu ! Dan orang yang ingin aku ajak adalah kamu !" jawab Hugo tegas.
Thea hanya bisa tercengang mendengar ucapan kliennya.
Ini nggak benar ! Sangat tidak profesional meskipun kami melakukannya di luar jam kantor. Aku tertarik dengan mu, Hugo tapi ini nggak pas!
"Mr Melker..."
"Hugo."
"Mr Melker, saya tahu anda dalam kondisi lost dan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya tapi... Apa anda ingat bahwa tanah makam Mrs Melker masih basah? Bagaimana jika ada wartawan melihat dan membuat tajuk anda dengan saya? Bukankah akan menjadi ramai dan membuat penyelidik mendapatkan angin segar untuk mengulik lagi latar belakang kasus anda? Saya bisa dilarang membela anda karena adanya bias disana." Thea menatap serius ke kliennya meskipun dadanya terasa ngilu karena dirinya senang pergi dengan Hugo.
Hugo mengusap wajahnya kesal.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️